
Malam hari tiba, perut Anita yang sudah terasa melilit sejak sore sudah tidak dapat ditahannya. Anita membuka handphonenya, mencari aplikasi pesan antar makanan.
Beberapa lama ia memilah sembari bertanya pada Zahra. Zahra ingin makan Nasi goreng seafood saat itu dan Anita menambahkan cumi goreng sebagai makanan pendamping.
20 menit berselang, abang memakai jaket warna hijau sesuai dengan warna aplikasi itu membawa pesanan mereka. Anita segera menyerahkan uang kepada abang tersebut dan mengambil pesanannya.
Semerbak harum nasi goreng seketika memenuhi ruang tamu kecil milik Zahra.
“Zah, ayo makan..” teriak Anita dari ruang tamu. Ia lalu menyiapkan piring dan sendok, menatanya untuk Zahra juga. Tak lama, Zahra pun keluar kamar dan ikut bergabung di ruang tamu. Tiba-tiba ia perutnya kembali mual saat mencium aroma menyengat nasi goreng itu. Zahra membekap mulutnya sekencang mungkin, tapi...
“hueeeeekk..hueeeekk..”
Nasi goreng seafood yang sangat ia sukai dulu tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat menyengat dan menjijikkan. Anita membola, ia sangat terkejut dengan reaksi Zahra hingga membuat ia bingung.
Zahra segera berlari ke kamar mandi. Kembali memuntahkan isi perutnya, yang sebenarnya sudah kosong karena belum sempat terisi sama sekali.
Anita mengikutinya di belakang, menepuk-nepuk punggungnya. Selesai dengan hajatnya, Zahra kembali lemas. Anita mengusap lembut punggung Zahra, lalu memapah Zahra membawanya ke
kamar.
“nit, aku ga suka bau nasi gorengnya.. kamu makan di luar saja ya, please!!” ucap Zahra memelas. Ia merasakan pusing di kepalanya. Lalu memilih merebahkan tubuhnya setelah menggak segelas air putih.
“tiba-tiba? Tapi kan itu makanan kesukaan kamu, Zah? kamu juga yang mau makan itu tadi..” tanya Anita keheranan melihat tingkah aneh Zahra.
“aku juga nggak tahu, baunya membuatku mual.”
“ya sudah. aku makan dulu kalau begitu, habis ini kita ke klinik. Tidak ada penolakan!!” pinta Anita, dia sedikit memaksa. Dan Zahra pun tidak berkutik sehingga hanya mampu menuruti perkataan Anita.
Anita beranjak keluar membawa makanannya. Menyelesaikan makannya dengan cepat lalu membersihkan semua sisa makanan. Bahkan Anita juga menyemprotkan parfum sebanyak mungkin agar bau nasi goreng tersebut menghilang.
Di kamar, Zahra memainkan handphonenya, mengirim pesan pada sang suami tentang kondisinya. Tak lama setelah pesan dikirim, hanphone Zahra berdering, panggilan dari Wildan, dan segera Zahra mengangkatnya.
“assalamu’alaikum mas..” sapa Zahra.
“wa’alaikumsalam. Masih lemas sekarang sayang? Sudah makan?” Suara Wildan terdengar sangat khawatir. Sedang Zahra malah tersenyum, perasaannya tiba-tiba menghangat setelah mendengar suara sang suami.
__ADS_1
“sudah lebih baik, tapi aku belum makan. Anita tadi beli nasi goreng seafood kesukaanku tapi entah kenapa justru Zahra malah jijik melihatnya, bau nya pun bikin mual. Anita aku suruh makan di teras. Kasihan dia.hehe..” Zahra terkekeh mengingat Anita menjadi korbannya.
“maafkan mas tidak ada di sampingmu..” tutur Wildan melemah, suaranya lesu penuh sesal.
Saat seperti itu pasti Zahra sangat membutuhkan suaminya di samping yang menemani. Tapi apa daya, karena Long Distance Marriage mereka terpaksa menahan diri terlebih dulu.
“nggak apa-apa mas, ada Anita yang menemaniku. Malam ini dia menginap disini. Oh ya, habis ini Zahra mau periksa dulu, mudah-mudahan cuma masuk angin biasa.” Ujarnya, justru Zahra yang menenangkan suaminya agar tak terlalu khawatir.
