
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT****
Sarah bingung harus menjelaskan cara apa lagi,sahabatnya itu terlihat marah besar.
Akan tetapi yang menjadi kebingungan nya adalah ,mereka tak melakukan apa apa kenapa Silvia marah besar seperti itu?
"Aku itu bukannya mau ngebelain dia Beb,tapi sumpah kita nggak ngelakuin apapun yang ada dalam otak kamu sekarang!" Jelas Sarah.
Bugh
"Dasar Bule mesum,awas saja kalau sampai sobat ku hamil gara gara kamu!" Ancam Silvia yang kembali memukul Rino.
"Astaga nih orang memang susah sekali dibilangin,kamu itu kok curigaan sama aku terus sih?" Ucap Rino gemas.
"Apa,tidak suka mau balas pukul sini biar kutampol wajah bodohmu itu?" Sarkas Sarah Tajam membuat Rino jadi jengah dengan sikap Istri saudaranya itu.
"Via sayang,sudahlah biar kita bawa dia kerumah Mama sama Papa saja,nanti mereka yang bakal urusin bocah mereka itu." Bujuk Davin.
"Oh tidak,selama berurusan dengan cs ku itu tak tan kulepaskan!" Sahut Silvia serius.
Sarah bingung harus menjelaskan dengan cara apa,masa harus jungkir balik atau sleding begitu?
"Ayo duduk dulu biar aku jelaskan sesuatu ,tapi tolong jangan dibantah!" Pinta Rino serius.
Mereka semua duduk dengan posisi Sarah dan Rino sebagai terdakwa,sedang Silvia dan Davin tengah duduk sambil menatap kedua orang itu.
"Oh My,Beb tatapan nya jangan segitunya napa aku kan jadi ngeri!" Bujuk Sarah.
"Diam kamu,awas saja ya kalau si cunguk ini macam macam kekamu bakal ku sewa tukang pukul untuk membabat habis dirimu!" Ketus Silvia.
Rino hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal ,kalau mau dijawab bisa berabe urusannya sama nyonya Davin itu.
Silvia mendekati Sarah ,akan tetapi pandangan nya terhenti ketika melihat wajah memar milik sahabat nya itu.
__ADS_1
"Tunggu ,tuh muka kamu kenapa kok bisa bonyok begitu?" Tanya Silvia penasaran.
"Eh itu kemarin...
"Stopp,jawab itu kenapa?" Silvia memotong pembicaraan temannya itu.
"Baik lah aku jelaskan tapi kamu jangan marah marah dong ,bingung mau mulai dari mana!" Pinta Sarah pelan.
"Hemm,baiklah aku diam tidak akan banyak bicara tapi tolong dijelaskan lebih rinci lagi,dan satu lagi tolong jangan ada yang ditutupi." pinta Silvia serius tak ingin dibantah.
"Aku kemarin diculik Rendy ,terus dibawahnya ke Villa yang diluar kota.Setelah itu dia ingin berbuat yang tidak tidak ,memar yang diwajahku ini juga merupakan pukulan darinya. Untung juga Rino datang menyelamatkan ku,kalau tidak entah apa yang terjadi padaku kemarin." Desah Silvia yang tak bisa menahan tangisnya.
Silvia terdiam ,ia tahu benar siapa itu Rendy.Pria yang sangat digilai oleh wanita di kampus dan juga Sarah sendiri ,akan tetapi yang membuat dirinya bingung kenapa sampai Rendy nekat melakukan itu semua.
"Terus kenapa Dia bisa ada kesempatan untuk bawa kamu pergi?" Tanya Silvia penasaran.
"Kemarin kan aku sama Rino jalan terus ketemu dia,aku nya.ikut saja saat dia ngajakin aku jalan!" Sahut Sarah yang tanpa sadar membuat Rino kembali kesal.
"Kamu itu ada saja,masa jalan sama orang lain eh malah perginya sama orang lain.Untung juga si cunguk ini ada niat buat ikutin kalian ,coba kalau tidak bisa habis kamu dimakan si hidung belang itu!" Gerutu Davin.
"Kamu kenapa jadi marah marah sih ke aku?" Tanya Sarah sinis.
"Dia mewakili ku!" Rino menimpali dengan tatapan datar.
"Kamu marah?" Tanya Sarah memastikan.
"Tidak juga,lagian aku siapa kamu sampai bisa marah marah tidak jelas?" Tanya Rino datar.
