
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ***
Sarah terharu dengan kasih sayang yang diberikan Yuli itu,ia akui wanita yang tetap cantik walau sudah lanjut usia itu hatinya sangat lembut.
Ia sadar bahwa Rino memang hanyalah anak angkat,akan tetapi perlakuan Yuli dan Dika sungguh sangat tulus hingga bahkan jika orang baru mereka tak akan menyadari status Rino yang merupakan anak angkat.
"Makasih Mah,karena sudah mau menerima dia disini." lirih Sarah .
"Kamu tolong jangan sia siakan perasaan dia ke kamu,karena hanya kamu yang bakal selalu temani dia besok lusa.Dia sudah tidak punya siapa siapa lagi ,selain kita jadi buatlah dia agar selalu Tersenyum karena kamu lah sumber dari semua itu!" Pinta Yuli sambil mengusap pelan rambut Sarah sambil tersenyum.
"Tentu mah aku akan melakukan itu semua tapi tidak berani berjanji,karena sifat manusia yang mudah sekali untuk melupakan janji itu." Sahut Sarah serius.
"Iyap betul sekali nak jangan pernah mengucapkan janji,jika nantinya tidak bisa ditepati karena hanya akan menimbulkan dosa saja." Yuli setuju dengan jalan pikiran wanita yang ada dihadapanya itu.
"Ya sudah kamu tidurnya ya,jangan lupa kunci pintu nya biar pencuri tidak masuk." Ujar Yuli sambil tertawa dan Silvia tahu siapa itu pencurinya.
"Oh tenang saja Mah,aku bakal waspada kok jadi kalau pencurinya mau masuk biarkan dia gedor terus satpam yang bertindak." Sahut Sarah membuat Yuli terkekeh.
Ketika ia keluar dan kebetulan Rino juga berada di depan pintu,pemuda itu langsung memeluk Mamanya yang paling ia sayangi itu.
"Makasih Mah,makasih karena sudah memberikan kasih sayang yang selama ini tak pernah aku dapatkan." lirih Rino sambil menahan tangisnya.
"Heii anak Mama jangan cengeng dan kamu mau di ejek sama Papa dan Davin?" Bujuk Yuli yang juga tak tahan melihat kesedihan dimata putranya itu.
Dika yang melihat semua itu hanya bisa tersenyum ,ia tak ingin merusak momen ibu dan anak itu.
"Kamu itu anak Mama dan Papa sudah sepantasnya mendapatkan apa yang seharusnya ,jangan pernah merasa berkecil hati karna Mama tidak mau itu terjadi." Sambung Yuli lagi.
"Aku rasa ini seperti mimpi bahkan mimpi yang tak pernah aku bayangkan sama sekali ,punya orang tua yang sayang dan tak pernah membeda bedakan aku dengan anak kandung." Lirih Rino.
"Hei jangan bicara begitu Mama tidak suka lho Nak,ayo kembali tidur masa besok pagi pengantinnya molor nanti Sarah di bawah kabur baru nyaho." Bujuk Yuli yang mencoba ingin mencairkan suasana.
"Tapi aku mau lihat Sarah dulu...
"Eitss jangan harap ayo kembali ke kamar kamu,lagian anak orang sudah tidur kok kamu mau ngapain?" Tanya Yuli heran.
"Ya ucapan selamat malam gitu atau apa lah?" Rino memberikan alasan agar bisa di ijinkan masuk kedalam.
"Sudah Mama sampaikan jadi jangan di ucapkan lagi nanti basi,lagian besok kan bisa berdekatan terus kaya perangko jadi jangan aneh aneh ayo kembali tidur sana." Ujar Yuli lalu menarik tangan Rino agar kembali kedalam kamarnya.
"Mah cuma sedikit doang habis itu janji deh bakal kembali lagi kedalam kamar ku!" Bujuk Rino lagi.
"Kamu pikir Mama percaya gitu,nanti katanya sedikit lama lama berubah jadi banyak setelah itu besok anak orang tidak akan bisa jalan lagi karena ulah kamu." Sahut Yuli tajam.
