
Keesokan harinya, Anita beranjak dari kamarnya ingin mengambil air minum di dapur. Tentu saja Anita sudha mendelik duluan mengetahui bahwa bakal bertemu sang mama di sana.
Mama Rani mengamati gerak gerik Anita yang sedari tadi hanya menunduk. bahkan beberapa kali pinggulnya menabrak meja dapur.
“kamu kenapa?” tanya mama, sedangkan Anita semakin mendelik.
“Anita nggak apa-apa ma..” Anita tidak sadar bahwa suaranya masih parau setelah menangis semalam.
“habis nangis..?” mama Rani terus mengulik karena mendengar suara Anita yang parau parah. Tapi mamanya belum mendapat jawaban karena Anita terus mengelak.
“ya sudah cuci muka dulu, nanti mama buatkan susu untukmu..” ucap mama Rani lalu beliau melanjutkan memasaknya. Sedangkan Anita hanya menjawab dengan anggukan lalu melenggang kembali ke kamar.
Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk.
“masuk ma..” ucapnya, tahu bahwa itu adalah mama yang membawakan susu.
Mama Rani masuk dengan segelas susu di tangannya, lalu meletakkan susu itu di atas meja di sebelah Anita.
“mama mau bicara sebentar..” ucapnya lembut namun menuntut. Anita menurut, menoleh pada sang mama yang menatapnya lembut.
“Ada masalah dengan nak Hanif?” Tanya mama Rani, sontak membuat Anita membola.
__ADS_1
Pasalnya ia tidak pernah menceritakan apapun pada mamanya, bahkan ia mengaku tidak memiliki hubungan lebih dari teman dengan hanif. Tapi darimana mama tahu? Anita salah tingkah dibuatnya.
“mama tahu?” tanya Anita.
“mama hanya menebak, tapi dilihat dari reaksimu sepertinya benar tentang Hanif. Iya kan? Ada apa? cerita sama mama!” Mama Rani terus menatap lekat sang anak.
Tatapannya lembut tetapi menghunus. Seolah menuntut kejujuran pada sang anak. Anita adalah anak perempuan satu-satunya tentunya beliau tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya itu apalagi jika mengenai laki-laki.
“tidak ada apa-apa ma, Anita serius!” ucap Anita mencoba meyakinkan sang mama bahwa ia baik-baik saja.
“lalu kenapa menangis?” ulik sang mama yang semakin penasaran. Anita tidak menjawab malah melempar senyum. Sehingga membuat mama Rani malah terheran.
“mmm, seandainya mas Hanif datang melamar Anita apakah mama akan merestuinya?” tukas nya kini, ia memberanikan diri berterus terang pada sang mama, karena Anita pikir sekarang adalah waktunya, dan ia rasa sudah waktunya juga dia memikirkan menikah. Terlepas mas Azzam akan rela didahului atau tidak.
“Apa dia orang yang bertanggungjawab?” tanya mama lagi. Kali ini Anita tak langsung mengangguk namun malah terdiam.
“kenapa?” mama terheran karena Anita justru terdiam. Anita menghela nafas panjang. Lalu…
“Mas Hanif itu anak pertama, dia punya 2 adek perempuan, dua-duanya sekarang sedang kuliah dengan beasiswa, sama seperti mas Hanif. Mas Hanif dan dua adiknya tinggal bersama paklek dan simbahnya karena kedua orang tuanya bercerai. Ayahnya yang merantau ke kalimantan sudah 5 tahun tidak pulang karena beliau disana juga sedang kesulitan. Sedangkan ibunya pergi entah kemana…” Anita lagi-lagi merasakan sesak, meskipun ini bukan kisahnya, tapi sakit sekali rasanya. Mama Rani mendengarkan dengan seksama cerita Anita, tidak satu katapun beliau berani menyela maupun sekedar memberikan reaksi. Lalu Anita melanjutkan ceritanya setelah kembali menarik nafas panjang.
“Sejak kecil mas Hanif sudah terbiasa hidup mandiri, saat SMA dan kuliah pun ia sambil bekerja mencari penghasilan sendiri karena untuk membantu meringankan beban paklek dan simbahnya. Ia juga membantu memenuhi kebutuhan kedua adeknya saat masih sekolah. Sekarang dua adeknya pun kuliah sambil bekerja, tidak ingin merepotkan mas Hanif lagi.” Anita menyudahi ceritanya, lalu menatap sang mama yang ternyata tengah berderai air mata. Sadar sedang ditatap sang anak, Mama Rani lantas menghapus air matanya dengan cepat. Anita tersenyum haru.
__ADS_1
“berarti bertanggung jawab. Sangat. kapan Hanif akan ke rumah?” tanya mama Rani.
“setelah menyelesaikan tesisnya, insyaallah. Mas Hanif sedang melanjutkan studinya di bandung, Ma..” terang Anita.
“baiklah. kamu jaga diri jaga hati dulu sebelum halal. Jangan macam-macam. Sampaikan salam mama untuk nak Hanif ya..” Pinta sang mama, lalu beliau beranjak keluar kamar.
“tapi ma..” Anita menghentikan langkah mamanya.
“kalau Anita menikah duluan tidak apa-apa kan? Mas Azzam bagaimana?”
“kamu ini..dilamar saja belum sudah mikir menikah.”
“misalnya mama, seumpama, seandainya. Mas Azzam bagaimana? Belum ada calon juga?”
“belum ada yang cocok untuk mas mu.. tunggu nanti kalau Hanif sudah datang melamarmu, baru kita bicarakan lagi.hmm?” Ujar mama Rani diikuti anggukan oleh Anita. Lalu mama Rani benar-benar meninggalkan Anita sendirian di kamarnya.
***
Bersambung..
Author berusaha keras setiap hari agar bisa up ya readers..
__ADS_1
tapi, author harus memastikan anak author sejahtera dulu, hehe, maksudnya nunggu anak-anak tidur dulu..
masih repot dengan bayi maka author hanya bisa up terbatas max 2 episode saja tiap harinya..🙏🙏🙏