Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 10 - Perdebatan


__ADS_3

Jangan lupa selipkan dukungan kalian ya readers yang tercinta..


selamat membaca..


\~\~\~


Di kantin, Hanif membuka laptopnya sembari menunggu Anita. Dia tidak tahu kalau Anita akan mengajak Zahra. Dan hal itu entah kenapa membuat Hanif berdegup membayangkan bertemu berdua dengan Anita lagi setelah terakhir kali sebulan lalu.


Anita datang sedikit berlari menghampiri Hanif. Kali ini Anita terlihat lebih santai dibanding Hanif.


“assalamu’alaikum, mas. Nunggu lama ya?” tanya Anita.


“wa’alaikumsalam.. kemarin bilang katanya kamu mau menungguku, ternyata aku yang menunggumu..” ucap Hanif sambil tersenyum melihat Anita.


Anita yang tengah bersiap duduk tiba-tiba terpaku mendengar perkataan Hanif. Kenapa di telinga Anita perkataan itu lebih terdengar seperti sebuah pengakuan. Dia berhasil dibuat linglung dan bingung harus bereaksi seperti apa. Hanif yang melihat reaksi Anita seketika tergelak.

__ADS_1


“bercanda, hehehe. Duduklah.” Ucap Hanif masih terkekeh kecil.


Anita segera duduk, mengambil laptopnya didalam tas dan membukanya. mencari folder kegiatan lalu membuka file Rancangan Anggaran Belanja kegiatan ramadhan tahun ini.


“minta alamat email mu, filenya akan ku kirim.” Ucap Hanif tapi tatapannya masih fokus ke laptop.


Anita menuliskan emailnya di kertas lalu menyodorkan kepada Hanif.


“mas bawa print outnya? Sekalian kita bahas satu per satu ya!” Ujar Anita.


Kenapa Zahra lama sekali sih. Anita bergumam dalam hati.


Sore itu, rintik hujan mulai turun. Zahra muncul dari kejauhan, mengusap wajahnya yang sedikit basah terkena hujan sambil melihat dari kejauhan Anita duduk di depan Hanif. Sejenak Zahra ragu sebaiknya bergabung dengan mereka atau tidak. Lalu memutuskan berjalan mendekati Anita dan Hanif.


Anita akan memukulku nanti kalau aku tidak menuruti kemauannya. Batin Zahra, membayangkan betapa ganasnya sahabatnya itu membuatnya bergidik ngeri.

__ADS_1


“assalamu’alaikum.” Ucap Zahra. setelahnya ia duduk di samping Anita, meletakkan buah tangan berupa siomay dan beberapa minuman di atas meja.


“wa’alaikumsalam” jawab Anita dan Hanif hampir bersamaan.


“huuuh, akhirnya datang kamu..” ucap Anita berbisik sambil menatap Zahra tajam, yang ditatap hanya melempar senyum terpaksa.


Sementara Hanif sedikit terkejut karena Zahra bergabung tapi kemudian bernafas lega setidaknya tidak akan terlalu canggung jika hanya berdua dengan Anita.


Mereka kemudian mulai membahas satu per satu rincian dana yang diajukan divisi konsumsi. Mulanya Hanif menjelaskan penggunaan dana tersebut, termasuk harga-harga makanan dan juga tempat pemesanannya. Beberapa menit kemudian perdebatan kecil terdengar diantara mereka. Ah, tidak. Zahra tidak ikut berdebatan itu, ia hanya sebagai pengamat dan sesekali sebagai wasit yang menengahi agar mereka tidak terlalu larut dalam perdebatan tersebut. Zahra tahu betul watak Anita yang tidak mau kalah, maka ia harus segera menengahi ketika Anita sudah mulai tidak terkendali.


Tak terasa dua jam berlalu, bahkan hujan yang sedari tadi menyaksikan perdebatan mereka juga sudah berhenti. Hampir menjelang maghrib, ketiganya sepakat menghentikan pembahasan itu.


“pembahasan kita belum selesai. Jadi aturlah waktu kapan kita membahasnya lagi. Sesegera mungkin agar aku bisa menyampaikan hasil nya kepada tim ku.” Ucap Hanif seraya berkemas, Anita dan Zahra hanya mengangguk setuju.


Mereka kemudian berpisah setelah saling mengucap salam.

__ADS_1


"aku nginep di kos mu saja ya, lupa nggak bawa mantel.." ucap Anita. Ia memutuskan menginap di kos Zahra, karena sepertinya hujan akan turun lagi dan Anita lupa tidak membawa jas hujan.


"terserah.." jawab Zahra. Sepertinya itu adalah kata pamungkas dari Zahra untuk Anita yang tidak tahu diri. hehehe


__ADS_2