
Sebelum lanjut, kalau tiba-tiba bingung, lebih baik diulang bacanya dari bab 56 ya..
Selamat Membaca..
Jangan lupa tinggalkan jejaknya like, koment dan vote.
*****************************
“duduk sini..” Titah sang mama.
Anita masih berdiri kaku, kakinya serasa lemas tak mampu melangkah, jari-jari tangannya saling bertaut sambil memilin ujung hijabnya, matanya beredar ke seluruh isi ruangan. Lalu kembali fokus pada lelaki sang pujaan hati.
Anita tak kunjung merespon perintah sang mama, sampai-sampai mama harus menariknya agar ia segera duduk. Ruang tamu kecil itu sudah penuh. Mas Hanif membawa serta keluarganya lengkap dari adek, simbah, paklek beserta istri, hingga sepupu-sepupu kecilnya.
Hanif melirik Anita dan tersenyum di balik wajahnya yang tertunduk.
Ada apa ini? Kok Mas Hanif bawa-bawa keluarganya? Dia beneran mau ngelamar? Kenapa nggak bilang ke aku dulu? Kan aku bisa bersiap lagi. Apaan ini pakai baju seperti ini? Anita berperang dalam pikirannya.
__ADS_1
Tangannya tak henti memainkan ujung hijab. Meremas, memilin, menekuk, untung saja tidak sampai tergulung hingga ke atas.
Mama yang menyadari gerakan absurd sang anak segera menepuk tangan Anita pelan sebagai kode agar anak perempuan satu-satunya itu tenang.
Anita menunduk dalam. *******-***** tangannya sendiri sampai berkeringat.
Dalam duduknya, Anita gusar. Dadanya sesak karena rasa haru bercampur bahagia. Perutnya bahkan sedikit mual karena saking gugupnya.
Setelah sedikit berbicang santai, Hanif segera menyampaikan maksud kedatangannya pada ayah Anita, Om Rudi.
Anita gemetar hebat dalam duduknya. Dia sedikit mendongak menatap Hanif, lalu kembali menunduk. Matanya mulai berkabut, air mata disana sudah tidak tahan ingin ia tumpahkan.
“Anita yang akan menemani perjuangan saya, yang akan menjadi pengingat dikala saya lupa, yang akan menjadi penyembuh bagi luka hati saya dan yang akan menjadi penyejuk hati saya. Tentu yang akan menjadi ibu dari anak-anak saya kelak. Sekiranya om dan tante menyetujui dan melanjutkan sampai ke jenjang pernikahan..” lanjut Hanif. perkataannya lugas namun terdengar sendu.
Jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya bahkan sudah berkeringat kini.
Anita sudah tidak mampu menahan air matanya, setiap kalimat yang Hanif ucapkan berhasil membuat dadanya berdesir dan bergemuruh.
__ADS_1
“baiklah nak Hanif, saya sambut maksud baik nak Hanif dan keluarga, tapi untuk jawabannya kita tanyakan saja langsung pada Anita. Apakah kamu menerima lamaran nak Hanif, nduk (panggilan jawa untuk anak perempuan) ?” tanya sang ayah.
Yang ditanya masih menunduk, sedetik kemudian Anita mengusap airmatanya, mendongak menatap sang ayah dengan tatapan entah bagaimana.
“bagaimana nduk? Apa kamu menerimanya?” tanya sang ayah sekali lagi.
“boleh Anita berbicara sebentar?”
“silahkan..” sang ayah menyerahkan sepenuhnya pada Anita. Anita mengatur nafasnya sebelum berkata..
“Kenapa mas memilih Anita?” satu pertanyaan lolos dari mulut Anita, dan di telinga Hanif seperti sambaran petir. Ucapannya terdengar seperti Anita kembali meragukannya.
“meskipun dulu sudah pernah kukatakan padamu, sekarang akan aku katakan lagi secara langsung dihadapan orang tuamu. Kamu itu speerti penyembuh luka untukku, Anita. Kamu tahu betul keadaan keluargaku, kamu juga tahu bagaimana sakitnya perjalanan hidupku, tapi hanya dengan berbincang denganmu saja aku merasakan sakitku perlahan hilang. Aku pun merasakan kehangatan keluargamu. Dan aku pun ingin memiliki keluarga seperti itu, bersamamu.” Hanif menghela nafas dalam.
****
Bersambung..
__ADS_1