Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
bab 32


__ADS_3

grup chat sedang heboh, karena Mama Ayu sudah mengumumkan bahwa Arby akan melamar seorang gadis yang masih dirahasiakan identitasnya. Dalam chat nya Mama Ayu berkata...


Ayu


" PENGUMUMAN PENTING..."


Membuat semua orang penasaran dengan dua kata tersebut. Membuat grup chat keluarga ramai...


Ray


"??" Adik dari papa Reno yang menanggapi lebih dulu, namun seperti biasa irit jika berkirim pesan beda kalau ketemu langsung.


Kak Sinta


" Apa sih yu, kok main tebak-tebakan sih??" ucap kakak iparnya dengan mengimkan emoji bingung.


Bayu


" ya elah mbak... harus apa tebak-tebakan." plus emoji sebal dari sang adik.


Ruri ( sepupu)


" Ada kabar apa sih??? Kepo deh."


Ayu sengaja tak segera membalas pesan di grup. Sengaja biar grup ramai dengan banyak yang penasaran dan bertanya-tanya. Ayu hanya senyum-senyum sambil membaca pesan dari mereka.


Ambar


" PENASARAN.... Tapi nunggu aja deh. Kok para sepuh gak pada komen ya?... Jangan-jangan sudah pada tahu." emoji bingung di cantumkan oleh istri dari adik iparnya tersebut.

__ADS_1


Dimas ( sepupu)


" Penggantinya gak nongol nih??"


Bayu


" What??? Pengantin Siapa? Adakah yang mendahului aku??" emoji sedih berderai air mata.


Dimas


" Makanya cepat-cepat halalkan nanti ditikung orang lain tau rasa Lo!" Dimas dan Bayu memang seumuran makanya mereka sering berdebat walaupun sebenarnya tetap mereka saling menyayangi dan menjaga sesama saudara.


Bayu


" Dihh... Kaya sendirinya berani aja halalil yang ada hanya PHPin doang anak orang." Tuh kan, mereka tuh malah jadi berdebat. Untuk menghalau semuanya Ayu segera menyela.


" Sudah.. Sudah kalian cepat halalkan jika ada seseorang yang di inginkan jangan suka main-main nanti malah jagain jodoh orang, gak baik pacaran."


Zaidan


Bayu


" Nah, kan Pak ustadz sudah menasihati kita bisa apa? Padahal kan kita sama-sama jombo kan...wk wk wk"


Semua orang pun akhirnya mengirimkan emoji tertawa, ada yang mesem, nyengir ada juga yang terbahak-bahak sampai guling-guling. Itulah keseruan mereka jika sudah ada yang memulai.


Pada akhirnya Ayu pun mengabarkan Arbi akan melamar seseorang dan mereka menyambut dengan doa dan harapan yang baik. Mereka turut bahagia atas kabar ini. Para sesepuh tentu saja sudah Ayu beritahu sebelumnya, tak mungkin menyampaikan di grup seperti ini, namun untu yang lainnya Ayu rasa tak ada salahnya menyampaikan di grup untuk sekedar saling bercengkrama dan bersilaturahmi walaupun tidak bertemy langsung namun tetap bisa mempererat persaudaraan diantara mereka semua.


Zaidan sebagai penghubung dua keluarga pun ijin menyampaikan terlebih dahulu pada ustadz Mukti untuk niat baik dari adiknya ini. Ustadz Mukti pun menyambut baik dan menyarankan untuk bertukar dulu CV masing-masing jika setelah membaca CV mereka melanjutkan maka beliau sebagai orang tua hanya bisa merestui dan mendoakan untuk kebahagiaan keduanya. Segera Zaidan pun menyampaikannya pada kedua orang tua angkatnya dan pada Arby tentunya. Buka apa-apa ustadz Mukti mengusulkan hal ini, biarlah mereka saling mengenal dahulu lewat CV nya saja takutnya putrinya akan menolak karena selama ini sudah ada beberapa yang melamar dan mengajukan ta'aruf namun Ainun seperti masih menutup diri. Beliau sebagai seorang Ayah ingin segera melihat anaknya berumahtangga dan mempunyai keturunan tapi tidak ingin memaksakan kehendak juga atas dirinya, sebagai seorang ayah hanya menginginkan yang terbaik untuk kebahagiaan putrinya.