"Mama tega sekali masa sama anak sendiri tidak percaya,aku janji hanya semenit saja Mah!" Pinta Rino bahkan sambil mengatupkan kedua tangannya agar Yuli luluh.
"Bodoh amat,yang penting ayo kembali mau sedetik atau apa itu pokoknya masuk tetap harus masuk!" Ketus Yuli dan mau tak mau Rino ikut saja akan tetapi suara nya yang menggelegar membuat Yuli terpaksa memukul bahunya kuat.
"Sarah Alicia Wijaya Aku kangen!" Teriak Rino membuat Yuli menjadi gemas lihatnya.
Bugh
"Dasar anak nakal bikin malu,Rindu itu cukup di rasakan dan dipahami bukan untuk di kumandangkan kaya orang lagi pidato!" Kesal Yuli.
__ADS_1
"Awww Mah kok main pukul saja sih itu kan sakit,wah ini sudah tidak benar nih mana ada pengantin di pukul pas mau nikah?" Kesal Rino.
"Ya makanya jangan bertingkah aneh,cepat masuk soalnya Mama ada urusan lain!" perintah Yuli kesal.
"Ya Mama pergi saja toh lagian aku juga tahu kok jalan arah ke kamarku!" Ujar Rino yang ia pikir Yuli bisa di bohongi.
"Woii kamu pikir Mama tidak tahu ada udang di balik bakwan begitu ,ayo sana masuk mana kunci kamar kamu nanti besok pagi Mama yang akan buka lagi!" perintah Yuli lalu segera mendorong tubuh Rino agar kembali masuk kedalam kamar nya.
Setelah di pastikan beres ia menuju tempat dimana pasangan yang sudah lanjut usia berkumpul,sungguh pemandangan yang menghangatkan hati dan pikiran.
"Jadi Ibu pawang sudah kau atur anak anakmu?" Tanya Lika sambil tersenyum.
"Sudah ku kembalikan ke habitatnya dan besok pagi baru di kasih keluar dari kandang lagi." Sahut Yuli.
"Sarah sudah tidur Yul?" Tanya Eva.
"Sudah dong,tenang saja yang sudah tua saja aku bisa bikin tidur dalam lima menit apa lagi yang baru menetas lebih gampang lagi." Goda Yuli sambil menatap kearah suaminya itu begitu pun dengan Dika yang sedang menatap kearah Yuli.
"Via tadi suruh Sarah goyang bebek lho,apa dulu kamu hamil minta yang aneh aneh Beb?" Tanya Yuli sambil tertawa.
"Aihh itu bukan Mamanya sayang,tetapi aku yakin keanehan itu berasal dari Papanya!" Ejek Dika sambil tersenyum mengejek kearah Alan yang sudah tahu kearah mana pembicaraan Dika nantinya.
"Lho kenapa harus aku,terus kamu nya gimana aku yakin lebih parah bahkan aneh bin ajaib?" Sahut Alan tak terima.
"Kenapa jadi kalian yang berdebat perasaan aku hanya bilang itu saja,bukan minta kalian buat saling tuduh?" Tanya Yuli heran.
"Ya kan harus di rincian biar cunguk ini sadar diri,tidak percaya diri padahal jeleknya minta ampun." Sahut Dika.
"Idih Burik sok manis padahal pahitnya mengalahkan pare." Alan menimpali tak mau kalah.
"Astaga kalian berdua ini kenapa,malu dong Sama Mas Heri." Omel Yuli.
"Lho dia kamu panggil Mas,kok aku kamu panggil tidak ada manis manisnya?" Tanya Alan tak terima sama sekali.
Semua orang disitu hanya bisa tertawa saja mendengar perdebatan antara kedua sahabat itu.
Terkadang jika dilihat terasa lucu,akan tetapi dari situlah hubungan persahabatan mereka tambah erat karena perdebatan kecil itu yang membuat tidak ada jarak diantara mereka.
