Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 37 - Zahra


__ADS_3

Di tempat lain. Zahra tengah gundah gulana setelah mendapat telefon dari orang tuanya. Pasalanya kedua orang tuanya memberi kabar bahwa siang tadi ada seseorang datang untuk melamar Zahra.


Laki-laki tersebut adalah Wildan. Wildan adalah seorang duda tanpa anak dari kampung tempat Zahra berasal. Wildan masih terbilang muda, usia nya baru menginjak 30an, namun sayang pernikahannya terdahulu harus kandas karena istri nya memilih berkarier hingga urusan suaminya terabaikan apalagi urusan rumah tangganya barang tentu terbengkalai.


Kedua orang tua Zahra belum memberikan jawaban atas lamaran tersebut karena tentunya harus meminta persetujuan dari sang anak yang dipinang.


Zahra bingung saat ini. Dia sama sekali tidak mengenal sosok Wildan, hanya tahu wajahnya karena beberapa kali berpapasan. Namun menurut penuturan sang ibu, wildan adalah sosok yang bijaksana dan lembut.


“Wildan anak yang baik, nak. Beliau bijaksana, sopan dan sangat menghormati wanita. Keluarganya juga sangat baik. Tapi ya itu, beliau seorang duda. Bagaimana?”


Begitu kata Abah Zahra tadi saat berbicara di telefon. Beliau meminta jawaban dari Zahra atas lamaran yang Wildan ajukan.


“Zahra belum bisa memutuskan bah. Zahra bahkan lupa wajahnya seperti apa. Zahra tidak pernah mengenalnya, hanya beberapa kali berpapasan itu saja tanpa saling menyapa. Zahra meminta waktu beberapa hari untuk memikirkannya.” Jawab Zahra kepada abahnya.


“Baiklah, tapi jangan terlalu lama ya Zahra, kasian nak Wildan jika harus digantung tanpa jawaban. Oh iya, bapak akan kirimkan fotonya nanti. Jangan lupa kamu sholat istikhoroh meminta petunjuk sama Allah ya.” Begitu pesan abahnya tadi.


Zahra beberapa kali mengusap wajahnya dan juga mengacak-acak rambutnya saat satu pesan masuk ke handphonenya. Abah.


Ini foto nak Wildan.


Isi pesan yang sangat singkat disertai lampiran foto Wildan. Tiba-tiba seulas senyum muncul di wajah Zahra.


“tampan, boleh juga..” lirihnya konyol.

__ADS_1


Malam itu berlalu begitu saja di kamar kos Zahra. Dia melupakan perihal lamaran, kini ia tertidur pulas bersamaan dengan turunnya hujan.


***


Keesokan harinya, Zahra bersiap menuju kampus. Dia memiliki jadwal kuliah yang padat hari ini. Tapi sebelum Zahra berangkat ia teringat pesan abah.


Dia tidak boleh terlalu lama mempertimbangkannya dan juga harus sholat istikhoroh untuk meminta petunjuk. Lalu Zahra beranjak menuju kamar mandi, mengambil air wudhu. Setelahnya Zahra mengambil mukena dan melaksanakan sholat istikhoroh.


Di dalam doanya Zahra benar-benar meminta petunjuk kepada Tuhannya karena pernikahan adalah hal yang sakral dan bukan permainan. Zahra hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan dia tidak ingin salah mengambil keputusan.


Tiba di kampus, Zahra segera menuju ruang kelas. Anita sudah terlebih dulu berada di sana. Semester ini, mereka sekelas. Anita sengaja menyamakan jadwalnya dengan Zahra.


Karena alasan organisasi, agar memudahkan mereka dalam berkoordinasi. Padahal Zahra tahu betul itu hanya alasan kosong Anita.


“muka mu serius banget. Kenapa? Kangen aku ya?” seloroh Anita begitu melihat Zahra di pintu masuk dengan wajah kusut. Zahra mencebik, lalu memalingkan wajahnya sambil berlalu mencari posisi duduk yang ideal baginya.


“narsis..” kata Anita.


“memang..” balas Zahra.


Tidak berapa lama, dosen mata kuliah muncul. Kemudian sang dosen segera memulai perkuliahaan hari itu. Zahra, Anita dan teman-teman lainnya fokus menyimak penjabaran sang dosen.


Mata kuliah kali ini membutuhkan fokus  yang tinggi, namun berkat arahan kakak tingkat mereka, mereka berhasil memilih dosen yang tepat. Karena beliau ini sangat detail dan penjabarannya mudah dimengerti sehingga mata kuliah yang tadinya sangat rumit dibuat menjadi sangat menarik, semenarik penampilannya.

__ADS_1


2 jam mata kuliah tersebut berlangsung akhirnya selesai juga. Hanya ada jeda 15 menit sebelum berlanjut mata kuliah berikutnya. Namun Zahra dan Anita memilih menunggu di dalam kelas.


“Anita, nanti malem nginep kos ku ya?” pinta Zahra pada sahabatnya itu.


“kenapa emang? Tumben sekali..biasanya juga aku diusir-usir..” jawab Anita tanpa menatap Zahra yang sedang galau sebenarnya.


Anita masih memainkan handphone nya. Terlihat beberapa kali mengetik dan sesekali bunyi denting pesan masuk


yang berhasil membuat Anita tersenyum sipu.


“iishh.. kali ini aku tidak akan mengusirmu. Ada sesuatu yang mau aku ceritakan dan aku minta pendapatmu.” Saut Zahra.


Kali ini perkataan Zahra berhasil membuat Anita meletakkan handphone nya dan beralih menatap lekat Zahra.


“tentang?” tanya Anita penasaran.


“ya nanti saja, makanya kamu harus nginep malam ini di kos ku. Ok?” pinta Zahra sekali lagi.


“Selamat siang semuanya..” ucapan sang dosen yang baru saja masuk.


“baiklah..aku nginep nanti..” jawab Anita sambil berbisik.


\~\~\~

__ADS_1


To be Continue...


Jangan Lupa Vote and Like ya readers..


__ADS_2