Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 14 - Saling Meminta Maaf


__ADS_3

Cukup lama Anita di mushola tersebut. Beberapa kali handphone nya bergetar tapi dia tak sempat menjawab. Dari Zahra dan Hanif. Anita kemudian menyudahi ibadahnya, melipat mukena, mengembalikannya ke lemari dan kembali ke tempat duduknya. Tas, laptop dan beberapa buku diktat yang ia pinjam masih ia tinggal di tempat duduknya. Dari kejauhan terlihat Zahra duduk di sana. Zahra pun melihat Anita yang melangkah mendekat.


“kenapa telfonnya nggak diangkat?” tanya Zahra.


“sholat” jawab Anita singkat.


“mas Hanif belum datang?” tanya Zahra lagi.


“kamu lihat disini ada nggak? kalau nggak ada berarti belum datang..” Jawab Anita cuek.


“hiiissshh..” Zahra hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia sudah hafal sikap sahabatnya itu, maka Zahra juga tidak mengambil pusing walaupun sebenarnya kesal juga.


“zah..” panggil Anita.


“hmmm..”


“kemarin kamu bilang aku harus menyelesaikan masalah ku dulu kan? Dan sekarang aku mau menyelesaikannya..” ujar Anita, ia masih menunduk menatap laptopnya. Selalu begitu ketika berbicara tentang Hanif. Dia tidak berani menatap mata Zahra, karena dia tahu sahabatnya itu pandai sekali membaca apa yang di dalam pikiranya melalui matanya.


“hmm, baguslah..terus?” tanya Zahra.


Melirik Anita karena jawaban yang diminta tak kunjung keluar. Lirikan itu kemudian berubah menjadi tatapan tajam. Anita menengok ke arah Zahra, pelan. Dia bingung harus bagaimana dia mengatakannya , takut kalau-kalau sahabatnya tersinggung.


“oke.. aku mengerti..” ucap Zahra kemudian.

__ADS_1


Saat hendak berdiri, Anita menahannya.


“mengerti apa?” tanya Anita bingung.


“aku mengerti aku harus menyingkir terlebih dahulu karena kamu mau bicara berdua dengan mas Hanif. Betul kan?” ucap Zahra sambil menatap Anita lembut.


Anita kini mengerti dan melempar senyum kuda. Dia lega karena sahabatnya tau kerisauan hatinya.


“telfon aku kalau sudah selesai.” Pinta Zahra dan Anita menjawab dengan anggukan.


Saat keluar, Zahra berpapasan dengan Hanif di pintu lift.


“Zahra, mau kemana?” tanya Hanif. Karena Hanif tau Zahra harusnya ikut bergabung dengannya dan Anita.


“beli makan bentar mas. Anita di ujung sebelah kanan, dekat dinding kaca..” jawab Zahra.


“makasih..” ucap Hanif. Hanif hanya tersenyum saat mendengar kalimat terakhir Zahra, dia pun tak mengerti kenapa Zahra mengatakan hal seperti itu.


Hanif berjalan sambil melihat sekeliling, selangkah demi selangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh Zahra. Tiba-tiba dirinya merasa gelisah dan berdebar melihat sosok di ujung dekat dinding kaca. Ya, itu Anita. Hanif menghentikan langkahnya, melihat Anita dari kejauhan membuat rasa bersalah yang dari kemarin bersarang bertambah banyak dan memenuhi kepalanya.


Hanif menghela nafas berulang kali dan mendekati Anita. Sadar kedatangan seseorang Anita menoleh, sedetik kemudian melempar senyum saat tahu siapa yang datang.


“assalamu’alaikum, Nit..” ucap hanif. Saat dirinya hendak duduk, Anita berkata..

__ADS_1


“wa’alaikumussalam, kemarin bilang katanya kamu mau menungguku, ternyata aku yang menunggumu..”


Hanif tergelak, sepertinya kata-kata itu tidak asing baginya. Lalu, sedetik kemudian menyadari bahwa itu kalimatnya sendiri, Hanif tertawa. Bersamaan dengan tawa Anita. Mereka berdua saling menatap, hanya dua detik, lalu Anita kembali menunduk dan menyampaikan maksudnya meminta bertemu.


“mas Hanif..”


“Anita..” Ucap mereka bersamaan. Kemudian tertawa lucu.


“silahkan, kamu duluan.” Kata Hanif.


“saya minta maaf soal kemaren mas, sepertinya saya terlalu memaksakan kehendak saya dan melewati batas..” ucap Anita memulai.


“aku juga mau minta maaf. Sebelum bahasan kita kemaren sebenarnya pun aku sedang banyak pikiran. Jadi saat mendengarmu ngotot aku juga ikut terpancing emosi.. maafkan aku.” Ujar Hanif menimpali.


“apa mas masih salah paham denganku?” tanya Anita ragu.


Hanif mengernyit.


“apa maksudmu? Salah paham apa?”


“mmm, soal kenapa saya menjauhi mas Hanif..” jawab Anita. Hanif terkekeh.


“kan sebelumnya kamu sudah menjelaskan sikapmu, jadi kenapa aku harus salah paham. Dan dari kemaren kamu masih berpikir tentangku seperti itu?”

__ADS_1


Yang ditanya hanya mengangguk malu.


Setelah itu mereka berdua menjadi lebih santai, mulai berbincang tentang kuliah, teman, lingkungan dan yang harusnya segera diselesaikan malah terlupakan. Ya, tugas dan tanggungjawab mereka di organisasi. Pun juga tentang Zahra, mereka lupa bahwa Zahra seharusnya segera bergabung.


__ADS_2