
HAII READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMMEN NYA YA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ***
Lika dan Yuli kini berada di Rumah nya Lika ,Ia sengaja datang untuk membantu sahabat sekaligus besan nya itu.Keduanya terlihat sangat sibuk di dapur ,untuk menyiapkan segala sesuatu buat nanti malam.
"Aku nggak nyangka loh Ka,persahabatan kita akan berlangsung selamanya. Di tambah lagi sebentar lagi anak kita bakalan menikah,otomatis kita akan tetap menjadi keluarga ". Ujar Yuli sambil tersenyum.
" Iya sama aku juga nggak nyangka banget ,bisa besanan sama kamu rasanya tuh nggak percaya sekali kalau semuanya bisa terjadi seperti ini". Sahut Lika sambil tersenyum.
Keduanya tengah membuat brownies kesukaan mereka,dan gelak tawa memenuhi penjuru ruangan itu.Persahabatan keduanya bukan hanya sehari dua hari,tapi bisa di bilang sepanjang umur mereka.
Bukti semakin kuat nya persahabatan mereka ,dengan hubungan kedua anak mereka yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.
Setelah Selesai membuat kue itu ,keduanya duduk di tempat favorit ketika Yuli datang berkunjung di situ.
" Ka aku nggak nyangka kok bisa ya semalam Davin nekat bawa pulang Silvia ,malahan keduanya tidur sekamar lho .Kamu pasti nggak nyangka kan ,kalau tadi pagi kami semua heboh dengan kelakuan mereka,apalagi Rino yang panas dingin ". Jelas Yuli sambil tertawa kecil
" Hehe kok bisa memangnya kenapa,sampai Rino bisa seperti itu"? Tanya Lika heran
__ADS_1
"Ya habisnya saat masuk kedalam kamar Davin ,ia melihat Davin sedang memeluk seorang wanita.Ia sangat terkejut dan cemas,jangan sampai Davin membawa wanita lain tidur dalam kamar nya". Sahut Yuli
" Astaga ada saja kelakuan mereka ya,mereka pergi semalam memang aku sama Alan melihatnya .Tapi saat aku ingin mencegahnya ,eh malah di larang sama Alan .Katanya jika Davin tak mungkin melakukan hal yang bukan bukan,ia sangat percaya kepadanya ".Ujar Lika sambil tersenyum.
" Hemm tapi pagi keduanya sudah duduk sambil ku selidiki ,semalam berbuat apa saja .Dan keduanya berani bersumpah ,jika tak melakukan apapun yang di langgar". Sahut Yuli sambil terkekeh kecil.
" Hemm sama saja ,disini juga tadi keduanya mengakui jika tak melakukan hal hal aneh.Bahkan Alan tadi sempat mengerjai Davin,hingga wajah Davin terlihat sangat panik". Ujar Lika sambil terkekeh.
Keduanya sangat antusias menceritakan soal kedekatan anak mereka,bahkan sampai sampai tak sadar waktu.
" Ya ampun Yuli ini sudah jam berapa hah, aduh aku belum menyiapkan sesuatu untuk malam ini". Ucap Lika panik.
" Heii kamu nih tenang saja deh ,memangnya keluarga Dika Hadiwinata ada berapa banyak hemm.Jadi harus menyiapkan makanan untuk satu batalyon ,jadi santai saja uka". Sahut Yuli sambil tersenyum.
" Ya sudah aku pulang saja deh,soalnya tuan rumah sudah mengusir secara halus ". Canda Yuli.
" Kamu yah tega beneran aku kapan ngusir kamu ,mana ada aku sampai hati melakukan hal itu". Ujar Lika kesal.
" Ya elah eneng bercanda doang kali,baru gitu saja ngegas terus.kebiasaan tuh di rubah dikit napa ,udah mau jadi calon nenek juga,tapi lebay nya berlebihan banget sih kamu". Goda Yuli
Lika bukan nya marah tapi malah tertawa geli mendengar nya,ia bahkan sampai menitikkan air mata. Karena saking tak bisa menahan tawanya ,sampai perut nya berasa sakit sekali.
