Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
episode 404


__ADS_3

HAI READER KU TERSEYENG


JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA


KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


HAPPY READING YA GUYS


***💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


LANJUT*** ***


Silvia yang merasa senang hanya bisa tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata itu,hatinya begitu bahagia karena akhirnya bisa dikasih kepercayaan sebesar itu.


"Ya Tuhan terima kasih,aku janji akan menjaga dia sepenuh setulus jiwa.Tak kan ku sia siakan apa yang sudah kau percayakan ini,dan tak kan henti hentinya berdoa untuk kesehatan dia!" Batin Silvia doa tulus dari calon ibu,yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun itu.


Sarah hanya bisa mengelus perut rata milik Silvia,ia bahagia karena sebentar lagi ada yang akan memanggil dirinya Aunty.


"Aku senang karena akhirnya kamu bisa berhasil juga tidak sia sia,terbayar sudah kerja keras kamu setiap malam olahraga terus sama Davin." Ejek Sarah membuat Silvia mendengus kesal.


"Kurang ajar kamu ih,suka sekali bicara tidak jelas.Terus kamu sama Rino gimana,apa ada kemajuan atau kemunduran begitu?" Tanya Silvia memastikan.


"Hadeuh aku kira ada apa,ya begitulah kami akan menikah enam hari dari sekarang!" Jelas Sarah sambil tersenyum malu malu.


"Wow,cepat banget sih kalian ambil kesimpulan nya aku tidak menyangka lho!" Ejek Silvia.


"Kita kan juga pengen kawin kali Jeng,masa kamu doang tidur yang ditemani aku juga mau kali?" Jelas Sarah sambil tersenyum.


"Oh jadi ceritanya ada yang lagi pengen kawin begitu?" Ejek Silvia.


"Hem kurang lebih seperti itu,jangan di ejek terus dong aku nya kan jadi malu?" Kesal Sarah.


Keduanya hanya terkekeh geli Karena mendengar dan sadar apa yang mereka bicarakan,akan tetapi semua itu terhenti ketika perut Silvia berbunyi.


"Astaga keponakan Aunty lapar tuh kayanya,Ihh kamu Via tega amat sih sampai tidak kasih makan anak Kamu!" Ketus Sarah.


"Aku juga baru bangun kali Neng,jangan marah gitu napa?Ayo kita keluar sekarang,biar anak ku bisa makam!" Ajak Silvia.


Keduanya keluar dengan Sarah masih memegang tangan Silvia,Davin yang melihat sang istri hendak keluar kamar dan turun tangga ia langsung mendekat dan menggendong.


"Kamu kenapa tidak dikamar saja,kalau mau apa apa kan tinggal bilang?" Tanya Davin cemas.


"Aku nggak papa kok hanya pengen makan saja,lagian bosan kalau di kamar terus." Ujar Silvia.


Sarah mengikuti langkah pasutri itu sambil tersenyum,ia tahu dengan jelas betapa besar cinta Davin pada Silvia itu.


"Semoga kalian selalu bahagia dan kebahagiaan itu bisa menular padaku." Batin Sarah.


Semua menoleh kearah Davin yang sedang menggendong Silvia,karena cemas takutnya Silvia kenapa napa Yuli memilih untuk berlari menyusul.


"Via kenapa?" Tanya Yuli cemas.


"Hehe tidak ada apa kok Mah,hanya Avin saja kelebihan lebay!" Sahut Silvia sambil tersenyum.


"Mama pikir ada apa,Ya sudah ayo ikutan makan kebetulan tadi Sarah dan Rino beli makanan banyak!" Ajak Yuli.


"Wah semua pada kumpul ya ,dalam rangka apa nih?" Tanya Silvia heran.


"Senang karena kamu hamil jadi nya kita kumpul disini,selamat ya Nak jangan lupa selalu jaga kesehatan." Ujar Alan menimpali.


"Makasih semuanya aku senang sekali!" Ucap Silvia tulus.


"Iya sama sama." Sahut semuanya.


Setelah selesai sarapan tanpa ada yang namanya perdebatan seperti biasanya,mereka pun pamit untuk pergi melihat lihat gaun pengantin untuk Sarah dan Rino.


