
Malam semakin larut. Mendung yang sedari pagi menggantung kini menumpahkan bebannya dan hujan pun turun dengan derasnya membasahi bumi yang kering. Membasahi setiap hati dan jiwa yang haus akan kesejukan.
Sejak sore tadi, rumah itu sudah sepi tidak ada lagi tamu yang hilir mudik. Mama Rani juga meminta sudah pihak WO untuk membereskan sisa-sisa pesta itu.
Hanif dan Anita masuk ke dalam kamar setelah berbincang dengan ayah Rudi, mama Rani dan Azzam. Mengikuti Azzam yang sudah melenggang terlebih dulu ke kamarnya.
“sabar dulu ya Hanif..” ucapan mama yang penuh arti mengantarkan dua pengantin baru itu menuju kamarnya.
Hanif mengernyit mendengar ucapan sang mertua. Lalu beralih pandang menuju istrinya. Mempertanyakan maksud ucapan mamanya apa. Namun, bukan menjawab Anita malah mengusap dada Hanif sambil tersenyum penuh arti.
“kita ambil wudhu dulu setelah itu sholat dua rakaat. Setelah itu…” Hanif menggantungkan ucapannya. Dia malu hendak meneruskan sambil tersenyum sipu.
“mas..mmm, sebenarnya Anita lagi merah..”
“apa yang merah? Kaki tadi? Sakit banget ya?” tanya Hanif yang tak mengerti maksud Anita.
“bukan. Bukan itu.. Maksudnya Anita lagi haid..”
“hah??” tentu saja Hanif langsung terduduk lemas. Gagal malam pertama, pikirnya. Hanif menatap Anita sendu.
Sebenarnya ia pun malu jika harus sekarang memulai, terkesan penuh nafsu. Tapi apa mau dikata, memang begitu adanya. Melihat wanita yang sudah ia cintai begitu lama kini sudah sah berada dihadapannya. Tidak mungkin tidak segera ia rengkuh. Hanif kira dia bisa segera melahapnya.
__ADS_1
Flashback On
Tiga hari sebelum hari pernikahan. Anita tak tampak keluar dari kamarnya seharian penuh. Bahkan Anita melewatkan sarapan dan makan siang.
Sang mama yang tengah bersibuk mengatur pernikahan dibantu wedding organizer diterpa kekhawatiran.
Mama Rani masuk ke kamar Anita tanpa mengetuk pintu, didapatinya Anita tengah meringkuk di atas ranjang. Dahi nya dipenuhi peluh. Dua tangannya rapat melingkar di perut.
“kamu kenapa? Sakit?” tanya mama, lalu mengusap dahi Anita dari peluh yang membanjir.
“tapi nggak demam. Kamu kenapa?”
“mau minum obat nggak?” tanya mama lagi. Anita menggeleng.
“besok juga pasti hilang kok nyerinya. Karena ini hari pertama jadi sakit.”
“ya sudah, kamu istirahat aja. Ya ampun Anita.. kasihan sekali Hanif..” Anita mengernyit. Masih belum paham apa maskud mamanya. Mama terkekeh melihat ekspresi tak paham Anita. Lalu pergi begitu saja keluar kamar.
Flashback Off
Sedikit kecewa. Namun apa mau dikata. Hanif paham betul tentu itu bukan kuasa Anita.
__ADS_1
Anita tersenyum melihat ekspresi suaminya itu. Lalu menangkupkan tangan ke wajah sang suami.
“maaf ya..” ucapnya lembut.
“sudah berapa hari?” tanya Hanif. Dia harus tahu berapa lama lagi dia harus berpuasa.
“sekarang hari ke-4..”
“biasanya berapa lama?”
“7 sampai 8 hari..”
“baiklah..huuuff.. ya sudah kamu tidur dulu. Mas mau ke kamar mandi sebentar ambil wudhu.” hanif melepaskan tangan Anita di wajahnya.
Sudah menjadi kebiasaan Hanif jika hendak tidur, dia harus dalam keadaan berwudhu. Selain karena sunnah, Hanif juga merasa tidurnya menjadi nyenyak setelah berwudhu.
“apa itu yang mama maksud kemarin tentang kasihan Hanif?” Anita terkekeh kecil mengingat ucapan sang mama. Anita merasa lucu dan bersalah dalam waktu bersamaan.
Keluar dari kamar mandi, Hanif melihat Anita sudah meringkuk di atas ranjang. Hanif menghampirinya. Tersenyum padanya meski Anita tak melihat senyum itu.
Kemudian menyusul berbaring di belakang Anita. Hanif memeluk Anita dari belakang lalu menciumi kepala perempuan yang sangat ia cintai itu.
__ADS_1