HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 35 CARI WANGSIT


__ADS_3

Tania dan Rendi tiba di rumah paman Tania selepas maghrib. Karena tadi Rendi berhenti untuk membeli martabak telor dulu. Buat oleh-oleh paman dan bibinya Tania, katanya.


"Assalamualaikum. Met malam Tante, Om," sapa Rendi.


"Waalaikumsalam."


Eni merasa lega, akhirnya Tania pulang juga.


"Bibi mau kemana, kok sudah rapi?" tanya Tania.


"Mau...mau keluar sebentar tadi. Tapi gak jadi," sahut Eni berbohong. Padahal dia dan Danu sudah siap-siap untuk mencari Tania ke rumah Rendi.


Muka Danu masih asem saja meski Tania sudah pulang.


"Bi, ini ada martabak telor. Tadi Rendi yang beliin di jalan."


Tania menyerahkan bungkusan martabak kepada Eni.


Danu hanya melirik sekilas. Meski itu adalah makanan kesukaannya, tapi dia jaim.


"Tania, aku pulang dulu ya. Sebentar lagi mamaku pulang. Dia pasti nyariin aku," ucap Rendi pada Tania.


Tania mengangguk. Rendi juga pamit pada Eni dan Danu yang masih pasang muka asem.


"Saya pamit Om, Tante."


Rendi segera keluar dari rumah Danu. Tania mengantarnya sampai ke mobil.


"Besok sore aku akan jemput kamu. Kamu dandan yang cantik ya. Kan mau ketemu calon mertua. Aku usahakan biar papaku juga bisa datang," ucap Rendi. Lalu mengacak rambut Tania dan segera masuk ke mobilnya.


Tania kembali masuk ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Besok dia akan bertemu mamanya Rendi.


"Darimana saja kamu?" tanya Danu ketus.


Padahal Eni sudah membuka martabaknya, agar Danu bisa agak cair melihat makanan kesukaannya.


"Dari rumah Rendi, Paman," jawab Tania.


"Kenapa hape kamu tidak aktif? Kamu tau, kami khawatir!" ucap Danu masih ketus saja.


Tania segera memutar otaknya.


"Hapenya lowbath, Paman."


Tania bersyukur dia masih menonaktifkan hapenya.


"Kamu itu. Besok gak ada acara pergi-pergi lagi. Apalagi sama Rendi. Kamu sudah harus dipingit!" Danu masih saja ngomel.


"Sudahlah, Pak. Jangan marah-marah terus. Tanianya juga sudah pulang, kan?"


Eni berusaha meredakan emosi suaminya.


"Ini dimakan dulu, mumpung masih panas. Kayaknya enak, Pak. Tebal banget. Ini pasti yang telornya empat."


Eni mengiming-imingi suaminya biar teralihkan emosinya.


Danu mengambil satu potong, dan memakannya langsung. Belum habis yang di mulut, dia sudah mencomot lagi.


Eni tidak protes seperti biasanya. Sekarang yang penting suaminya tidak ngomel lagi.


"Pak. Kalau kita besok pas acara pakai baju batik yang kita beli di tokonya bu Sari, dia pasti bangga ya Pak?"


Eni mulai mengalihkan pembicaraan.


"Bangga bagaimana?" tanya Danu masih terus mencomot martabak telornya.

__ADS_1


Ingin rasanya Eni menepok tangan Danu biar berhenti. Tapi demi menjaga emosi suaminya, dia tahan keinginannya.


"Ya banggalah. Kita pakai batik yang beli di tokonya."


Lalu Eni ikut mencomot martabak itu sebelum benar-benar dihabiskan suaminya.


"Bibi beli batik di pasar?" tanya Tania penasaran. Karena Rendi bilang mamanya punya toko batik di sana.


"Iya. Di toko batik terbesar di sana. Dan kamu tau tidak? Pas kita pesan catering untuk pernikahanmu, Bibi ketemu dengannya."


"Terus?" tanya Tania yang yakin kalau itu adalah toko batik mamanya Rendi. Dan jangan-jangan yang ketemu dengan bibinya adalah mamanya Rendi juga.


"Dia orangnya sangat baik. Terus kita ngobrol, dan Bibi mengundangnya di acara nikahan kamu," jelas Eni dengan berapi-api.


Cleguk. Tania menelan ludahnya.


Eni mengambil potongan terakhir martabak lalu memakannya dengan cabe.


"Huhaah...Pedas banget cabenya."


Eni berlari ke belakang, mengambil air putih dari kulkas.


"Sekalian ambilkan aku juga!" seru Danu.


