Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 34 - Memutuskan Muncul


__ADS_3

Hari wisuda pun tiba. Hanif dan wisudawan lainnya sudah siap di tempat duduk masing-masing, menanti rektor, dekan, dosen dan staf lainnya tiba.


Lagu kebangsaan pun dinyanyikan. Setelahnya mars kampus juga dinyanyikan oleh grup paduan suara. Suasana di dalam aula sangat hikmat.


Hingga tiba saatnya pemanggilan satu per satu wisudawan dan wisudawati untuk pemindahan tali toga oleh rektor bagi yang berhasil cumlaude maupun dekan untuk yang tidak mendapat gelar cumlaude.


“Hanif Rahardian, Jurusan Ilmu Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Indeks prestasi 3,89.”


Tepuk tangan membahana terutama dari teman-teman seperjuangan Hanif. Hanif melangkah maju untuk menerima ijazah, penghargaan cumlaude dan juga pemindahan tali topi toga oleh rektor langsung.


Tidak terasa air mata menetes di pipi Hanif. Dia bersedih karena momen yang ia tunggu ternyata tidak dapat disaksikan oleh keluarganya. Iya, pakleknya tidak bisa hadir karena kondisi simbah yang tidak memungkinkan untuk ditinggal.


Di luar gedung, tanpa sepengetahuan Hanif ternyata ada seseorang yang menyaksikan kelulusannya. Dengan hati berdebar menunggu nama Hanif disebut. Dia Anita. Ditemani Zahra, mereka membawa sebuket bunga sebagai tanda ucapan selamat sudah resmi menyandang gelar sarjana.


Ya, Anita memutuskan untuk muncul dihadapan Hanif, ia lelah menunggu dan mencuri pandang saat di shaf belakang saat sholat berkamaah di Masjid. Ia juga lelah harus menahan beban rindu nya selama itu.

__ADS_1


Anita memutuskan untuk membebaskan perasaan. Dia akan bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi apapun. Dan Anita berusaha keras untuk itu dan dia memang tidak akan menyatakan apapun kepada Hanif.


Sekian jam para keluarga dan sanak saudara yang diluar menunggu, akhirnya acara tersebut selesai. Para wisudawan keluar menemui keluarga masing-masing.


Anita dan Zahra menunggu di depan pintu keluar menyambut Hanif. setelah beberapa lama, yang ditunggu-tunggu muncul juga. Hanif terlihat lesu, matanya terlihat sendu dan sedikit sembab karena menangis.


“mas Hanif..” panggil Anita sedikit berteriak.


Hanif termangu melihat Anita di depan. Ada perasaan hangat tiba-tiba menjalar di tubuhnya, seketika pula sebuah senyuman lolos dari bibirnya. Hanif merasa bahagia ada seseorang yang menunggunya. Dia sudah berpikir bahwa tadinya ia akan langsung ke masjid untuk melepas penat. Tetapi ternyata dia mendapat kejutan itu. Hanif sangat terharu. Bahkan ada rasa ingin menghambur ke pelukan Anita. Tapi ia tahan, belum halal.


“menunggu mu..ini untuk mas Hanif. selamat ya sekarang sudah sarjana. Semoga ilmunya berkah dan bermanfaat untuk banyak orang nantinya. Aamiin.” Ucap Anita. Lalu menyerahkan sebuket bunga mawar merah dan di tengah ada satu kuntum mawar putih.


Hanya Anita yang tahu maknanya. Author pun tidak tahu. hehe


“aamiin”. Ucap hanif dan Zahra bersamaan.

__ADS_1


“selamat ya mas Hanif.” ucap Zahra menyelamati.


“terimakasih.”


Tiba-tiba suasana menjadi canggung diantara mereka bertiga. Zahra memutar bola matanya, seketika itu pula ia memutar otak mencari cara untuk mencairkan suasana.


“mas Hanif nggak foto-foto keluarga dulu?” tanya Zahra tanpa tahu kondisi Hanif sebenarnya. Hanif hanya tersenyum. Menggelengkan kepala. Ia tidak tahu harus memberi jawaban apa untuk Anita dan Zahra. Jika mengatakan yang sebenarnya Hanif takut akan pemikiran aneh Anita dan Zahra.


Suasana menjadi canggung kembali.


“mmm, Nit. Aku beli minuman dulu ya. Aku tunggu di fakultas aja nanti. Ok? Aku pergi dulu ya mas..” ucap Zahra lalu segera pergi meninggalkan Hanif dan Anita.


\~\~\~\~


Anita dan Hanif bagaimana selepas ditinggal Zahra?

__ADS_1


__ADS_2