Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 59 - Proses


__ADS_3

2 bulan  lagi rencana pernikahan Anita dan Hanif diselenggarakan. Perasaan yang tidak pernah Anita rasakan sebelumnya muncul mengganggu semalaman ini.


Perasaan haru, gundah, tegang, takut saling beradu mencuri tempat di hati Anita.


Apa ini yang dirasakan Zahra dulu sebelum menikah? Tanyanya pada diri sendiri.


Menyebut nama Zahra, mengingatkannya pada pesan yang belum sempat ia balas tadi siang. Anita memencet icon video call di kontak Zahra.


“Assalamu’alaikum, calon pengantin..cieeee..” Goda Zahra begitu muncul wajahnya di handphone Anita.


“wa’alaikumsalam..darimana kamu tahu hari ini aku dilamar? Mas Hanif memberitahumu?” Anita tidak tergoda sama sekali, yang ada malah semakin penasaran.


“aku kirim CCTV berjalan ke rumahmu..” seloroh Zahra dengan wajah serius.


“kamu lagi hamil, Zah. Kalau ngomong yang bener..” timpal Anita tak kalah serius. Zahra langsung merubah wajahnya menyesali perkataannya, lalu mengelus perutnya yang membuncit.


“maafkan mama nak. Mama bercanda tadi kok, jangan didenger ya!!” ucap Zahra memelas. Anita tertawa puas melihatnya. Zahra memicing menatap tajam Anita di layar handphone itu.


“jadi, darimana kamu tahu?” tanya Anita sekali lagi.

__ADS_1


“ya tahu lah, aku yang membantu persiapan mas Hanif dan mamamu..”


“huffftt..dasar, kalian..”


“kenapa memangnya? Kenapa wajahmu begitu? Nggak bahagia? Kan akhirnya dilamar juga.” Pertanyaan Zahra memburu.


“bukan, Cuma kaget aja dan sepertinya aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu waktu dilamar kak wildan..”


“kenapa?”


“takut..”


“hahaha, ngerasain kan.. ,emang takut kenapa?”


“Anita, menikah itu proses mengenalnya seumur hidup begitu pula proses belajarnya. Menjadi suami atau istri yang baik juga berproses, dengan belajar tadi. Kita tidak bisa bilang kita ini adalah istri yang baik, sedangkan perjalanan pernikahan terus berjalan, masalah demi masalah akan menghiasi dan akan menguji kita lalu lihat bagaimana kita menghadapinya. Yang kita lakukan adalah melakukan yang terbaik, mencoba yang terbaik..” Terang Zahra panjang lebar.


“aku pun berproses Nit, bahkan lebih rumit. Karena mas Wildan sangat asing bagiku awalnya, tapi mas Wildan terus mendekati ku dan memperlakukanku dengan lembut, dan akhirnya membuatku luluh. Yang aku lakukan? Emm, aku hanya berusaha memenuhi hak suamiku, meskipun kita berjauhan, tidak menentangnya jika itu baik untuk kami, dan tidak. yang akan menilai kita baik atau tidaknya kan pasangan kita.”


Anita diam mendengarkan cerita Zahra. Dia paham betul perjalanan pernikahan sahabatnya itu. mungkin pernikahannya dengan Hanif tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pernikahan Zahra.

__ADS_1


“tapi, Jangan dibanding-bandingkan nantinya. Karena setiap pernikahan punya masalahnya masing-masing dan punya cara penyelesaiannya masing-masing. Kamu cerita aja sama tante, minta nasihat-nasihat beliau. Kalau aku mah, nikah baru kemarin, belum pantas sebenarnya ngomong gini.hehe”


“nikah baru kemarin tapi bisa sebijak ini.. menikah benar-benar merubahmu, Zahra.” Anita menatap kagum pada Zahra.


“begitukah? Bawaan bayi kali..haha” Zahra terkekeh sambil mengelus bayi dalam perutnya.


“Sudah dulu ya, Nit, ada tamu sepertinya..assalamu’alaikum.”


“wa’alaikumsalam”


Perasaan Anita sedikit membaik setelah berbincang dengan Zahra. Ketakutannya belum 100% hilang, namun ada rasa lega yang menjalar.


Waktu 2 bulan yang diberikan akan Anita gunakan sebaik mungkin untuk belajar bab pra nikah sambil ia menyelesaikan skripsinya.


*******


bersambung dulu..


sepertinya akan disambung nanti malam..

__ADS_1


sabar ya..


like dulu boleh^^


__ADS_2