Eni kembali lagi ke ruang tamu, dan menyerahkan botol minumnya pada suaminya.


"Nih!"


Danu menerima dan langsung menenggak habis.


"Eeegh...! Kenyang sekali aku." Danu mengelap mulutnya dengan ujung lengan kaosnya.


"Apa dia mau datang, Bi?" tanya Tania.


"Ya dia bilang sih begitu. Dia itu di sana lagi pesan catering juga. Katanya besok sore mau mengadakan acara kecil di rumahnya. Anaknya yang baru lulus SMA mau ngenalin calon istrinya."


Eni yang masih kepedesan, mengambil botol minum yang sudah kandas isinya.


"Yaelah, abis! Bukannya disisain!" Eni mulai ngomel.


"Ambil lagi kan bisa. Tania, tuh bibimu ambilin minum!"


Tania berjalan ke dalam mengambilkan botol minum lagi buat bibinya.


Aduh, bagaimana ini. Mamanya Rendi kenal dengan bibi. Dan bibi akan mengundangnya. Bisa jadi Rendi yang akan mengantarkannya. Aku harus bilang ke bibi, biar bibi membatalkan undangannya.


"Tania! Lama banget sih? Kayak ambilnya di Arab!" seru Eni yang masih merasakan pedas di lidahnya.


Tania buru-buru menghampiri bibinya dan menyerahkan botol minum lain.


"Beruntung banget ya, anak yang akan jadi menantunya bu Sari. Katanya nanti kalau sudah nikah, akan dibukakan toko batik juga."


Eni masih saja membanggakan teman barunya.


"Bi...."


"Iya. Kenapa?" tanya Eni menatap wajah keponakannya.


"Bu Sari itu..." Tania menunduk.


"Bu Sari itu juragan batik di pasar," sahut Eni.


Danu masih asik dengan rokoknya.


"Iya, Tania tau. Maksud Tania, bu Sari itu mamanya...Rendi."

__ADS_1


Suara Tania seperti tercekat di tenggorokan.


"Dan...calon menantu yang akan dikenalkan Rendi besok pagi, adalah...Tania."


Danu dan Eni spontan melongo.


"Haahh...!" Teriak mereka bersamaan.


"Serius kamu?" tanya Danu.


"Iya, Paman. Rendi yang merencanakan acara penyambutannya besok malam," sahut Tania.


"Aduh, Pak. Aku kayaknya mau pingsan ini!" ucap Eni. Dia pegangan pada sisi kursi.


"Berarti kamu harus membatalkan undangannya, Bu," ucap Danu.


"Bagaimana cara membatalkannya? Aku tidak punya nomor hapenya!"


Eni mulai panik.


"Kamu kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin kalau Rendi itu anaknya bu Sari?" tanya Eni.


"Tania juga baru tau tadi."


"Kamu beneran tadi dari rumah Rendi?" tanya Eni lagi.


"Iya."


"Terus kamu ketemu bu Sari?"


"Mamanya Rendi masih di pasar. Belum pulang," jawab Tania.


"Terus acara besok bagaimana?" tanya Eni.


"Batalkan! Nanti malah bikin masalah semakin runyam!" seru Danu.


"Tapi, Paman..."


"Kamu harus menjelaskan secepatnya pada Rendi!" ucap Danu.


"Bu Sari sudah pesan catering lho, Pak!" Eni berfikir sayang amat kalau cateringnya kebuang.


"Tapi nanti malah akan semakin menambah masalah buat Tania!" ucap Danu.


"Aduh, bagaimana ini?" Eni semakin panik.


"Ya sudah. Nanti aku yang akan mikir. Masih ada waktu sampai besok."


Danu hendak keluar rumah.


"Pak! Kamu mau kemana?" tanya Eni.


"Cari wangsit!" ucap Danu tanpa menoleh lagi.


"Bi, bagaimana ini?" tanya Tania ikut panik juga.


"Tunggu pamanmu dapat wangsit," sahut Eni lalu masuk ke kamarnya.


Tania bengong sendirian. Dia bingung bagaimana cara ngomongnya ke Rendi.


Aku yang telah menanam, maka aku juga yang akan menuai hasilnya. Tania jadi ingat pepatah yang pernah di pelajarinya saat sekolah dulu.


Ren, maafkan aku. Andai saja aku bisa menolakmu waktu itu, pasti aku tak akan sepusing ini.


Tania masuk juga ke kamarnya. Dia tidak jadi mengaktifkan ponselnya.

__ADS_1


Tania memilih tidur sampai nanti pamannya dapat wangsit.


__ADS_2