
Azzam dan keluarga kecuali Anita akan bertamu ke rumah om dari Indira. Pak Diki. Ayah Rudi sudah mengatur segalanya tentang pertemuan itu.
Hanya satu yang tidak ayah ungkapkan tentang pertemuan itu. Dan bisa jadi akan menjadi kejutan untuk semuanya.
Azzam sengaja meminta ayah dan mamanya agar tidak mengajak Anita. Entah, adiknya itu selalu membuatnya tidak nyaman. Azzam menyalahkan.
Padahal Azzam sendiri yang membuat rasa tidak nyaman itu, hanya karena suka dengan teman Anita. Sampai dua kali. Jika kali ini gagal lagi, Azzam akan sangat malu dengan adiknya sepertinya.
Sekitar 1,5 jam perjalanan, Azzam dan orang tuanya tiba di rumah Om Diki. Om Diki tinggal di ujung selatan kota Jogja, di rumah sang mertua.
“Assalamu’alaikum..” ucap Rudi. Mama Rani dan Azzam mengekor di belakang ayahnya.
“wa’alaikumsalam. Monggo-monggo, silahkan masuk. Silahkan duduk mas Rudi.” Om Diki menyilahkan tamu nya. Istri dari Om Diki memanggil Indira, kemudian bersama-sama menyiapkan jamuan untuk tamunya.
Indira sudah diberitahukan sebelumnya bahwa akan ada seseorang yang ingin berkenalan dengannya. Anak sulung Danu itu adalah Gadis Bandung yang cantik dengan lesung pipit di pipinya. Manis. Usianya menginjak 26 tahun, gadis yang berani, penuh kepercayaan diri dan juga mandiri.
Indira dan tantenya keluar membawa jamuan senampan penuh. Saat mendekati ruang tamu, Indira membola. Dia terkejut saat melihat Azzam.
“Loh? Mas Azzam, kan?” ucapnya. Matanya membola saat mendapati sosok Azzam, namun tangannya masih sigap menyajikan minuman dan beberapa snack jamuan.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Om Diki. Ayah Rudi dan mama Rani pun tak kalah heran.
“Ah, minggu lalu tidak sengaja kami bertemu. Mas azzam ini kakaknya teman kursus Indira om.” Jawab Indira terang.
“o.. begitu.. bagus sekali.. bagaimana mas? silahkan dilanjutkan saja.”
__ADS_1
Mama Rani menatap tajam Azzam sambil melongo. Azzam yang sadar dengan tatapan mama langsung menunduk dalam. Pipinya merona seperti anak SMA pertama kali jatuh cinta.
Pantesan adiknya dilarang keras tahu. Pasti dia malu, lagi-lagi suka sama teman adiknya.
Mama Rani terkekeh dalam hati.
Ayah Rudi membuka suara. Menyampaikan maksud dan tujuan datang berkunjung.
“jadi maksud kedatangan kami kesini adalah untuk melamar nak Indira untuk anak saya, Azzam. Karena Azzam dan Indira sudah saling mengenal, maka saya ingin langsung melamar saja. Jika memang bisa diterima mungkin nanti akan ada lamaran resminya.”
Semuanya tersentak mendengar penuturan ayah Rudi. Bukan itu tujuan awalnya. Tujuan mereka adalah saling mengenal dulu. Sekarang tiba-tiba menjadi acara lamaran.
Begitu kira-kira kerisauan hati Azzam. Namun tidak dipungkiri, Azzam merasa manis di hatinya. Tersenyum sipu dalam tunduk dalamnya. Ayahnya memang luar biasa. Pikirnya.
Om Diki dan istrinya juga Indira lebih terkejut lagi. Indira bingung harus mengatakan apa nanti.
Dibilang kenal juga tidak, hanya baru bertemu sekali dan karena dia adalah kakak temanku apakah bisa dibilang kenal? Haruskah kutolak? Tapi dia kakak anita, dan aku tau betul anita seperti apa. pasti kakaknya juga baik. Tapi kalau diterima? Aku bahkan tidak tahu tentangnya sama sekali.
Batin Indira gaduh.
“bagaimana Indira? Apakah lamaran nak Azzam kamu terima?” tanya om Diki pada keponakannya.
“Bismillahirrahmanirrohim, dengan nama Allah, saya menerima lamaran mas Azzam..”
Meskipun awalnya bimbang. Indira meyakinkan dirinya. Meskipun tak mengenal Azzam namun karena keyakinannya pada Anita, Indira memberanikan diri menerima Azzam.
__ADS_1
“alhamdulillah..” semua orang bersyukur dengan jawaban Indira.
Dengan jawaban itu, maka Azzam dan Indira sudah terikat. Indira paham betul setelah ini dia tidak boleh menerima pinangan lelaki lain.
Karena Indira sudah menerima lamaran mereka. Ayah Rudi ingin mengutarakan hal lainnya. Yaitu keinginan untuk mempercepat pernikahan Azzam dan Indira.
Om Diki segera menghubungi kakaknya, ayah Indira, untuk menyampaikan maksud Rudi.
Danu menyetujui maksud Rudi. Kemudian bersepakat bahwa akad akan diselenggarakan sebulan setelah pernikahan Anita.
***
Mama Rani dan suaminya sedang bercengkerama di kamar mereka. Meskipun sudah tua, mereka harus tetap harmonis dan romantis kan.
“yah..”
“hmm..”
“rasa-rasanya baru kemarin anak-anak berebut mainan. Sekarang mereka sudah mau menikah..hiks..”
“itu artinya mama sudah saatnya menimang cucu. Biar nggak kesepian, betul?” ucap suaminya lembut sambil menowel hidung istri tercintanya.
“betul..” jawab mama Rani centil sambil mengacungkan dua jempol. Lalu dua insan yang tak muda itu tersenyum bersama.
Bersambung...
__ADS_1