Ketika sedang Asyik bercanda dan berbincang,kehadiran seseorang di masa lalu membuat suasana jadi terasa begitu kaku.
"Malam semuanya,maaf apa aku menggangu begitu?" Tanya Sinta yang tiba tiba muncul.
Deg
Yuli adalah orang yang paling terkejut,bukan Karena takut nanti Dika bakal berpaling akan tetapi penampilan dari sahabat dulu nya itu.
Seluruh tubuh Sinta penuh dengan ukiran entah bisa di hapus atau tidak hanya dirinya sendiri yang tahu,entah bagiamana wanita itu menjalani hidup selama ini maka bisa sehancur itu.
"Malam juga Sin,ayo duduk disini!" Ajak Yuli.
"Sayang aku tunggu dikamar ,semuanya aku pergi dulu ya!" Pamit Dika yang tak mau dekat atau pun menyapa Sinta barang sedikit saja.
Karena suasana yang tidak terlalu mendukung,maka satu persatu orang pamit terkecuali Lika dan Yuli.
"Sayang aku lebih dulu ya,ingat kamu juga jangan tidur terlalu malam kamu juga Yul jangan begadang!" Pesan Alan berlalu dari situ.
Sinta hanya menatap punggung Alan sendu,walaupun sudah menikah dengan Lika tapi pria itu tetap memberikan perhatian pada Yuli bahkan seolah tak peduli dengan kehadiran dirinya disitu.
"Aku ganggu ya?" Tanya Sinta sendu.
"Ah tidak kata siapa sih,lagian mungkin sudah malam jadi semuanya ingin istirahat kali iya kan Ka?" Sahut Yuli yang berusaha Tersenyum.
"Aku mengerikan ya?" Tanya Sinta memaksakan senyuman di wajahnya yang kurus itu.
"Tidak sama sekali bahkan kamu keren!" Puji Lika sambil menunjukan jempolnya.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu juga mau bertato?" Tanya Yuli sinis.
"Ya kalau tidak sakit,benar kan Sin sakit tidak?" Tanya Lika memastikan.
"Aku opname dua minggu karena infeksi!" Jelas Sinta membuat Lika langsung bergidik ngeri.
"Masih berminat ibu?" Tanya Yuli sambil mengejek.
"Nanti sajalah kalau tidak sakit lagi." Ucap Lika.
"Kamu kapan sampai?" Tanya Sinta.
"Baru tadi,aku kesini karena dengar bahwa anak ku yang hilang mau menikah!" Jelas Sinta sambil tersenyum.
"Wah kamu nih hilang tidak ada kabar tapi tiba tiba muncul bawa kabar punya anak yang bakal menikah?" Tanya Lika antusias.
Akan tetapi berbanding terbalik dengan Yuli ,entah mengapa perkataan Sinta itu membuat pikirannya tidak tenang.
Ia merasakan seperti apa yang Sinta Cari sebenarnya dekat dengannya,apa mungkin.
"Boleh aku lihat foto anak kamu?" Tanya Yuli sambil gemetar.
"Oh boleh kok,nah ini dia!" Sahut Sinta sambil menyerahkan ponselnya yang terpampang jelas gambar wajah seseorang yang tak asing bagi Yuli dan Lika.
"Lho ini kan Rino,jadi maksud kamu Rino itu anak kamu?" Tanya Lika memastikan.
"Tidak Rino itu anak kami bukan anak kamu,pergi kamu dari sini ngapain datang lagi hah?" Teriak Yuli lirih.
"Beb sabar dong jangan seperti ini,hei nanti apa kata orang kalau dengar kamu seperti ini!" Bujuk Lika pelan.
"Katakan apa maksud kamu yang tiba tiba muncul,jangan bilang mau ambil semua yang Rino punya sekarang?Kalau karena itu ambil saja aku tidak perlu yang penting anak ku tetap denganku,harta kan yang kamu mau baiklah tunggu sini aku bakal ambil semua punyaku!" Ujar Yuli yang air matanya tak berhenti sedikitpun ia bahkan terlihat linglung.
