Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 71 - Tentang Ibu


__ADS_3

Satu jam motor Hanif dan Anita sudah memasuki jalan meliuk di kawasan Kulon Progo, tepatnya melewati jalan lingkar sermo, jalanan yang biasa dilewati wisatawan menuju waduk Sermo.


Kulon Progo adalah kabupaten yang berada di kawasan pegunungan (kawasan menoreh) di bagian barat dan dataran rendah di bagian selatan yang berbatasan langsung dengan laut selatan.


Rumah Hanif berada dekat dengan lokasi wisata waduk sermo itu, hanya 15 menit menggunakan motor. Sepanjang perjalanan, Anita menoleh kanan  kiri melihat sekeliling yang lebih banyak pepohonan ketimbang perumahan warga.


Anita membuka kaca helmnya untuk menghirup banyak udara segar yang sulit dijumpai di kota. Sekitar 5 menit Anita membiarkan wajahnya sepenuhnya terempas angin sejuk, Hanif sengaja melambatkan lajunya karena tahu kesukaan Anita saat diperjalanan itu.


Mereka akhirnya tiba di halaman rumah yang luas nan hijau. Rumah Hanif, lebih tepatnya rumah simbah itu sangat sederhana namun dinding rumahnya terlihat mencolok karena permintaan simbah yang ingin dicat warna terang.


Agar orang tidak kesulitan mencarinya diantara tingginya pepohonan di sekelilingnya.


Hanif dan Anita masuk setelah mengucap salam. Tidak ada sahutan tapi pintu rumah terbuka lebar. Simbah sedang berada di belakang sepertinya, kegiatan sehari-harinya saat sedang keadaan sehat adalah membersihkan ranting-ranting pohon untuk dijadikan arang.


Bapak juga belum terlihat.


“mbah.. bapak..assalamu’alaikum..” seru Hanif. Anita mengekor di belakang Hanif dalam keadaan tangannya tergenggam erat oleh sang suami.


Simbah muncul dengan tongkat di tangan kanannya untuk menopang jalannya yang sedikit membungkuk. Jalannya sangat pelan namun mantap.


“bapakmu ora ono..lungo neng magelang.” ucap simbah dengan suara lemahnya namun masih terdengar mantap di telinga Hanif. (bapakmu nggak ada, pergi ke magelang)


“magelang mbah?” tanya Hanif memastikan. Ia tidak tahu ada keperluan apa bapaknya pergi kesana, tapi satu hal yang Hanif tahu bahwa Magelang adalah kampung halaman ibunya.


Dia mengetahui hal itu saat paklek menjelaskan padanya silsilah keluarga padanya, saat itu Hanif masih duduk di kelas 9. Paklek menceritakan yang sebenarnya terjadi pada hari itu. karena paklek rasa Hanif sudah cukup umur untuk mengetahuinya. Namun alasan ibu nya pergi meninggalkannya hanya sang ibu sendiri yang tahu.


“mreneo cobo, lungguho ndhisik..” (kemarilah, duduk dulu).


Hanif patuh, ia menoleh pada Anita untuk ikut mendengarkan apa yang akan diutarakan simbahnya itu. Tangannya masih tergenggam erat oleh Hanif.

__ADS_1


“bapakmu budhal isuk mau nyang magelang karo Hanna lan Hanum. Nyang kampunge ibu mu le. Bapakmu kondho marang simbah nek ibu mu kritis, pengen ketemu anak-anake arep njaluk ngapuro jare. Wes telpon bapakmu?” (Bapakmu berangkat tadi pagi ke Magelang bersama Hanna dan Hanum. Pergi ke kampungnya ibumu. Bapakmu bilang pada simbah kalau ibumu sedang kritis dan katanya pengen ketemu anak-anaknya untuk meminta maaf.) ucap simbah lembut.


Anita merasakan genggaman tangan Hanif semakin mengerat. Anita menoleh pada Hanif untuk melihat reaksinya, tapi Hanif tidak berkekspresi, wajahnya datar menuju pias. Anita mengerti sekali suasana hati suaminya itu, genggaman tangan yang mengerat seolah memberi tahu Anita bahwa dia tidak baik-baik saja, sedangkan wajahnya yang tetap datar karena Hanif tak ingin wanita yang sudah sangat rapuh itu mengetahui apa yang dirasakannya.


Hanif menggeleng sebagai jawabannya kepada simbah.


“tilikono ibu mu le, sepisan iki wae.. paringono ngapuro lan dongakno. Rungokno opo panjaluke ibu mu mbok menowo kuwi panjalukane sek pungkasan. Simbah ora ngerti kondisine kepiye—kepiye, bapakmu muk ngomong yen ibu mu kritis..”


Hanif menunduk, genggamannya masih sama eratnya dengan yang tadi. Anita melirik suaminya dan terlihat sudut matanya sudah basah.


