Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 58 - Menyampaikan Niat (2)


__ADS_3

Lanjut ya...


Tapi like dulu..


_________


“Kenapa mas memilih Anita?” satu pertanyaan lolos dari mulut Anita, Hanif kembali tersentak.


Apakah Anita masih meragukanku? Atau dia hanya mengujiku di depan kedua orang tuanya? 


Bukan hanya Hanif yang tersentak, hampir semua orang di dalam ruangan itu menatap penuh tanya pada Anita.


“Anita..” sela sang ayah dengan lembut. Ayah Rudi khawatir Anita akan membuat canggung suasana.


“sebentar saja ayah..” pinta Anita. Ayah Rudi menengok ke arah istrinya meminta pendapat, mama Rani seolah mengerti kegundahan Anita, lalu memberikan anggukan kepada suaminya, agar suaminya memberikan kesempatan pada Anita.


Hanif termangu, matanya tajam membola menatap Anita. Dia masih terdiam. Dia tidak tahu jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. bukankah kendali atas hati adalah pada sang Pemilik Hati. Hanif hanya mengikuti keyakinan hatinya. Lau untuk apa dipertanyakan, bukankah Anita sudah memahaminya?


“meskipun dulu sudah pernah kukatakan padamu, sekarang akan aku katakan lagi secara langsung dihadapan orang tuamu. Kamu itu seperti penyembuh luka untukku, Anita. Kamu tahu betul keadaan keluargaku, kamu juga tahu bagaimana sakitnya perjalanan hidupku, tapi hanya dengan berbincang denganmu saja aku merasakan sakitku perlahan hilang. Aku pun merasakan kehangatan keluargamu. Dan aku pun ingin memiliki keluarga seperti itu, bersamamu.” Hanif menghela nafas dalam, dan…


“maukah kamu menikah denganku Anita Shoffiyah?”

__ADS_1


Di sisi lain para ibu-ibu juga sedang menahan tangisnya. Ucapan Hanif benar-benar membuat semua wanita ikut merasa pilu.


Terutama kedua Hanif, Hanna dan Hanum yang tahu betul bagaimana kakaknya itu berusaha keras untuk dirinya sendiri dan keluarganya yang rumit.


Anita menatap Hanif dengan yakin meskipun matanya berembun. Ia menahan sesak di dadanya sejak tadi, lalu segera ia memberikan anggukan pada Hanif sambil tersenyum simpul.


Mata Hanif pun ikut menganak sungai, namun sekuat tenaga ia tahan agar tak segera membanjir.


“alhamdulillah” ucap semua orang serentak. Begitu pula Hanif. ia menatap Anita lekat, matanya berbinar lalu mengulas senyum di wajahnya.


“Karena Anita sudah menerima lamarannya, maka om dan tante tentu saja akan memberikan restu. Semoga hubungan ini berjalan lancar sampai pernikahan nanti. Aamiin.” Ucap Ayah Anita.


Selanjutnya, Hanif memberikan cincin pada Anita yang diwakilkan kepada simbah Hanif untuk memakaikannya di jari Anita.


“tapi ayah..” Anita menyela. Semua orang menatap lekat ke arahnya.


“apa ayah tidak keberatan? Anita bahkan belum menyelesaikan skripsi Anita..”


“ya ampun nduk, ayah pikir ada apa.. Skripsi tidak akan otomatis gagal kalau kamu sudah menikah kan? lagipula bukan besok menikahnya, sebulan atau dua bulan ke depan,


cukup kan untuk menyelesaikan skripsinya?”

__ADS_1


Anita mengangguk. Ayah Anita, Paklek Hanif, Hanif, Azzam dan dua orang lainnya segera berunding menentukan tanggal pernikahan. Sedangkan lainnya, dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan.


"monggo bapak ibu, dicicipi hidangannya.. sederhana saja ini, saya siapkan makanan khas Surabaya, kampung saya.." ucap mama Rani pada tamu-tamunya.


Handphone Anita bergetar. Satu pesan dari Zahra. Anita langsung membukanya.


Alhamdulillah akhirnya dilamar juga. Selamat ya my best friend.


Diikuti emoticon cium dan stiker memeluk. Anita tersenyum membaca pesan itu, tapi tiba-tiba berubah raut mukanya..


“Kok Zahra tahu kalau hari ini aku dilamar??” Gumam Anita lirih.


******


Bersambung...


Lega ya.. agak lega karena Anita sudah diberi kepastia..


Yang masih nunggu kepastian, harap bersabar.. hehe


Mohon maafkan kalau ada typo penulisan ya.. Author juga menerima saran dan kritik loh, tapi mohon disampaikan dalam bahasa yang sopan dan santun ya..

__ADS_1


Mulut kita adalah cerminan diri kita..


__ADS_2