Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 36 - Satu Jam Bercerita


__ADS_3

Pada bab ini, author bikin ceritanya agak panjang ya..


Please dukung author dengan like dan vote nya, juga kasih rate bintang 5 ya.. agak maksa lo ini :)


Happy reading yeorobun.. ^^


\~\~\~\~\~


Di kamar kos, Zahra menunggu dengan sabar cerita Anita. Dia tahu tujuan Anita mampir ke kos nya.


“kamu penasaran ya?” Goda Anita.


“hiisssh.. kalau mau cerita ya cerita aja, kalau nggak ya sudah. Aku juga nggak perlu tahu kok.” Zahra mencebik. Anita terkekeh melihat ekspresi Zahra.


“aku menanyakan ke mas Hanif yang kamu tanyakan padanya tadi..” ujar Anita. Zahra mengerutkan kening, mengingat kembali pertanyaan apa yang ia sampaikan ke Hanif.


“tentang foto keluarga?” tanya Zahra lalu Anita mengangguk.


“mas Hanif cerita panjang lebar tentang keluarganya, alasan mereka tidak bisa hadir dan tentang kehidupan mas Hanif.”


“terusmkenapa kamu menangis?”


“entah, aku juga tidak tahu, aku nangis begitu saja waktu denger cerita mas Hanif..” Jawab Anita. Dia sendiri tidak tahu bagaimana mendefinisikannya. Saat mendengar cerita Hanif seolah-olah Anita ikut merasakan yang Hanif rasakan. Sedih, kecewa, marah dan semua perasaan campur menjadi satu.


Apakah benar ini tandanya Anita mencintai Hanif? Bukan lagi sekedar suka, Tapi Anita sudah jatuh cinta pada Hanif?


“memang bagaimana kehidupan mas Hanif sampai membuatmu menangis gitu?” tanya Zahra lagi. ia masih sangat penasaran.


“aku tidak mungkin menceritakannya dong tanpa seizin mas Hanif.”


“ya ampun sama aku aja loh Nit. Sahabatmu, aku nggak bakal kompor deh.” Bujuk Zahra.


“no no no” telunjuk Anita bergerak ke kiri ke kanan. Anita tidak mau sembarangan menceritakan privasi orang. Anita ingin menjaga marwah mas Hanif.

__ADS_1


Setelah bercengkerama cukup lama, hari sudah semakin sore dan Anita pamit pulang. Selama di perjalanan pulang, Anita terus terbayang tentang Hanif. tentang kehidupannya yang berat, tentang dia yang sangat tegar karena berjuang tanpa kasih sayang kedua orangtuanya.


Lalu sedikit muncul rasa bangga terhadap Hanif. Kehidupannya yang pelik sudah menempanya menjadi pribadi yang kuat. Sehingga menjadikan Hanif sebagai sosok yang sangat bijak dalam menghadapi setiap masalah.


Malam hari di rumah anita. Satu pesan masuk di handphone Anita. Lalu Anita membukanya, dari Hanif.


Assalamu’alaikum. Terimakasih ya dek untuk hari ini. Aku sangat terharu berkat kalian aku tidak kesepian. aku bahagia sekali hari ini.


Anita tersenyum membaca pesan tersebut. Lalu membalas.


Sama-sama mas. Syukurlah, aku juga senang. Awalnya aku ragu, aku takut mas Hanif masih akan menghindariku. Aku tau selama hampir 8 bulan ini mas selalu menghindariku. Iya kan? Hehe.


Anita menekan tombol send. Tak berapa lama kemudian, telefon Anita berdering. Dari Hanif. Anita mengusap tombol warna hijau menerima panggilan itu.


“hehehe, jawabannya panjang ya? Makanya telefon..” gurau Anita.


“maaf ya dek..” ucap Hanif, ia meragu untuk menceritakan alasan kenapa menghindari Anita.


“kenapa minta maaf?”