“mangke kami jenguk ibu mbah, nyusul bapak.. simbah mpun makan?” (nanti kami jenguk ibu mbah, nyusul bapak.. simbah sudah makan?) sahut Anita, dia tidak begitu pandai menggunakan bahasa jawa halus, lalu memilih mencampuradukkan bahasa jawa dan indonesia.


Dia hanya perlu menenangkan simbahnya agar tak khawatir, reaksi Hanif nanti tentang jawabannya kepada simbah itu urusan nanti.


“uwes nduk, yo wes simbah arep nyang mburi meneh..” (sudah nduk, ya sudah simbah mau ke belakang lagi) simbah lalu berdiri dengan bantuan tongkatnya dan beranjak ke belakang.


“nggeh mbah..” jawab Anita.


Tangan kanannya mengusap punggung Hanif dengan lembut. Anita hendak mengucapkan kalimat saat Hanif tiba-tiba berdiri.


“mau kemana?”


“nanya simbah alamat perempuan itu..”


“ibu mas.. itu ibu mu.. ibu itu tetap yang melahirkanmu..” Ucapan Anita menghentikan langkah Hanif. Hanif berbalik menatap Anita tajam.


“apa hanya karena melahirkan kami lalu ia pantas dipanggil ibu? dia meninggalkan kami bahkan saat Hanum masih membutuhkan ASI darinya, Nit.. apa pantas dia dipanggil ibu?” suara Hanif memekik tertahan. Dia tidak ingin simbah mendengar adu mulutnya dengan istri. Tangan Hanif mencengkeram.


Mengendalikan emosinya sendiri yang selama ini ia tahan sangat menyulitkan saat ini, terlebih di hadapan istrinya. Dia ingin wanita yang sekarang jadi istrinya itu mengerti tentang sakit hatinya pada perempuan yang harusnya ia sebut sebagai ‘ibu’. Dia ingin menumpahkannya tapi ia takut justru akan menyakiti Anita.

__ADS_1


Anita kelu. Dia tak mampu memberikan jawaban tepat untuk Hanif, pikirannya membenarkan ucapan Hanif tapi di hati lainnya ia tak terima. Dia juga seorang perempuan. Di dalam hati kecil Anita berkata bahwa ibu itu punya alasan hingga harus meninggalkan tiga putra putrinya saat masih sangat belia bahkan balita. Perempuan mana yang dengan ringannya meninggalkan buah hatinya, kalau ia tak benar-benar memiliki alasan yang bisa dibenarkan.


Anita mendekati Hanif lalu memeluknya erat. Dia tak akan berkata apapun lagi untuk menghibur Hanif. Hanif hanya butuh teman, dia butuh orang yang membenarkan sikapnya.


“Maafin Anita mas.. Lakukan yang harus mas Hanif lakukan, Anita selalu ada disini..hmm?”


Air mata Hanif kembali tumpah di pelukan Anita. Tangannya menggantung, jari-jarinya yang tadi mencengkeram kini telah terurai.


Beberapa lama Anita membiarkan Hanif menumpahkan segala rasa yang ia tahan bertahun-tahun itu. Anita menahan Hanif di pelukannya. Hingga dirasa tangisnya mereda, Anita melepaskan pelukannya, menangkup wajah sembab Hanif dan mengusap air matanya.


“mas benar mau ke magelang?”


“hmm..”


“untuk apa?”


“kamu yang bilang tadi mau nyusul bapak kan?”


“Anita bilang begitu agar simbah tidak terlalu banyak memikirkanmu mas.. supaya mbah lega dan tidak terlalu khawatir. Tapi kalau mas enggan kesana ya sudah, tidak perlu. Kita tunggu bapak pulang saja..” ucap Anita menjeda. Ia ingin tahu jawaban Hanif. Tapi suaminya itu ternyata hanya diam menelisik dengan tatapan sayu ke arahnya.


“tapi mas.. ibu itu kritis sekarang, benar kita tidak pernah tahu umur seseorang bisa jadi ibu itu bisa melewati masa


kritisnya. Tapi apa salahnya mencoba kesana, menemuinya. Mas bilang sudah lupa wajahnya, kita kesana, setidaknya menghilangkan rasa penasaran akan sosok yang sudah tega meninggalkan 3 balitanya itu. hmm?” ujar Anita. Anita sengaja menggunakan kata-kata tajam seperti yang diucapkan Hanif, setidaknya Anita ingin Hanif merasa ia memiliki orang yang mendukung sikapnya.


\~\~\~\~\~


Bersambung..


Akhir-akhir ini view karya ini semakin melorot dari hari ke hari.. author jadi sedih..

__ADS_1


 author akan kembalikan judul dan cover judul seperti di awal, semoga menjadi lebih baik..


Jangan lupa like nya..


__ADS_2