
“kenapa? Kenapa tiba-tiba mas Hanif memanggilku ‘dek’? aaaaa… tidakkk!!” seru Anita tapi pelan. Tanpa sadar kakinya menendang Zahra dan membuatnya menggeliat.
“Apaan sih..minggir!!” suara Zahra parau.
“ups, maaf.” Ucap Anita cekikikan lalu membenarkan selimut Zahra.
Beberapa jam kemudian Hanif dan Anita baru bisa tertidur, tentunya di kos masing-masing. Paginya, Zahra membangunkan Anita karena harus berangkat kuliah. Mata kuliah mereka berbeda tapi memiliki waktu yang hampir bersamaan. Jam 09.45 jadwal kuliah pertama mereka. Tapi Zahra sudah membangunkan Anita pagi-pagi sekali. Dia ingin jalan-jalan sebentar mencari udara segar sekaligus sarapan.
“jalan-jalan dulu yuk, kemana gitu.. sekedar lihat sawah atau pedesaan sekitar sini. Penat banget rasanya.” Ajak Zahra sambil terus menyadarkan Anita.
“hmmm, hoooaahh..mau kemana?” tanya Anita sambil menggeliat.
“ya nggak tau, jalan aja dulu..” jawab Zahra.
“yaudah aku siap-siap dulu, panasin dulu motornya sana..” titah Anita layaknya bos.
“hiiisssh..” Zahra ingin protes tapi menuruti Anita karena dia sudah mengganggu tidur sahabatnya itu.
Motor mereka sudah melaju menembus embun tipis di pedesaan. Udaranya sangat sejuk dan segar. Mereka menuju pedesaan melewati beberapa kebun bunga milik warga. Ternyata sebagian besar warga disana menanam bunga krisan untuk dijual. Anita dan Zahra sangat menikmatinya, lalu meminta izin kepada salah satu warga untuk meminta beberapa tangkai bunga.
“ambil aja mbak, kami sudah selesai panen, dan bunga-bunga itu yang tidak layak jual.” Kata bapak tersebut saat Anita meminta izin. Senyum Anita pun merekah seketika.
__ADS_1
“tapi bunganya masih bagus, pak. Kenapa tidak layak jual?” ucap Anita.
“karena beberapa batangnya ada yang berlubang kelopaknya juga ada yang rontok, mbak. Jadi konsumen kami tidak mau yang seperti itu.. sudah ambil aja nggak apa-apa.” Ucap bapak tersebut membuat Anita dan Zahra bersemangat.
“terimakasih banyak loh pak..” jawab Zahra dan Anita lalu mengambil beberapa tangkai dan berpamitan.
Di jalan menuju kos, tanpa sepengetahuan mereka, Hanif mengikuti dari belakang, lalu pelan menyamakan kecepatan di samping motor Zahra dan Anita, Anita yang membonceng di belakang terkejut melihat Hanif di sampingnya.
“habis ngapain kalian, kok bawa-bawa bunga gitu?” tanya Hanif sambil menyetir.
“hehe..” Anita terkekeh malu.
“jalan-jalan aja cari udara segar di sekitar desa, terus ada bapa-bapak lagi panen bunga ini, ya kita minta deh..” ujar Anita menjelaskan tanpa malu.
“buat apa?” tanya Hanif lagi penasaran.
“biar kamar Zahra semakin berwarna..haha” ucap Anita asal.
“hahaha..dasar perempuan..” Hanif tidak menduga jawaban Anita seperti itu.
“kok jadi aku sih? Kamu tadi yang merengek minta bunga itu kan..” protes zahra tidak terima dijadikan alasan.
__ADS_1
“hahahaha..” Hanif dan Anita tertawa bersama.
“mas mau kemana?” tanya Anita kini.
“mau beli sarapan. Kalian udah sarapan? Sarapan bareng yuk?” ajak Hanif. Tapi sesaat kemudian Anita menggeleng dan menunjuk kantong di gantungan depan Zahra.
“tuh, udah beli tadi.” Ucap Anita.
“ya sudah, duluan ya.. assalamu’alaikum.” Kini mereka berpisah di tikungan jalan.
“tau gitu tadi nggak usah beli dulu sarapannya kan, jadi bisa sarapan bareng..xixixixi”. gumam Anita di belakang Zahra.
“Apa Nit?” tanya Zahra berteriak karena seperti mendengar Anita sedang berbicara.
“hahaha, nggak ada apa-apa..”. Anita terlihat salah tingkah.
\~\~\~\~\~
Episode selanjutnya akan author up sebentar lagi.. ditunggu ya..
jangan lupa berikan dukungan untuk author yang masih terbata dalam menulis ini^^
__ADS_1