Keduanya adalah orang yang paling bahagia,karena hubungan mereka tidak perlu melewati banyak rintangan.


Bagaimana tidak,langsung menikah tanpa pacaran langsung disetujui orang tua tanpa mereka yang berusaha mengenalkan.


Bahkan ketemu bicara serius langsung membahas pernikahan,kalau begitu ngapain repot repot pendekatan jika nantinya bakal disetujui.


"Hah bahagianya aku karena akhirnya bisa dapat calon istri yang manisnya membahana." Batin Rino sambil sesekali memegang tangan Sarah.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanya Sarah penasaran.


"Aku bahagia karena ternyata datang ke indonesia tidak sia sia,ternyata Tuhan sudah menitipkan jodohku di negeri orang!" Sahut Rino sambil tersenyum.


"Aku saja bingung kok bisa ya jodohnya sama Kamu,pria songong menyebalkan dan juga cerewetnya sebelas dua belas dengan Kak Davin!" Ledek Sarah.


"Sayang biar menyebalkan begini tapi yang bisa bikin kamu klepek klepek lho!" Goda Rino.


"Masa sih perasaan aku biasa saja kenapa kamu yang lebay begitu?" Ejek Sarah lagi.


Rino tak bisa berkomentar banyak,karena sejak kapan seorang wanita kalau di ajak berdebat bakal mau mengalah.


Tak berselang lama mereka pun sampai di tempat yang dimaksud,sebuah butik high class dengan sasaran pengunjung adalah kalangan menengah atas.


"Kita kok kesini sih,ini itu mahal malu tahu belum kerja tapi habiskan uang orang tua?" Tanya Sarah ketus.


"Tapi aku kan sudah kerja uang aku ya uang kamu juga,jadi jangan banyak bicara aku mana mau kasih sesuatu yang biasa saja ke Kamu!" Ajak Rino untuk menyuruh Sarah masuk.


""Tapi Mama mereka kemana,kok kita malah pisah jalan?" Tanya Sarah lagi.


"Mereka lagi urusan yang lain soal katering sama undangan,kita cukup ukur gaun dan kalau Pas langsung di beli setelah itu pulang!" Jelas Rino agar Sarah tidak tanya banyak lagi.


"Eh iya tapi...


Cup


Rino mengecup bibir Sarah agar segera berhenti bicara,kalau tidak bisa dipastikan sampai butik itu tutup mereka tidak masuk sama sekali.


Bugh


Sarah memukul kuat lengan Rino,ia malu masa main nyosor di depan pintu tempatnya orang.Nanti kalau di bilang sudah tidak tahan lagi kan malu,karena malu itu di depan bukan di belakang.


"Aww,Sayang aku kenapa di pukul?" Tanya Rino heran.


"Makanya jangan asal main sisir saja,Kamu pikir aku tembok apa yang tinggal kamu tempel doang?" Ketus Sarah.


"Itu kan tandanya aku cinta,tidak perlu kapan saja dan di mana saja aku tetap akan melakukan itu." Ujar Rino serius.


Sarah sambil menghentakan kakinya masuk kedalam ruangan itu.Biarpun kesal tapi mau bagaimana lagi,mereka harus masuk akan tetapi dengan wajah Sarah yang cemberut.


"Aku itu lagi kesal sama Kamu,jadi jangan banyak bicara lagi bikin tambah emosi tau tidak?" Gerutu Sarah.


"Iya Maaf,ayo kita kesana!" Ajak Rino sambil menggenggam tangan Sarah.


"Waoo kita lihat siapa yang datang ini,ayo sini Tante tunjukan gaun rancangan terbaru!" Ajak wanita paruh baya yang berpenampilan modis.


"Lho dia kok bisa tahu tujuan kita kesini?" Bisik Sarah dan hanya di balas Rino dengan menggedikan bahunya.


Wanita itu tahu apa yang ada dipikiran Sarah,ia langsung mengatakan jika tadi sudah dikasih kabar sama Eva.


"Tadi Nyonya Eva Wijaya sudah telpon katanya put8rjya bakal datang untuk melihat gaun pengantin,ya makanya saat kalian datang Tante langsung tunjukan deh!" Jelas Wanita itu dan hanya dianggukan kepala oleh Sarah.


