
keheningan menghampiri dua pria yang terpaut usia sepuluh bahkan hampir sebelas tahun itu membuat pikiran mereka berkelana tak bermuara di tempat yang sama. Beda usia tentu membuat Zaidan selalu terlihat dan berfikir dewasa dibandingkan dengan Arby walaupun sebenarnya usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Namun Zaidan karena dia seorang yang mandiri dari sejak dulu, terutama sejak dia dan ibunya ditinggalkan sang Ayah untuk pergi menghadap Sang Pencipta. Keadaan yang membuatnya dituntut menjadi dewasa, dituntut menjadi seorang pelindung. dan penanggung jawab.
" Bang... " Suara Arby menghentikan lamunan Zaidan tentang seseorang.
" Apa kamu mau membicarakan tentang Ainun? " Zaidan sudah menebak apa yang akan dibicarakan sang adik.
" Abang memang terbaik. Selalu memahami apa yang ada dalam pikiranku. " Ucap Arby sambil tersenyum manis pada abangnya.
" Ainun memang sudah menyelesaikan kuliahnya dan pulang ke Indonesia. Bahkan kini dia mengabdikan dirinya di pesantren. Di sana banyak ustadz yang tertarik padanya namun segan karena Ainun anak dari pemilik pesantren. Tapi yang ku dengar ada seorang ustadz yang terlihat lebih berani dan katanya ingin melamar Ainun. Itu sih berita yang ku dengar dari rekan yang dulu pernah sama-sama mengajar di sana bersama ku dan sampai saat ini dia masih mengabdikan dirinya di sana. Mungkin Abang juga jika tidak bertemu Papa Reno dan kamu tentunya masih mengabdikan diri di sana..."
Arby pun menepuk bahu Abangnya, sehingga Zaidan menoleh dan menyambung kalimatnya
" Abang sangat bersyukur dan tentu semua ini adalah yang terbaik. Sekarang abang seorang dokter, selain itu abang sekarang punya keluarga baru yang yang begitu baik. Abang merasa sangat beruntung dan berhutang banyak pada keluarga mu. " Ucap Zaidan sungguh-sungguh.
__ADS_1
" Aku bersyukur punya Abang, Abang sudah banyak mengajariku ilmu agama dan juga aku merasa senang punya seorang kakak yang selalu mendengarkan keluhan ku." Arby pun tertawa melihat Abangnya menatapnya tajam. Arby sedikit bercanda dengan mengatakan bahwa Zaidan adalah tempat mengeluhnya. Melihat Abangnya yang tak seperti biasa lebih terlihat pendiam dan banyak melamun. Walaupun memang Pendiam tapi tak biasanya Zaidan banyak melamun dan terlihat sedih, pasti ada sesuatu yang terjadi.
" Lamar saja, nanti keduluan orang lain. " Ucap Zaidan tegas.
" Ingin ya bang, tapi apa Mama dan Papa akan setuju? "
" Ainun gadis yang baik, tak mungkin jika orang tua mu tidak setuju. "
" Tapi aku tidak ingin mendahului Abang, kapan sih Abang mau lamar anak orang? " Arby sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang terasa serius sejak tadi.
" Jangan-jangan perempuan yang tadi bertemu di rumah sakit... Sepertinya Abang sangat mengenalnya. Terlihat dekat gitu. " Zaidan memalingkan wajahnya seakan dia tidak ingin ketahuan menyimpan suatu rahasia. Ya rahasia yang memang hanya dirinya sendiri yang tahu. Tak seorangpun tahu tentang hubungannya dengan siren. Zaidan begitu rapi menyimpan semua hal tentang gadis itu sampai akhirnya hatinya dikecewakan dan takdir mempertemukannya kembali tadi siang. Dan Zaidan sempat berfikir itu adalah takdir untuk memberinya kesempatan bertemu gadis itu kembali.
" Ih, Abang malah melamun, benarkan tebakkan ku tentang wanita tadi siang? " Arby semakin penasaran.
__ADS_1
" Sudahlah, kita lagi bicara tentang kamu bukan Abang. " Zaidan berkilah.
" Bang, ada apa? aku siap mendengarkan, sekarang aku bukan anak kecil lagi yang selalu mengeluh pada Abang. Sekarang aku sudah dewasa bang, Abang juga bisa berbagi denganku jika punya masalah. Aku akan menjadi pendengar yang baik. Sungguh! " Arby berkata dengan yakin.
Memang benar, Zaidan yang dulu adalah guru baginya perlahan menjadi seperti seorang teman, kakak dan juga penasihat untuknya. dan sekarang Arby sudah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang juga bisa berbagi keluh kesah dengan Zaidan. Zaidan pun menoleh dan menatap sang adik. Ya benar kini dia sudah dewasa bukan anak kecil atau remaja lagi kini pria kecil yang dulu susah diatur itu menjelma menjadi sosok yang begitu terlihat dewasa. Sudah tidak lagi merengek dan banyak mengeluh padanya dan Zaidan baru menyadarinya. Zaidan pun mengangguk membenarkan.
" Ya, kini kamu sudah dewasa By, Abang baru menyadarinya. Kekehnya pelan.
Semua kembali hening, seperti halnya malam yang mulai semakin gelap mengantarkan orang-orang untuk segera beranjak ke pembaringan. Suara- suara binatang kecil pun mulai terdengar jelas tanda semakin larutnya dan mereka berdua sama-sama kembali terdiam menyelami pikiran mereka masing-masing. Zaidan sedang menimbang apakah dia harus membagi kisahnya pada sang adik, kisah dirinya dan siren yang tak berujung kepastian. Sulit memang seorang Zaidan untuk terbuka pada orang lain walaupun itu keluarganya sendiri. Dia bisa mendengar dan memberikan nasihat pada orang lain membuat orang lain nyaman untuk berbagi cerita dengan dia namun kisahnya tak pernah dia bagi dengan siapapun. Sekarang apakah dia bisa menceritakan semuanya pada Arby???
Happy reading๐๐๐
silahkan mampir ke ceritaju yang lainnya ya sambil menunggu update.
__ADS_1
jangan lupa like dan komen,
Terima kasih๐๐