Bolehkah aku kembali dekat padamu Anita. Tapi aku sendiri takut untuk mengungkapkannya. Aku tidak ingin hubungan sementara. Jika memang jodoh aku ingin bersamamu selamanya. Untuk sekarang aku akan memantaskan diri agar aku bisa bersanding denganmu. Ujar Hanif dalam hati.


“nggak ada yang perlu dimaafkan kok mas. Sepertinya aku mengerti situasi mas Hanif. kita masih berteman kan?”


“bagaimana kamu tahu situasiku?”


“kan dulu mas Hanif sudah cerita, mas dikhianati sama calon istri mas sendiri bahkan orang tuanya. Mas Hanif masih trauma kan dekat dengan perempuan?” ujar Anita. Ia mengambil kesimpulan sendiri tentang perasaan Hanif.


Bukan begitu Anita. Aku menghindarimu bukan karena itu. Karena aku tau aku suka padamu, tapi aku belum berani mengungkapkannya. Aku tidak ingin rasa ini hanya sementara. Sebab itu aku menghindarimu berharap rasa itu perlahan hilang. Tapi ternyata aku salah.


“hallo..mas? kok diam?” Tanya Anita di ujung telefon.


“hmm..kita bahas yang lain saja ya, hmm?” ucap Hanif mnghindar. Ucapan Hani kini membuat mereka justru terdiam. Anita yang berada di ujung telefon kebingungan dengan pengalihan topik yang tiba-tiba. Mereka terdiam lama. Hanya terdengar suara gemericik hujan di tempat Anita.

__ADS_1


“hujan ya disitu?” tanya Hanif membuka percakapan.


Anita menjawabnya dengan anggukan. Sepertinya dia lupa bahwa mereka berbicara di telefon bukan berhadapan


langsung.


“dek? Sudah tidur kah?” Hanif memanggil sekali lagi.


Anita terhenyak mendengar panggilan itu, kini dia tersadar bahwa mereka di sambungan telefon. Tiba-tiba dia merasa lucu, seketika Anita terkekeh geli.


“kok malah ketawa. Kenapa sih?” Hanif di ujung telefon keheranan. Hanif merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar kosnya setelah mendengar tawa Anita.


“aku lupa kalau kita lagi ngobrolnya di telefon. Aku jawabnya pakai anggukan tadi, ya jelas mas nggak bisa lihat kan kalau aku mengangguk. Hahaha..” Anita terkekeh geli dengan tingkahnya sendiri.


“ada-ada saja kamu, mmm atau jangan-jangan kamu mau video call biar bisa lihat wajahku?” ucap Hanif menggoda.


“apaan sih, nggak lah..” sahut Anita cepat, salah tingkah agaknya. Sementara hanif malah terbahak mendengar reaksi Anita.


“oh iya, setelah ini apa rencana mas Hanif? sudah melamar kerja?” tanya Anita.


“sudah. Tapi bukan melamar kerja. Aku melamar untuk melanjutkan S2.”


“benarkah? Daftar dimana? luar negeri atau dalam negeri?” Anita tampak antusias. Ya, ia sangat senang dengan keputusan Hanif. Laki-laki yaang dia sukai itu tidak pernah menyerah untuk berjuang.


“hmm, masih di dalam negeri kok, dek. Awalnya memang ingin sekali melanjutkan di luar negeri. Tapi kepikiran terus sama simbah dan adek-adekku. Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan s2 disini saja. Dan aku juga sudah lolos, pengajuan beasiswa ku diterima.” Jelas Hanif panjang.


“sudah diterima? Waah, alhamdulillah aku ikut senang mas. Selamat ya.” Ucap Anita semangat.


“kamu tidak tanya diterima dimana?”


“yang penting masih Indonesia kan. Hehe..”


Malam itu telefon mereka terus berlanjut, ditemani rintik hujan yang malah menderas Hanif dan Anita saling bercerita tentang rencana masa depan mereka masing-masing.

__ADS_1


Hingga satu jam lamanya mereka saling bercerita. Kemudian Anita memutuskan menyudahi pembicaraan itu. Kini dia sudah tidak bisa menahan kantuknya. Setelah berpamitan, tak butuh waktu lama, dia sudah terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2