
HAII READER KU TERSEYENG JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💯💯💞💯💞
LANJUT ***
"permisi Tuan." Ucap Bima yang tanpa sadar sudah menghentikan kegiatan dua orang tersebut.
Sarah langsung bergerak menjauh sedangkan Rino menatap tajam kearah Bima,ia kesal karena hal yang ia impikan selama ini harus terhenti.
"Heh maaf Tuan,saya tadi tidak sadar kalau ada orang didalam." Bima hanya bisa menundukkan kepalanya karena sangat takut dengan wajah Rino kini.
"Kamu pikir ruangan ini toilet rumah kamu hah,bisa seenak hati keluar masuk?" Tanya Rino datar.
"Maafkan saya Tuan,silahkan hukum saya tapi tolong jangan pecat saya!" Pinta Bima menahan kakinya yang serasa sudah tak mampu menopang tubuhnya.
Rino ingin sekali melupakan kekesalannya,akan tetapi Sarah langsung bangun dan mengusap pelan lengannya.
Meskipun malu tapi mau bagaimana lagi,Sarah bukan kah wajib menolong orang yang sedang kesusahan.
"Heii jangan marah dong,nanti cepat tua.Oiya ada apa ya Pak,tadi masuk kesini tanpa ketik pintu dul?" Tanya Sarah memastikan.
Bima rasanya ingin berteriak terima kasih kepada Sarah,walaupun tadi sempat memanggil dirinya Pak.
Akan tetapi mana berani mengatakan secara langsung dihadapan Rino,yang wajahnya jelas sekali terlihat kemarahan.
"Tuan Heri Wijaya sudah sampai,tadi tidak sempat kasih kabar bahwa jadwalnya dimajukan.' jelas Bima takut karena ia tahu benar karakter keluarga Hadiwinata yang selalu tepat waktu dan sesuai janji serta selalu mengonfirmasikan sesuatu perubahan.
"Waduh gimana dong,masa aku marah bisa gawat kan kalau sampai dia tahu jika anak nya sedang kutaksir." Batin Rino.
Karena tak kunjung ada jawaban,Bima mengira Rino menolak maka ia menawarkan sesuatu yang lain membuat Sarah pun bereaksi.
"Bagaimana kalau saya suruh Tuan Heri kesini saja?" Tanya Bima tanpa beban.
"Jangan!" Teriak Rino dan Sarah serempak membuat Bima bergidik ngeri karena sangat terkejut.
__ADS_1
"Maafkan saya tadi itu...
"Pergi ke ruang meeting dan lahan minuman untuk tamu kita,sedikit lagi saya nyusul!" perintah Rino tegas.
Sepeninggal Bima,Orang yang paling stres adalah Sarah.Bagaimana mau keluar dari situ kalau singa jantan dirumahnya ada disitu,kalau begini bisa dipastikan dirinya bakal mendekam beberapa jam lagi.
"Waduh gimana dong,nanti kalau Papa tahu gimana?" Tanya Sarah yang hanya bisa jalan kesana kemari karena frustasi.
"Kamu tunggu sini saja biar lebih aman,nanti kalau sudah selesai baru kita pulang bareng." Sahut Rino yang berusaha satu cool.
"Ah tidak kamu pergi ketemu Papa,terus setelah itu aku langsung pulang!' Saran Sarah.
"Ya kok gitu sih,padahal kan masih ingin sama kamu." Ucap Rino kecewa.
"Kamu juga ngertiin aku dong,aku punya kegiatan lain lagi selain disini." Ucap Sarah yang masih berusaha mengontrol suaranya.
Rino juga tak mungkin egois dengan membiarkan Sarah sendirian disitu,karena bakal tak ada yang menemani.
"Baiklah." Sahut Rino pelan.
Setelah itu Sarah langsung duduk di sofa,sedangkan Rino keluar tapi sebelum itu dirinya mengecup kening Sarah.
"Aku pergi dulu ya,kamu pulangnya hati hati nanti sopir kantor yang bakal anterin kamu." Ujar Rino.
