
Bulan ke bulan, tahun pun berganti. Anita kini sudah menginjak semester 4, artinya Hanif sudah dalam masa penyelesaian skripsi nya.
Dari semenjak hari itu, Hanif tidak lagi terlihat batang hidungnya. Padahal mereka satu gedung perkuliahan, satu organisasi juga. Bisa saja walaupun tanpa sengaja mereka bertemu.
Tetapi entah bagaimana sudah hampir 7 bulan Anita tidak melihatnya.
Perasaan Anita pada Hanif tidak pernah hilang, meskipun sempat ragu ketika Hanif mengutarakan bahwa ia sudah memiliki calon.
Sejak hari itu, Anita terus mencari keberadaan Hanif, saat selesai perkuliahan, di parkiran, di kantin, di perpustakaan, dimanapun tempat-tempat yang dia ingat dia pernah bertemu dengan Hanif, ia berharap setidaknya ia dapat melihat sang pujaan hati.
Ternyata ada satu tempat yang Hanif tidak dapat bersembunyi dari Anita. Yaitu masjid kampus.
Ada kala-kala tertentu Anita tidak sengaja melihat Hanif di barisan shaf depan. Seketika Anita menyunggingkan senyum, dan saat selesai menjalankan sholat Anita selalu menyelipkan nama Hanif dalam doa-doanya.
“ya Rabb semoga mas Hanif selalu dalam perlindungan dan penjagaan Mu. Kuatkan aku ya Rabb, jikalah mas Hanif adalah jodohku maka dekatkan suatu hari nanti, dan jika ia bukan jodohku maka kuatkan aku agar dapat melepaskannya..” pinta Anita lirih.
__ADS_1
Sangat lirih hingga orang yang didekatnya pun tidak bisa mendengar.
Di sisi Hanif. Hanif memang sengaja menghindar dari Anita. Di lingkungan kampus, dia selalu mengedarkan pandangannya mencari sosok Anita. Ketika matanya berhasil menemukan sosok itu, sesegera mungkin Hanif bersembunyi ataupun menghindar pergi ke lain tempat.
Selama hampir 7 bulan ini Hanif berhasil melakukannya. Tanpa diketahui Hanif ternyata ada satu tempat yang sulit untuk menghindari Anita. Yaitu masjid kampus.
Diam-diam Anita memperhatikannya dari belakang saat mata itu menemukan sosok Hanif yang berada di shaf laki-laki.
Tentu saja Hanif tidak mengetahuinya.
Tahun ini Hanif akan menyelesaikan studinya. Dia sudah berhasil lulus dalam ujian skripsinya menggondol gelar sarjana. Tinggal satu ritual yang harus ditempuh, yaitu prosesi wisuda.
“assala’mualaikum. Paklek. Hanif minggu depan akan diwisuda paklek datang ya, ajak adek-adek dan simbah juga kalau simbah berkenan.” Ucap Hanif.
“insyaallah ya le. Nanti paklek sampaikan juga sama simbah. Kalau pahit-pahitnya kami tidak bisa datang bagaimana? Ndak apa-apa to? Simbahmu kan sudah sepuh banget, kalau paklek tinggal simbah ndak ada yang jaga.” Suara disana terdengar sedih, dengan logat jawa yang kental.
__ADS_1
“nggak apa-apa paklek, tapi Hanif mohon diusahakan dulu. Ini momen Hanif sekali seumur hidup. Hanif pengen membanggakan simbah dan juga paklek dengan toga yang Hanif pakai nanti.” Ucap Hanif sambil menahan air mata agar tak jatuh.
“baiklah le, paklek usahakan ya, insyaallah.”
“ya sudah paklek, assalamu’alaikum.” Hanif mematikan sambungan telefonnya.
Hanif menghela nafas berat. Pak lek dan simbah nya adalah satu-satunya keluarga terdekat yang dia miliki. Ayah dan ibu nya sudah lama berpisah. Sejak Hanif masih kecil.
Sang ibu pergi meninggalkan Hanif kecil dan adek-adek yang masih balita, tanpa kabar. Hingga sekarang Hanif masih tidak tahu keberadaan sang
ibu.
Sedangkan sang ayah merantau mencari penghidupan yang lebih baik. Ayahnya masih sering memberi kabar, seminggu sekali, dan sebulan sekali mengirim uang untuk biaya Hanif dan Adek-adeknya. Jika sedang masa sulit, tiga bulan sekali ayahnya baru mengirim uang.
Hanif kembali mengenang masa-masa kecilnya. Dia sangat ingin bertemu dengan sang ibu. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dia tidak pernah merasakan hangatnya keluarga utuh. Dia bahkan tidak tahu bagaimana wajah sang ibu.
__ADS_1
Hanif mengusap wajahnya kasar. Setetes bening air mata berhasil lolos. Lalu ia pergi ke kamar mandi, tadinya hanya ingin membasuh muka tetapi yang terjadi Hanif justru menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi.
***