
Di luar, hujan semakin menderas. Udara dingin menyeruak masuk melalui lubang-lubang jendela kamar Zahra. Mereka berdua masih berkutat dengan laptop masing-masing ditemani aroma kopi panas dan beberapa cemilan. Sepertinya malam ini keduanya akan lembur menyelesaikan tugas kuliah pun juga tanggungjawab di organisasi mereka. Hening. Hanya terdengar suara ketikkan keyboard laptop mereka.
Sebenarnya Anita tidak fokus sama sekali dengan tugasnya kali ini. Entahlah, sesuatu seperti menumbuk dadanya sejak sore tadi, tepatnya setelah perdebatan dengan Hanif yang tak berujung. Beberapa kali Anita mengusap wajahnya sebelum melanjutkan gerakan jarinya di atas keyboard laptop. Sejenak berhenti, mengacak rambut, kemudian mengetik lagi. begitu terus sampai membuat Zahra jengah.
“kenapa bagiku, perdebatan kalian tadi seperti suami yang sedang protes kepada istrinya karena uang jajannya ditahan?” ucap Zahra mengurai keheningan.
“apaan sih. Nggak jelas deh.” Jawab Anita menyeringai.
“sama-sama keras kepala..” Zahra menghela nafas sebelum melanjutkan.
“aku tau kamu suka sama mas Hanif, tapi kita sedang berdiskusi tentang kegiatan kita kan? Jangan bawa perasaan pribadi dong.” Jelas Zahra semakin lama semakin gemas karena Anita tak juga buka suara.
“maksutmu apa? Siapa yang bawa perasaan pribadi?” Anita akhirnya tersulut mendengar sindiran Zahra bahkan suaranya terdengar memekik.
“duduk dulu, Nit..” titah Zahra. kini ia melembutkan suaranya dan Anita menurut. Ia duduk masih menghadap laptopnya.
“apa kalian pernah bertemu berdua sebelum kemaren? Kalian berselisih paham?” tanya Zahra. Firasatnya kepada Anita tidak pernah salah, mereka seperti jodoh dalam pertemanan, mengerti satu sama lain bahkan tanpa diungkapkan. Romantis sekali.
Anita diam. Baginya kejadian sebulan yang lalu bukanlah salah paham, tapi ia tidak tahu bagaimana Hanif terhadapnya.
__ADS_1
Apakah mas Hanif masih salah paham terhadapku?
“aku tidak mau menemanimu dan membahas anggaran ini kalau kalian masih sama-sama keras kepala. Aku mau kalian bereskan dulu urusan kalian.” Ujar Zahra dengan tegas menuntut.
“caranya?” Anita bertanya. Yang ditanya justru terdiam.
“gimana caranya, Zah? Aku tidak tau urusan kami yang mana yang belum selesai, aku juga tidak merasa salah paham kepada mas Hanif. Lalu aku harus menyelesaikan bagaimana?” ujar Anita. Kini matanya terasa panas memerah, dan sebulir bening di ujung matanya berhasil lolos.
“atau maksutmu aku harus menghentikan rasa sukaku terhadap mas Hanif begitu? Kamu tau itu bukan kuasaku..” lanjut anita lagi. Dadanya terasa sesak sekarang ketika menyebutkan nama sang pujaan hati.
“maaf.. maafkan aku, Nit.” Ucap Zahra lalu memeluk Anita. Lama. Hingga tangis Anita sedikit mereda. Lalu terdengar bunyi pesan masuk di handphone Anita.
Ting
Mas Hanif. Anita menyebutnya dalam hati. Lalu membuka layar yang terkunci dan membaca isi pesannya.
Assalamu’alaikum. Maaf kan aku tentang sore tadi, Anita.
Isi pesannya sesingkat itu tapi membuat Anita menatap layar handphonenya begitu lama. Rupanya dia tengah bingung harus menjawab lalu. Lalu menyerahkan handphone kepada Zahra.
__ADS_1
“mas Hanif. Aku harus balas apa?” tanya Anita.
Zahra diam sambil membaca pesan itu, kini dia yang gantian dibuat bingung karena harus berkata apa. Lama, mereka saling diam.
Di tempat lain, Hanif menunggu balasan dari Anita dengan gusar. Dan ingatannya kembali ke sore tadi.
***
Kembali ke sore hari di kantin.
Hanif sedang mengevaluasi kembali hasil rapat divisi mereka, divisi konsumsi. Setelah Anita datang lalu menyerahkan fail yang dia kirim lewat email Anita, Hanif mendapat notifikasi pesan di handphonenya dan membuka isi pesan tersebut.
Mas, Sepertinya kita harus break dulu. Aku ingin fokus kuliah mas. Maaf.
Seketika raut muka Hanif berubah dan membuat dadanya bergemuruh hebat, ingin sekali berteriak kenapa? Tapi ia tahan karena ada Anita disampingnya. Pesan dari sang kekasih rupanya. Hanif lalu melirik Anita sekilas, meletakkan kembali handphonenya, meninggalkan pesan itu tanpa balasan. Fokus kepada tugas-tugasnya lagi dan Zahra datang. Pada saat pembahasan dimulai dan ketika Anita sedikit ngotot karena pendapatnya dibantah seketika itu pula Hanif yang sedari tadi menahan emosi karena pesan itu malah terpancing dan membalas perkataan Anita sedikit kasar.
\~\~\~
Nantikan cerita selanjutnya..
__ADS_1