"Big No,nanti kalau orang berpikiran macam macam gimana?Aku naik taksi saja ya,awas Papa aku galak lho,jadi jaga sikap sama mulut jika tidak mau dipecat jadi menantu." Goda Sarah sambil mendorong tubuh Rino keluar dari ruangan itu.
Rino hanya tertawa kecil dan mengacak gemas rambut Sarah,keduanya tampak seperti pasangan lain yang sedang kasmaran dan bucin nya minta ampun.
Sementara itu Heri yang sedang menunggu Rino,pandangannya dari tadi menatap tajam kearah Bima yang hanya berdiri didepan pintu.
"Kamu tadi kasih tahu tidak ke Tuan Hadiwinata?" Tanya Heri tajam.
"Su sudah Tuan,mungkin sedikit lagi karena masih ada urusan mendadak!" Sahut Bima gugup.
"Saya juga masih punya urusan lain bukan hanya dia,memangnya hanya dia manusia hidup didunia iji?" Tanya Heri sinis.
"Urusan toilet Tuan soalnya Tuan Rino sedang sakit perut jadi bolak balik toilet terus." Sahut Bima yang secara tak sadar menjatuhkan harga diri Rino.
"Nah kalau soal toilet itu panggilan alam yang tak bisa ditunda lagi,jadi saya bakal tubgyy." Ucap Heri sambil tersenyum membuat Bima hanya bisa tersenyum karena ia yakin jika alasannya itu didengar oleh Rino bisa tamat riwayatnya.
__ADS_1
Rino yang sudah sampai diruangan meeting,belum berani masuk ia masih mengatur nafas dan mengecek penampilannya.
Ya iyalah masa ketemu calon mertua penampilannya biasa saja,harusnya kesan pertemuan pertama yaitu tampilan yang modis.
Setelah dirasa cukup,Rino lalu masuk kedalam ruangan meeting dengan karismanya agar Heri terkesan.
"Selamat siang Tuan Wijaya,maaf jika saya terlambat!" Ucap Rino basa basi.
"No problem karena urusan alam itu harus lebih penting." Sahut Heri ambigu.
Rino hanya menatap penuh tanda tanya kearah Bima,ia bingung sebenarnya apa yang dimaksud oleh Heri tadi.
"Silahkan duduk Tuan Tuan." Ujar Rino menyuruh Heri dan sang asisten untuk duduk.
Setelah itu mereka mulai berbicara soal bisnis,terlihat Heri orang nya sangat teliti begitu pun dengan Rino yang selalu menyampaikan gagasannya.
Berbeda dengan Sarah yang tengah menunggu taksi pinggir jalan depan gedung kantor itu,ia was was takutnya Heri keburu keluar kan bisa berabe.
Sarah tahu dengan jelas cara Papa nya itu membahas suatu pekerjaan,pastinya to the point tanpa basa basi tidak jelas.
"Ihhh ini taksi sopirnya pada molor atau lagi nge-dj sih sampe belum nongol?" Gerutu Sarah monolog.
Tak berselang lama datanglah Taksi yang ditunggu dari tadi,padahal segala kalimat ucapan sudah di keluarkan jadinya percuma.
"Pak,anterin ke perumahan bebek permai ya!" Ujar Sarah serius.
"Wah kalau perumahan Ayam permai ya dimana Eneng?" Tanya sopir taksi itu sok akrab.
"Oh perumahan itu lagi di atas langit!" Sahut Sarah menyindir pria itu agar diam.
"Emang iya ya Neng,wah sebentar kayaknya mesti bilang ke Bini biar diajak ke Bulan sekalian!" Sahut Pria itu membuat Sarah ingin sekali menatap tajam kearah pria itu.
"Pak anterin bininya ke Bulan Nanti saja ya,Setelah saya sampai di rumah dulu!" Ucap Sarah ketus.
"Oh saya pikir Eneng nya mau di ajak?" Tanya Pria itu santai tak peduli dengan Sarah yang sedang Kesal.
"Tidak berminat!" Ketus Sarah.
"Seneng jomblo ya,habisnya ketahuan tidak mau diajak karena takut iri sama saya dan Bini?" Tanya Pria itu akan tetapi Sarah memilih untuk tidur saja.
__ADS_1