“Zahra..Aku pesan taksi online dulu ya, kamu bersiaplah..” ucap Anita melongok di tepi pintu, menyela pembicaraan Zahra dan suaminya.
“tidak usah, kita naik motor saja, aku kuat kok. Lagian kan deket juga.” Ucap Zahra. Anita mengangguk telunjuknya bertaut dengan ibu jari membentuk simbol ‘OK’.
“mas, sudah dulu ya, Zahra mau siap-siap..” lanjutnya kepada sang suami.
“baiklah, nanti kabari mas lagi hasilnya ya sayang. Jaga dirimu baik-baik dan hati-hati.. oh iya, sampaikan terima kasih mas untuk Anita ya..” ujar Wildan, lalu mereka saling mengucap salam dan menutup sambungan telefonnya.
Zahra selesai bersiap, saat keluar kamar Zahra mencium bau yang sangt wangi.
“kok wangi banget, kamu pakai apa, Nit?”
“Ayo berangkat.” Ajak Anita.
“ok”
5 menit berjalan, mereka sampai di klinik. Setelah mendaftar dan menunggu sebentar, dan akhirnya Zahra diperiksa dokter. Dokter bertanya tentang keluhan yang dialami Zahra. Zahra pun mendeskripsikannya detail tidak ada yang ditutup-tutupi.
Dokter itu tersenyum, lalu segera memeriksa Zahra dan melakukan tes urine. Zahra dan Anita masih belum paham apa yang terjadi.
Selang beberapa lama, dokter masuk lagi ke ruangannya membawa secarik kertas dan sebelum menyerahkannya pada Zahra, dokter tersebut bertanya tentang keberadaan suami Zahra.
Seolah tahu bahwa Zahra sudah menikah. Zahra menceritakan kondisinya kepada sang dokter, sesekali Anita ikut menimpali menambahkan cerita, dan dokter itupun mengangguk-angguk tanda mengerti.
“selamat ya mbak, mbak sedang hamil..” ucap dokter tersebut singkat.
Sekejap kemudian Anita berhambur memeluk sahabatnya. Air matanya ikut menetes ketika mendengar Zahra sesenggukan di bahunya.
__ADS_1
Setelah lama mereka berharu ria, dokter menjelaskan secara rinci tentang fase kehamilan, apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hingga sekian menit lamanya mendengar penjelasan dokter.
Anita dan Zahra kemudian kembali ke kontrakan dan beranjak ke kamar masing-masing. Zahra segera menghubungi suaminya, sedangkan Anita? Mengirim kabar gembira itu pada mamanya dan Hanif.
***
Hampir tengah malam saat terdengar dering telefon di handphone Anita. Rupanya mas Hanif yang telfon. Aita mengusap tombol hijau lalu menyapa.
“Assalamu’alaikum..”
“wa’alaikumsalam, belum tidur dek?” tanya Hanif.
“kalau Anita sudah tidur tidak mungkin telefon ini terjawab kan?” jawab Anita apa adanya namun terkesan sarkas. Lalu ia terkekeh. Hanif pun ikut terkekeh.
“iya sih..haha..terus lagi ngapain?”
“ngerjain skripsi, mau masuk bab 2 ini..” jawab Anita singkat. Ia memakai headset di telinga sehingga tangannya bisa sambil terus mengetik di atas keyboard laptop.
“ya sudah, dilanjut dulu..” ucap Hanif singkat.
“udah gitu doang? Pesan Anita tadi kenapa nggak dibalas?” seloroh Anita dengan dahi berkerut. Pasalnya, pesan darinya tadi tidak berbalas, lalu telefon hanya berucap beberapa kata.
“mas bingung mau bales gimana, yang jelas mas ikut bahagia mendengar kabar itu. sampaikan ke Zahra, mas doakan kehamilannya sehat sampai persalinan nanti..” ujar Hanif.
“aamiin..” ucap Anita dan Hanif bersamaan.
“innsyaallah besok Anita sampaikan..kalau gitu sudah dulu ya..assalamu’alaikum..”
“waalaikumsalam..”
Lalu tut tut tut. Sambungan terputus.
***
Tut Tut Tut.. Kita juga bersambung dulu ya..
__ADS_1
kasih likenya ya.. jangan lupa