Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
37


__ADS_3

Ainun terbangun karena alarm di ponselnya berbunyi, menunjukan pukul 03.00. Dia hendak bangun namun ada sebuah tangah melingkar di tubuhnya membuat nafasnya tidak beraturan, degup jantungnya pun seakan berpacu lebih cepat. Menyingkirkannya pun bukan hal yang baik karena takut mengganggu tidur pria yang terlihat masih terlelap. Ainun menatap wajah Arby dari samping. Tampan, satu kata yang terucap diam-diam memuji paras seorang lelaki yang tak lain dari suaminya. Ainun pun kembali melihat tangan yang melingkar di perutnya dan menarik nafas dalam. Akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan suaminya karena jika hanya berdiam diri pastilah akan kesiangan mengingat waktu yang terus berputar tanpa bisa dihentikan.


Namun Ainun kembali berfikir panggilan apa yang tepat untuk suaminya kakak? Seperti yang selama ini dia ucapkan Mas, atau sayang... Pipinya bersemu merah tak percaya kata itu terlintas didalam pikirannya. Ainun harus memutuskan dengan sebutan apa dia memanggil pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu Huh... Ainun menghela nafas. Otaknya berputar seperti jarum jam yang terus berputar. Sementara Ainun gelisah dengan pemikirannya Arby pun terbangun karena merasakan pergerakan di sampingnya dan ketika Ainun berbalik mereka saling menatap untuk beberapa detik lalu kemudian sama- sama beranjak apalagi Arby yang menyadari dimana tangannya berada refleks menariknya dan berkata "maaf" pada sang istri. Ainun pun pamit ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri terlebih menormalkan degupan jantungnya ketika sedekat itu dengan seorang lelaki yang notabene adalah suaminya sendiri tapi tetap belum terbiasa.


pagi menjelang mereka berdua pun sarapan bersama dan mereka memutuskan akan berjalan-jalan menghabiskan waktu berdua sambil saling mengenal. Setelah selesai sarapan mereka pun bersiap untuk berangkat. Sambil menunggu Arby bersiap karena tadi mendadak mendapat telepon dari seseorang sehingga lebih dulu Ainun yang selesai. Ainun. Sekali lagi melihat penampilannya di cermin memastikan apa yang dia kenakan tidak membuat suaminya malu walaupun dia selalu memakai pakaian tertutup tapi tetap saja dia harus bisa memilih mana yang harus dia pakai ketika akan berangkat dengan sang suami.

__ADS_1


Lama memandang cermin dari teringat dengan pesan yang dikatakan Abinya sehari sebelum dia menikah.


" Nun, Abi tau kamu mempunyai ilmu agama yang mumpuni namun sebagai seorang ayah, Abi tetap wajib mengingatkan kamu untuk selalu patuh pada suamimu selama itu dalam kebaikan kecuali dalam hal-hal yang melanggar aturan agama kamu boleh tidak mematuhinya, Bersikaplah manis dan selalu menyenangkan suamimu karena dia adalah ladang pahala untukmu begitupun sebaliknya dan bisa jadi pasanganmu adalah ujian begitupun sebaliknya. Ingat jangan pernah membuat suamimu murka, karena ridho suamimu bisa mengantarkan kamu ke surga kelak, jagalah selalu kehormatannya. Raihlah ridho Allah bersama-sama. Ketika ijab kabul dilaksanakan maka Abi sudah menyerahkan tanggung jawab yang selama ini Abi jalankan atas kamu berpindah pada suamimu dialah yang akan bertanggung jawab atas dirimu walau sampai kapanpun kamu tetap putri kesayangan Abi dan juga umi. Tapi setelah menikah apapun yang akan kamu lakukan harus meminta ijin dari suamimu bulan lagi dari orang tuamu. Seketika mata Ainun berembun mengingat semua perkataan Abinya. " Maafkan Ainun Abi, Ainun belum. bisa menjadi istri yang baik," Ainun bergumam pelan dan mengucap banyak-banyak istighfar menyadari kesalahannya sebagai seorang istri belum bisa melayani suaminya dengan baik. Tanpa Ainun tahu Arby memperhatikannya dari dekat tempat tidur. Arby kembali merasa bersalah seakan telah memaksakan pernikahan pada Ainun. " Apakah ada seseorang di hati kamu, nun? Dan itu bukan aku?" Arby bergumam dan melangkah mendekati istrinya yang masih berdiam ditempatnya.


" Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mu dan apa dan siapa yang kamu inginkan namun walau bagaimanapun, sekarang kamu adalah istriku, mungkin sekarang kamu tidak mencintaiku tapi aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, sekarang kamu boleh tidak menginginkan aku tapi aku akan menjadikan kamu tidak mau kehilanganku dan satu hal lagi aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia Ainun Chandani. itu janjiku jadi tetaplah bertahan di sisiku dan ingatkan selalu jika aku lupa dengan janjiku untuk selalu membahagiakan kamu." Arby mengatakan semuanya sambil menatap lurus ke depan, namun tanpa disangka Ainun menghambur memeluk tubuhnya membuat Arby sedikit terhenyak atas apa yang dilakukan istrinya.

__ADS_1


" Maaf Mas." Hanya itu yang Ainun katakan, dia mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami. Arby hanya mengelus punggung Ainun dan mencoba menenangkan istrinya yang terisak. Beruntung tidak ada siapapun di sepanjang koridor. Setelah beberapa lama Ainun pun mengurai pelukannya dan Arby pun mengusap wajah Ainun yang basah.


" Kita kembali dulu ke kamar, kamu tidak mungkin pergi dengan penampilan seperti ini kan?" Ainun pun mengangguk pelan dan berjalan perlahan dengan tangannya tak lepas menggandeng tangan suaminya. Perasaannya terasa lebih baik dan diapun sekali lagi meminta maaf pada sang suami karena merasa telah berkhianat karena masih ada harapan kecil dihari ya untuk seseorang tapi kini Ainun berjanji tak akan ada lagi harapan itu dihatinya. Kini Ainun akan benar-benar menghapus harapan itu sampai tak berbekas bagaimanapun caranya.


happy reading 💜💜

__ADS_1


__ADS_2