Wanita itu menunjukan beebaga8 macam gaun yang sangat cantik,mulai dari yang Mewah sampai yang sangat cantik bak princes.



Pilihan Sarah jatuh pada gaun yang belahan dadanya sedikit terbuka akan tetapi masih batas aman,hingga membuat Rino terpaku akan tetapi ia sedikit protes karena bagian belahan dadanya itu yang ehemm.



Sarah akhirnya menjatuhkan pada pilihan kedua,Rino memang menyukai nya karena sangat pas ditubuh Sarah hanya saja bagian dadanya itu lho.


"Untung juga ukuran wanita ku hanya 32 coba kalau lebih dari bisa dipastikan bakal meluber kemana mana." Batin Rino frustasi.


"Baiklah karena ukuran Nona sarah sudah cocok,sekarang giliran Tuan Mudanya!" Perintah Wanita pemilik Butik itu.



Karena memang stelan untuk pria itu tidak ribet makanya sekali pilih terus di pake langsung cocok,jadi tinggal saat hari H tidak perlu ribet lagi.


"Karena semua sudah beres bagaimana kalau kita jalan jalan menikmati waktu berdua dulu,karena besok lusa pasti bakal di larang untuk ketemu!" Ajak Rino.


"Tapi aku masih ingin ketemu Via,soalnya aku kangen banget lho sama dia.Sudah hampir berapa hari ini Kak Avin sibuk terus sama istrinya,sekalipun aku tak di ijinkan mendekat." Gerutu Sarah.


"Hah,kok gitu sih padahal yang jadi calon suami kamu itu aku bukan dia lho?" Tanya Rino heran.

__ADS_1


"Hadeuh kamu jangan lebay deh,aku itu ingin melewati masa masa lajang sama sahabat aku saja tidak lebih.Karena nanti setelah menikah waktu aku kan bakal habis hanya untuk Kamu,jadi jarang nanti sama dia." Sahut Sarah.


"Tapi Sayang kamu juga harus sadar kalau Silvia itu lagi hamil,dia butuh suaminya dan juga Davin pasti tidak ingin melewatkan momen bersama Silvia kan?" Tanya Rino mencoba untuk memberi pengertian pada sang calon istri.


"Ah kamu mah gitu,padahal aku kan hanya ingin main sama Via saja.Ya sudahlah ayo kita nikmati waktu sebelum menikah!" Ajak Sarah sambil tersenyum.


Keduanya menikmati waktu sebelum menikah yang merupakan masa masa yang tak kan bisa di lupakan,dimana belum ada anak yang selalu menggangu keromantisan pasangan.


"Kamu mau kita kemana dulu?" Tanya Rino.


"Aku mau ke hati Kamu!" Sahut Sarah menggoda Rino.


"Kalau begitu aku ke tukang Las dulu deh,supaya menambal hatiku agar tidak bocor supaya kamu tetap berada didalam sana tidak kemana mana." Sahut Rino.


"Haha gombalan receh loe!" Ejek Sarah.


"Biarlah yang penting sudah mencoba daripada tidak ada sama sekali,kan jadinya kaya aku nih pria banci yang kaku dalam berhubungan!" Bela Rino.


"Ya ya kamu itu selalu benar tak pernah salah,eh itu ada penjual Bakso mercon wuhh belum lagi penjualnya tampan bingo aku kan jadi mau." Ujar Sarah antusias lalu segera berlari kearah penjual Bakso itu.


Rino hanya geleng kepala bingung mau berkomentar apa,sudah begitu melihat wajah antusias milik Sarah itu membuat dirinya tambah takut untuk menggangu kesenangan nya.


"Begitulah wanita sudah ada yang bening disampingnya,masih saja kepincut sama yang model begituan.Kalau begini mah setelah nikah aku harus gas pol terus biar cepat isi,agar tidak manisu kemana mana!"Batin Rino.


"Hallo Abang Ganteng,aku mau dong Baksonya satu tidak pake sambal tidak pake saus yang banyak keduanya!" Pinta Sarah antusias.


"Bang Gerobaknya di jual tidak?" Tanya Rino karena kesal melihat tatapan kagum dari Sarah dan itu bukan untuk dirinya.