"Maaf!" Begitulah yang dikatakan Sarah sambil menundukan kepalanya karena takut dan malu.
Rino tersentuh dengan perkataan dan terdengar penuh penyesalan dari Sarah,sebagai seorang pria dirinya harus mengerti keadaan wanitanya jika ingin semua baik adanya.
"Heii sudahlah aku nggak marah kok!" Bujuk Rino sambil tersenyum.
Silvia masih menjadi orang yang belum puas,jika sesuatu masih mengganjal dalam pikirannya. Ia harus bertanya ,agar semua menjadi jelas tidak menimbulkan ambigu seperti ini.
"Terus sekarang Si cunguk itu kemana?" Tanya Silvia penasaran.
Sarah hanya menggedikan bahunya pertanda tak tahu menahu ,berbeda dengan Rino yang tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu kenapa ,bukannya emosi malah tertawa bego?Aku kalau jadi kamu bakal kubuat tuh orang menginap di UGD atau dikuburan ,bukan malah cengengesan tak jelas begini!" sinis Davin.
"Oh asal kamu tahu ya apa yang kulakukan ini,membuat pria itu menyesal karena terlahir kedunia." Sahut Rino sambil tersenyum bak orang stres.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Sarah kepo.
"Iya maksud kamu ngomong kaya gitu,apa?" Tanya Silvia menimpali.
"Kalian pernah lihat orang kalau mau balas dendam ,pasti kan menggunakan otot .Nah aku itu tidak seperti itu,melainkan menggunakan otak." Jelas Rino ambigu.
"Aishh nih bule kampret ,ditanya bukan jawabnya yang bagus eh malah bikin penasaran saja!" Gerutu Davin kesal.
"Aku setelah tonjok dia sampai bubur,setelah itu aku ambil ponsel dompet serta kunci mobilnya dan memutuskan semua jaringan telepon lalu pergi dari situ." Jelas Rino sambil membusungkan dada percaya diri dengan otak pintarnya itu.
"Jadi maksud kamu ,dia sekarang lagi kebingungan begitu?" Tanya Davin memastikan.
"Haha,bukan bingung lagi tapi gembel bin orang gila!" Sahut Rino.
Sarah akui semua yang Rino lakukan secara spontanitas ,membuat ada rasa kelegaan karena berhasil membuat dirinya senang.
"Terima kasih ya,kalau tidak ada kamu entah jadi apa aku sekarang." Ucap Sarah tulus.
"Sama sama,aku juga senang lho bayaran tadi malam setimpal." Goda Rino yang membuat Silvia langsung menatap horor kearah nya.
"Hei apa katamu tadi bayaran setimpal ,dasar bule kampret bisa bisanya jadi orang itu pamrih." gerutu Silvia.
"Awas ya kamu,kalau sampai anak orang kenapa napa bakal ku buang kau ke afrika!" Ancam Davin tak kalah kesal.
"Hehe cuman icip icip doang!" Goda Rino yang langsung mendapat tatapan tajam dari Silvia.
"Kamu..
"Hadeuh kalian itu memang kompak ya,mau marah aku kompak baikin aku juga kompak kapan kalian beda sedikit saja?" Desah Rino kasar.
"Aku lapar boleh dikasih makan." Ucap Sarah memelas karena merasa lapar sementara dirumah itu tanda tanda dikasih makan belum nampak dipermukaan.
"Ya Tuhan Maaf Beb,tadi aku lupa soalnya lihat ada yang beda makanya tidak sibuk barang lain." Sahut Silvia merasa bersalah.
"Nah itu baru benar ,daripada tamu harus terima omelan kalian sepanjang hari!" Sindir Rino.
"Kamu itu bukannya bersyukur ditawar makan,malah ngeyel sepanjang waktu sana makan rumput kaya kambing." Kesal Davin.
"Idih mana ada kambing setampan aku,yang ada itu aku bagaikan pangeran ditengah bidadari cantik." Sahut Rino.
Silvia yang jengah,memilih menarik tangan Sarah agar ikut dengannya kedapur.
"Beb,Ayo kedapur bosan lihat begini terus lama lama nanti kita ikutan gila seperti mereka!" Ajak Silvia yang langsung diikuti oleh Sarah.
__ADS_1
Sementara itu Davin dan Rino hanya duduk bingung ,karena kedua wanita mereka yang sudah kedapur.