
Hari ini tanggal 14 ramadhan, tidak ada event ramadhan di kampus, hanya ada kajian saat sore dan dilanjut buka puasa bersama. Sehingga para pengurus bisa sedikit bersantai. Siang hari, di kamar kos Hanif, handphonenya berdering.
“assalamu’alaikum.. hallo, ada apa Vin?” tanya Hanif.
Wa’alaikumsalam. Apa kabar, Nif? Eh, kemarin gue lihat Kiara di Bridal gitu. Kalian mau nikah?
“baik alhamdulillah. Nikah? Aku sama Kiara? Ada-ada saja kamu.. aku ada rencana mau nikahin dia tapi ya nggak sekarang juga kali, masih semester 5 ini..”
Tapi kemaren gue lihat dia di bridal, lagi nyobain gaun-gaun pengantin. Ucap Vino semakin membuat Hanif penasaran.
“Nggak tau Vin, mungkin buat saudaranya kali. Eh, udah dulu ya Vin, aku ada tamu.” Jawab Hanif bohong. Lalu menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban Vino.
Hanif mengernyitkan dahinya mengingat ucapan temannya tadi. Padahal ia baru saja membulatkan tekad untuk memperjuangkannya, tapi apa yang ia dengar seketika meruntuhkan niatnya. Hanif semakin dibuat penasaran. Iseng, Hanif membuka media sosial Kiara, dulu, dia sendiri yang membuatkan akun untuk Kiara.
Hanif membuka pesan di aplikasi tersebut. Ada satu nama asing, Rendra. Hanif mengernyitkan kening, menggumam..
__ADS_1
“siapa Rendra?”
Lalu membuka pesan tersebut. Hanya berisi fail-fail foto. Foto-foto gaun pengantin diakhiri sebuah pesan singkat disertai panggilan sayang. Hanif tercekat, menatap lekat pada layar handphonenya. Kekecewaannya semakin membuncah mengetahui bahwa Kiara berbohong padanya.
“dia bilang mau fokus kuliah, tapi justru menyiapkan pernikahannya dengan orang lain? Tidak bisa dipercaya..” gumam Hanif. Dia tidak sadar dia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku jarinya memutih.
Sampai malam hari, pikiran Hanif terus dipenuhi oleh Kiara. Di otaknya penuh pertanyaan ‘kenapa’. Ingin sekali dia memaki, ingin sekali dia berteriak tapi pada siapa. Pada siapa Hanif harus menumpahkan amarahnya. Lalu dia memutuskan keluar mencari udara segar. Hampir tengah malam sekarang, Hanif terus melajukan motornya tak tentu arah, seluruh kota Jogja sudah ia lewati sekarang. Kemudian Hanif memutuskan berhenti sejenak di sebuah café 24 jam. Hanif membuka handphone nya, mencari kontak siapa yang harus ia hubungi, lalu tangannya berhenti saat nama Anita terpampang di layar handphonenya.
“ingin sekali aku bercerita padanya..” gumam Hanif lirih. Sejenak diam lalu menekan tombol hijau.
“dia sudah tidur..” ucap Hanif kecewa. Hanif meletakkan handphone di meja dan tak sengaja menyenggolnya hingga terjatuh.
Praakk..
“aisssh, pecah..” ucap Hanif kesal. Layar handphone itu pecah, dihidupkan pun percuma karena tidak bis dipakai lagi. Dia memutuskan kembali ke kos. Di jalan Hanif terus merutuki nasibnya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Anita tengah bersiap menuju kampus. Mengambil handphone diatas meja lalu mengecek sebentar apakah ada pesan masuk. Ada panggilan tak terjawab.
“mas Hanif. Kenapa dia telfon tengah malam?” ucap Anita lirih. Lalu dengan segera ia menelfon Hanif.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Beberapa kali dicoba, hanya suara operator yang terdengar. Anita semakin panik. Sedangkan tidak tahu lagi dia harus menghubungi siapa, tanya Zahra? Tidak mungkin dia tahu.
“kenapa mas Hanif ini..aktifin hp nya dong mas..” ucap Anita. Segala macam prasangka kini memenuhi kepalanya. Dengan segera dia menyalakan motornya melaju menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Anita mencari Hanif, bertanya pada teman-temannya tidak ada yang melihat Hanif. Lalu Anita bertanya pada Fadil, teman satu jurusan dan seangkatan dengan Hanif. Fadil pun menjawab tidak tahu dan belum melihat Hanif sejak kemarin. Anita semakin khawatir. Kepala nya penuh dengan Hanif.
Sementara Anita dengan segala kekhawatirannya, Hanif yang dikhawatirkan ternyata masih meringkuk di atas ranjang kamar kos nya. Dia enggan bangun. Malas juga harus kekampus. Sekali ini aja dia bolos kegiatan, pikirnya. Sekali tetapi menjadi berhari-hari. Sehingga membuat anggota divisinya kelabakan, menanggung tanggungjawab dadakan, pun juga Anita yang semakin membuncah rasa khawatirnya karena berhari-hari tidak ada telefon dari Hanif dan pesan-pesannya yang tidak berbalas.
__ADS_1