Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 68 - Semoga Beneran Jadi


__ADS_3

Keriuhan di rumah Anita dimulai kembali, dua minggu lagi Azzam akan melamar pujaan hatinya, mama Rani tengah bersibuk kesana kemari menemui saudara satu per satu untuk menyampaiakan kabar bahagia, yang sebenarnya sudah didengar oleh mereka.


Tak apa, tak ada salahnya mengulang lagi kabar bahagia itu sekaligus untuk meminta mereka ikut menghantarkan Azzam meminang seorang perempuan. Impian mama Rani yang sangat sederhana bagi Azzam namun baru sekarang akan ia wujudkan. Semoga kali ini memang telah tiba jodoh sesungguhnya.


Tanpa diduga, ayah Rudi telah merencakan acara lamaran itu sekaligus dirangkap dengan acara ijab qabulnya.


Mereka bersepakat untuk mempercepat pernikahannya. Dua minggu lagi acara lamaran yang akan digabungkan langsung dengan pernikahan.


Terkesan terburu, namun pak Rudi menghendaki seperti itu. Sekalian repot sekalian cepat selesai. Dan azzam segera melepas masa lajangnya. Dan ayah segera melepaskan tanggungjawab sebagai ayah. Begitu kata pak Rudi.


Anita bergiliran membantu kerepotan persiapan pernikahan sang kakak yang sangat mendadak itu. anita masih belum bertanya siapa calonnya, namun saat melihat nama di kartu undangan Azzam, Anita mengernyit.


“Indira? Mungkinkah mbak indira temanku? Nama panjangnya persis sama.” Gumam Anita seorang diri.


Anita segera berlari menemui kakaknya di teras belakang rumah. Kakaknya itu sedang berbincang dengan Hanif. Ditemani secangkir kopi yang Anita buatkan tadi,  Hanif meminta pendapat dan saran tentang rencana kelanjutan studi S3-nya.


“mas..”


Keduanya menengok, Anita hanya memanggil dengan sebutan mas, tanpa nama yang mengiringi, hingga membuat kedua lelaki itu beradu pandang.


“mas siapa yang kamu panggil?” tanya Azzam.


“hehe, mas Azzam..”

__ADS_1


“kenapa?”


“ini Indira siapa?”


“calon mas lah, kamu gimana sih..”


“maksud Anita, indira yang mana? Nama panjang nya bahkan sama persis dengan mbak indira teman Anita itu, yang waktu itu kita ketemu di masjid di kota baru..”


Azzam hanya diam, menoleh pada Hanif sebentar lalu menyesap kopi pahit nya.


“bener ya? Indira? Mbak indira temanku?”


“hmm..”


Seketika Anita tergelak. Dia tertawa terbahak sangat keras sebelum Hanif menghentikan.


“maaf mas..”


“kok bisa? Mas kenal dimana? pas ketemu itu udah kenal sebenernya? Iya kan? Pasti kan? Tapi kok mbak indira diam aja..”


Melihat Azzam yang bergeming membuat Anita semakin geram.


“mas.. jawab..”

__ADS_1


“emang harus dijawab? kenapa sih kepo banget..”


“heleh, mas dulu juga gitu soal Zahra.. jawab sekarang atau Anita sendiri yang tanya ke mbak indira..”


Setelah memberikan tatapan tajam nan menghunus ke arah Anita, Azzam menghela nafas berat, sangat berat. Hanif yang sedari tadi melihat interaksi kakak dan adik bak kucing dan anjing, Anita sebagai kucingnya tentunya. Hanif hanya mengulum senyum.


Istrinya memang kejam. Batinnya.


“ayah yang ngenalin. Indira itu anaknya teman ayah di Bandung..puas?”


“belum.. terus? Tunggu… jangan-jangan pas di masjid Kota Baru itu mas sengaja memang kesana kan? Memang untuk ketemu kan? Mbak Indira tahu soal itu?”


“Hanif, bawa istrimu ke dalam, pusing aku denger ocehannya..”


“haha, baik mas..” Hanif tergelak dan menuruti Azzam. Kakak iparnya yang kalem itu sepertinya sangat terganggu dengan sikap Anita yang susah dikontrol.


Hanif menggenggam tangan Anita mengajaknya meninggalkan Azzam, tapi Anita terpaku.


“aku belum selesai mas.. tunggu dulu, sebentar aja.. ya?” pintanya pada Hanif. Hanif tak bisa berbuat apapun sekarang.


“mas..semoga beneran jadi sama mbak indira ya, Anita udah nggak punya teman lain selain mereka..” bisik Anita dekat di telinga Azzam.


Selesai mengucapkan kalimat terakhirnya Anita segera berlari dan tertawa terbahak. Azzam ternganga, berdiri secepat mungkin dan menangkap Anita namun gagal. Kalah gesit dengan gerakan adiknya yang usil itu.

__ADS_1


“awas kamu ya…” seru Azzam..


“sabar ya mas..” ucap Hanif, dia belum sepenuhnya mengerti situasinya. Sebisa mungkin ia menahan tawa sambil berlalu menyusul Anita.


__ADS_2