"Aku minta maaf Yul,tapi aku kesini justru ingin menyerahkan apa yang aku punya untuk dia bukan mau mengambil lagi apa yang ia punya sekarang!Tolong jangan punya pikiran buruk seperti itu aku mohon,hidupku sudah penuh dosa jadi aku ingin sebelum aku mati memberikan apa yang harusnya menjadi milik Dia!" Lirih Sinta sambil berlutut kearah Yuli.
"Kamu ngomong apa tadi ,dan kenapa bisa Rino anak kamu hah," Tanya Lika penasaran.
"Dia lahir dari suamiku yang mempunyai sifat yang kasar dan temperamental ,dia selalu menyiksaku serta Rino yang masih dalam kandungan.Aku yang sudah tidak tahan memilih untuk kabur dan melahirkan Rino di salah satu panti asuhan ,karena tak ingin ketahuan aku pergi tinggalkan Rino sendirian.Saat pergi aku kecelakaan mobil yang aku tumpangi rem nya blong di sabotase seseorang,dan semua tatto yang ada ditubuh ku hanya untuk menutupi bekas luka bakar yang tak bisa hilang ini." Jelas Sinta sambil terus menangis.
"Kamu tidak bohong kan?" Tanya Lika memastikan.
"Terserah kalian saja,ini ada surat surat berharga tolong berikan pada Rino sampaikan salamku katakan padanya kalau Mamanya yang sekarang adalah wanita yang terbaik di dunia ini." Ujar Sinta sambil tersenyum.
"Maafkan aku Sinta tadi sudah curiga,kamu mau kan melihat pernikahan anak kita besok?" Pinta Yuli tulus.
"Maaf Yuli,Lika aku harus pergi sekarang kalau ada umur aku harap kita masih bisa ketemu lagi.Jaga diri kalian ya,ingat jangan lupa sampaikan salamku pada calon menantu ku juga ya!" Ujar Sinta lalu segera pergi dari situ.
"Aku mau tidur Beb." Ucap Yuli yang tidak menoleh kearah Lika yang berdiri bengong ditempatnya.
"Wah ini aku yang bego atau memang kejadiannya segini doang,masa tidak ada kata perpisahan atau tangisan duka lara begitu?" Tanya Lika penasaran.
"Eh aku kok di tinggal ya,wah ini namanya kacang lupa kulit dasar tidak tahu terima kasih.Sahabat tidak ada akhlak ,bisa bisanya habis manis sepah di buang." Gerutu Lika kesal.
Skip
Keesokan paginya di Aula sebuah hotel tampak berdiri seorang pria tampan yang memakai jas setelan putih sedang berdiri menunggu wanitanya,dirinya sudah yak sabar membawa Sarah menuju halal.
"Ya Tuhan tolong jangan buat aku pingsan,karena kalau sampai itu terjadi kapan aku lepas status dari non perjaka." Batin Rino.
Sementara itu Sarah yang sudah cantik bak princes ,menggenggam kuat tangan Mamanya.
Ia bahkan terlihat sangat gugup membuat Silvia dengan senang hati menggodanya,karena ia juga pernah mengalaminya dan inilah obat paling mujarab.
"Woii sekarang itu rileks saja Nona,nanti malam mau belah duren baru grogi karena mau buka bungkus.Awas saja kamu kalau pingsan bakal kusiram air es biar gagal deh malam pertama,dengan begitu aku penasaran lihat wajah frustasi tuh aki aki bangkotan yang kelihatan sekali pengen kawin,padahal mah biasa saja tidak ada bagus bagusnya." Ucap Silvia membuat Sarah jengah.
"Idih mulutnya bilang begitu tidak sadar apa di perutnya sudah ada isi begitu,aku yakin pasti malam pertama kalian langsung gas pol tidak pake rem kan?"Ejek Sarah balik.
__ADS_1