__ADS_1


Tak berlama-lama ustadz Mukti pun menemui putrinya dan akan membicarakan hal tersebut.


" Nun, Abi mau bicara..." Ainun yang sedang membereskan buku-buku pun menoleh dan mengangguk.


" Ada apa Abi?" tanya Ainun melihat sang ayah yang memasang wajah serius.


" Kemarilah, duduk di samping Abi." Ustadz Mukti pun menepuk kursi sebelahnya yang kosong. Tak lama Sang istri pun datang menghampiri karena tadi sudah di beritahu oleh suaminya. Uminya Ainun tersebut menghampiri sambil membawa nampan yang berisi minum dan cemiran untuk mereka. Ainun adalah satu-satunya satunya anak mereka setelah dahulu mereka kehilangan anak lelakinya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan. Fardan adalah nama kakaknya Ainun yang sudah berpulang dalam kecelakaan mobil lima belas tahun yang lalu.


Ustadz Mukti melirik istrinya terlebih dahulu sebelum memulai berbicara pada Ainun. Setelah istrinya mengangguk barulah ustadz Mukti mulai berbicara.


" Nun, ada seseorang yang melamar mu, Abi memintanya untuk mengirimkan CV nya dan Abi harap kamu juga memberikan VC mu pada Abi untuk diberikan pada pelamar mu.


" Baik Abi, " jawab Ainun tanpa membantah sedikitpun membuat ustadz Mukti sekaligus sang istri heran Dangan anaknya, karena biasanya Ainun akan buru-buru menolak walaupun dengan secara halus dan sopan. Ini bahkan ustadz Mukti belum mengatakan siapa yang akan melamarnya namun Ainun langsung menyetujui walaupun tetap belum berarti akan mereima juga bukan.


Namun ini seperti sebuah peluang yang Ainun berikan.


Dua hari setelahnya CV masing-masing pun sudah di tukar dan Arby sedang tersenyum sambil membaca profil Ainun yang begitu nyaris sempurna dimatanya. Namun berbeda dengan Ainun yang tak ingin mengetahui data tentang sosok yang melamarnya., dia menyerahkan semuanya pada ustadz Mukti sang ayah.


" Menurut Abi dia pria yang baik."


" Ya sudah jika memang menurut Abi baik silahkan... Ainun menyerahkan keputusan pada Abi." Ucap Ainun. Tentu saja semua ini membuat ustadz Mukti resah dengan sikap sang putri.


" Apa tidak sebaiknya kamu lihat dulu nak," ucap ustadz Mukti sambil menyodorkan sebuah map yang berisi data-data sang pelamar.


" Tidak usah Abi, silahkan Abi saja yang menilai. Jika dirasa baik Ainun akan menerima takdir ini jika menurut Abi tidak baik maka tolak lah. Ainun permisi dulu mau menyelesaikan memeriksa tugas para santri." Pamitnya pada sang ayah.


Ustadz Mukti pun bingun dengan sikap Ainun yang seperti ini. Beliau pun memutuskan untuk berdiskusi dengan istrinya.


Sejati ya seorang suami adalah imam, pemimpin dalam keluarga tapi tetap saja tidak boleh menjadi otoriter dalam mengambil keputusan, sebagai seorang suami yang baik akan selalu menanyakan pendapat anggota keluarga lainnya yang terdiri dari istri dana anak-anak. Begitupun dengan ustad Mukti tidak ingin asal mengambil keputusan apalagi ini tentang masa depan putri kesayangannya maka dia pun akan mendiskusikan hal ini dengan sang istri, ibu dari anaknya yang telah mengandung dan melahirkan putrinya itu dengan penuh perjuangan.

__ADS_1


Happy reading....


Mohon maaf baru update lagi nih...


__ADS_2