" ya ya maaf aku tadi hanya bercanda saja,tapi sadis juga tadi cara jawabnya saripeh". Ledek Lika balas.
Karena hari menjelang sore Yuli akhirnya pamit pulang ,Karena ia ingin menunggu kedatangan suaminya. Sebab tadi Yuli sudah menelpon Dika,untuk mengabarkan bahwa malam ini harus ke rumah Alan.
Dika menyanggupinya akan pulang cepat,karena ia adalah kepala keluarga dan tak mungkin untuk membiarkan Yuli dan Davin sendirian.
Berbeda dengan keadaan kampus milik Keluarga Hadiwinata ,karena kedua pasangan sedang berdebat. Rino ingin berbicara empat mata dulu dengan Sarah ,sedangkan Davin kekeh harus secepatnya pulang.
__ADS_1
Karena malam ini mereka harus menemui orang tua Silvia ,dan ia tak mau datang terlambat. Tak mungkin juga meninggalkan Rino sendirian ,sebab ia masih baru di kota ini.
" Aku boleh kan bicara dengan kamu berdua,pliss setelah itu aku janji tidak pernah mengganggu kamu lagi". Pinta Rino dengan wajahnya yang terlihat sendu.
Davin sudah tak bisa berkata apa apalagi,karena melihat wajah Rino yang sangat mengharapkan agar bisa berbicara hanya berdua dengan Sarah.
" Sudahlah Yang tidak ada salahnya kan biar kan mereka berdua dulu,lagian ini kan masih mau sore.Jadi masih ada waktu banyak kan,kamu mau ya Sar kan tak ada salahnya juga "? Bujuk Silvia yang masih ingin agar Sarah menerima permintaan Rino.
Sarah dengan menghela nafasnya kasar,akhirnya menyetujui permintaan Rino. Karena dalam hati kecilnya ,ia sangat tak tega melihat wajah memelas dari Rino.
" Baiklah kamu sama Davin pulang lebih dulu saja,aku yang akan pulang bareng dia .Kami akan pakai taksi saja ,sudah sana jangan khawatir ". Ujar Sarah.
" Beneran ya kamu bakal anterin dia pulang kan,awas ya kalau sampai kamu bohong ". Ucap Silvia sambil menatap tajam kearah Sarah.
" Hehe kamu pikir aku kriminal apa,tenang saja seorang Sarahfina paling anti dengan yang namanya kebohongan ". Sahut Sarah sambil tersenyum.
Akhirnya dengan segera Davin menarik tangan Silvia agar ikut pulang dengannya ,ia ingin segera berduaan dengan kekasih nya itu.
Sedangkan Silvia hanya merasa geli,melihat sikap Davin barusan yang terlihat seperti orang yang sudah tak sabaran.Silva hanya menggeleng kepalanya,tingkah orang kalau lagi jatuh cinta mah serasa dunia hanya milik berdua doang.
" Sayang pelan pelan dikit napa ,nih kaki aku bukan nya koper yang bisa jalan cepat kalau di seret.Iangkah kaki ku akan bertambah susah nih ,lagian buru buru mau kemana sih". Kesal Silvia.
"Mau bawa kamu ke hotel dong Yang ,soalnya sudah nggak kuat lagi nih".Goda Davin.
"Astaga tuh otak sebenarnya isinya apa sih ,hobi nya berbicara seperti itu .Ingat ya kang mas kita belum sah,nanti sudah halal terserah mau ngapain saja sesuka kamu". Ucap Silvia sambil merasa heran dengan jalan pikiran Davin.
" Ya isinya hanya tentang kamu tanpa terkecuali ,bahkan mungkin pikiran tentang diri sendiri saja sudah tak ada sama sekali ". Sahut Davin.
Silvia sudah tak bisa berkomentar banyak lagi,karena selalu saja ada jawaban Davin. Bahkan di tanya lain jawabannya pasti lain,sungguh perpaduan yang menguras tenaga dan pikiran.
__ADS_1