"Maksud akang teh apa?" Tanya penjual Bakso itu dengan logat sunda yang kental.


"Aku beli gerobaknya terus kamu pergi dari sini sekarang!" Jelas Rino akan tetapi Sarah yang merasa ada yang salah langsung menarik tangan Rino agar menjauh dari situ.


"Kamu kenapa sih pake beli tuh gerobak segala,aku itu hanya mau makan semangkuk doang bukan dengan gerobaknya." Gerutu Sarah.


"Aku itu juga mau menjauhkan kamu dari makhluk tak kasat mata yang sewaktu waktu bisa jadi pengganggu." Jelas Rino ketus.


"Kamu cemburu sama tukang bakso nya?" Tanya Sarah memastikan.


"Sudah tahu pake tanya lagi,mana tidak cemburu lihat tingkah kamu yang seolah memuja itu." omel Rino kesal.


"Wah kamu kalau sampai cemburu sama dia,itu artinya udah turun pamor dari CEO berubah jadi Kang Bakso." Ejek Sarah Serius.


"Kamu tahu tidak kalau aku itu tidak bercanda,bisa tidak mengerti barang sedikit saja?" Tanya Rino heran.


"Bisa tapi kalau cemburu yang tidak beralasan kaya kamu mah ogah,masa aku antusias sama Bakso nya salah apalagi sama Akang nya ben parah itu." Omel Sarah lalu kembali ke mobil akan tetapi suara penjual Bakso itu membuat Sarah menghentikan langkahnya.


"Mas ,Mbak tunggu!" Teriak pria itu.


"Ya?" Tanya Sarah heran.


"Mas,saya tahu saya itu tampan tapi hal ini hanya sebagai jurus marketing,tapi tidak ada niat mau jadi pria murahan Mas.Jangan takut ya atau mau rencana buat beli gerobak saya,orang saya saja tidak ada minat sama Mbak nya kok." Sial Mat perkataan Tukang Bakso itu membuat Rino jadi malu sementara itu Sarah hanya bisa menahan tawanya.


"Astaga aku malu sekali Tuhan," Gumam Rino lalu menarik tangan Sarah agar kembali kedalam mobil.


"Makanya Mas cemburu itu pake aturan,tidak semua orang susah itu tidak punya harga diri." Ejek Sarah membuat Rino tambah kesal.


"Kamu ih bukannya bantuin malah ikutan meledek,aku kan malu masa tukang bakso nasihatin aku,mana tadi tampangnya mengejek lagi.Untung juga tempat umum,bisa bisa sudah ku hajar tadi." Gerutu Rino.


"Uh cian deh loe,ayo kita ketempat lain saja daripada disini terus nanti kamu juga sensi tidak pake tapi." Sindir Sarah.


Rino pasrah karena memang tadi tingkahnya bikin malu saja,tidak sesuai dengan kebiasaannya selama ini.Mungkinkah ini yang dinamakan dengan Bucin akut,yang selalu saja takut kehilangan yang berlebihan.


"Bagaimana kalau kita ke pantai?" Tanya Sarah serius.


"Kamu yakin nanti kalau kaki kamu di tusuk paku atau apalah itu bagaimana dong,atau sakit karena angin laut nanti kita nikahnya gimana masa harus tunda lagi?" Tanya Rino frustasi.


"Astaga ada saja isi otak kamu itu,masa begituan saja takut ayolah jangan kelebihan lebay deh aku bukan anak kecil lagi yanh apa apa harus di jaga!" Pinta Sarah serius.


"Begitulah kalau sudah cinta,semua jadi serba cemas aku tak ingin kamu kenapa napa.Jadi ayolah jalan kemana begitu supaya lebih aman,terus kamu juga tidak kenapa napa." Bujuk Rino.


Mereka memutuskan untuk kembali kerumah Davin dan Silvia saja,karena tidak ada tempat untuk mereka tuju selain rumah mereka.


"Kamu yakin kita tidak akan di usir begitu?" Tanya Sarah memastikan.


"Kalau mereka usir kita tinggal tutup telinga kan gampang!" Sahut Rino santai.

__ADS_1


__ADS_2