
Like Dulu Boleh ya.. komen dan vote juga boleh..
Selamat Membaca..
***********************
“pak, nyuwun sewu..” sapa Hanif. (Pak, permisi)
“nggeh mas?”
“badhe nderek pirsa, menawi griyanipun ibu Mini meniko leres mriki nggeh? Ibu Mini, Kusmini..” tanya Hanif dengan penegasan nama agar benar-benar tak salah alamat. (mau tanya, rumahnya ibu Mini itu benar disini ya? Ibu Mini, Kusmini)
“oo, Kusmini ingkang nembe gerah meniko? Leres mriki mas, njenengan mangke mlampah mawon 100 meteran, kiri jalan wonten gang alit mlebet mawon, griyanipun ingkang cat warno puteh lan keramikan ijo.” Jelas bapak petani itu. (Kusmini yang lagi sakit itu? benar disini mas, nanti mas jalan saja 100 meteran, kiri jalan ada gang kecil masuk saja, rumahnya yang pake cat warna putih dan dinding depan keramik warna hijau)
“nggeh pak, matur nuwun sanget. Pareng pak.” (baik pak, terimakasih sekali. Permisi.)
“sami-sami mas..” sahut petani tersebut. (sama-sama mas)
Hanif kembali ke mobil untuk memanggil Anita dan mama mertuanya, mengajak ereka turun dan berjalan kaki. Meski Hanif tak enak hati karena harus meminta mertuanya berjalan cukup jauh, namun lebih tidak masuk akal lagi jika harus meninggalkan mama mertuanya di dalam mobil.
Mereka mulai melangkah menyusuri jalan dusun yang hanya mampu dilewati dua moto berisisian.
__ADS_1
Anita berjalan diantara Hanif dan mamanya. Anita beberapa kali melirik ke arah sang suami, nampak sekali kegugupan pada raut wajahnya.
Lalu Anita menggamit lengan Hanif, mengusap-usapnya pelan berusaha menyamarkan kegelisahan suaminya itu. Hanif melihat ke arah Anita dan tersenyum, terlihat sekali senyuman itu dipaksakan, dan nampak sekali senyuman itu bergetar karena gugup.
Semakin dekat pada tujuannya Hanif semakin bergetar, tangannya yang sedari tadi mengepal sudah basah berkeringat. Sampai-sampai Anita harus beberapa kali mengurai kepalan tangan itu agar bisa mengelap keringatnya.
Ketika rumah yang dituju sudah terlihat, Hanif tiba-tiba berhenti. Hatinya kecut, nyalinya seketika menciut. Entah apa yang ahrus ia ucapkan anti saat bertemu dengan perempuan yang telah menumbuhkan amarah dalam dirinya itu.
Anita berulangkali mengusap lengan Hanif, meyakinkan hati suaminya untuk benar-benar menghadapi dan menyudahi.
Mama Rani tak bereaksi, ia paham betul apa yang dirasakan Hanif, mama hanya bisa menunggu diamnya Hanif hingga ia benar-benar siap masuk ke rumah itu.
Setelah diberi anggukan oleh istrinya yang berarti adalah ‘tidak apa-apa, ada aku disampingmu’ maka dengan mantap Hanif mendekat ke rumah itu. Terlihat Hanna dan Hanum tengah duduk di teras dengan mata sembab.
“mas.. maafkan ibu.. maafkan beliau ya biar ibu tenang di peraduan terakhirnya..” ucap Hanna sambil terisak.
“ibu sudah meninggal mas..” lanjut Hanum, saat ia yakin Hanif masih tak mengerti situasinya.
Hanif mematung. Mendengar kabar yang tadi pagi saja belum hilang rasa terkejutnya kini dihadapkan kabar baru yang lebih menyakitkan lagi. bahkan ia belum sempat mengucapkan salam untuk sang ibu, bahkan ia belum sempat memanggil nama itu, bahkan ia belum sempat mendengar suara ibunya untuk pertama kalinya karena ingatan etntang suara itu telah lama hilang.
“ayo masuk dulu Nak, setidaknya kamu harus melihat wajahnya kan?” titah mama Rani saat itu.
__ADS_1
Anita sudah menyiapkan skenarionya tentang segala kemungkinan yang akan Hanif lakukan kini lenyap. Anita lupa menyiapkan skenario terburuknya. Dia tak sampai hati membayangkan skenario terburuk itu sebenarnya.
Kini ia ikut mematung. Air matanya sudah tumpah sedari tadi begitu melihat reaksi yang diberikan Hanif.
Anita yang harusnya menenangkan Hanif atau adik-adiknya justru malah dipapah jalannya dan ditenangkan oleh Hanna dan Hanum. Sedangkan mamanya menemani Hanif masuk ke dalam rumah.
Kemucunculan Hanif disambut oleh bapak, dan isak tangis dari keluarga pihak ibu yang merasa ikut bersalah atas sikap yang telah dibuat oleh Kusmini.
Hanif bersimpuh di depan jenazah sang ibu yang sudah tertutup kain hingga ujung kepalanya. Hanif membuka penutup itu hingga batas leher, ia ingin sekali melihat rupa itu untuk terakhir kalinya.
Meski tak ada jawabnya, Hanif tetap menanyakan tentang alasan apa yang membuat si ibu tega meninggalkan anak-anaknya.
Hanif tergugu.
Lalu ucapan pemberian maaf terlontar dari bibir Hanif, Hanif sudah memaafkan. Hanif sudah tidak lagi akan menyimpan amarah. Hanif bahkan akan melupakan tentang alasan mengapa ia ditinggalkan.
Hanif menutup kembali kain itu sampai batas kepala jenazah ibunya. Lalu memutar badan menghadap bapak. Seolah berkata dalam diamnnya ‘apakah yang aku lakukan sudah benar’ dan bapak segera merengkuh putra sulung satu-satunya. Bapak menepuk-nepuk punggung Hanif seolah berkata ‘sudah tidak apa-apa, kamu anak hebat’.
Sore yang kelam itu setelah segala ritual sebelum perkuburan sudah dilakukan, jenazah segera akan dikebumikan. Hanif dan bapak ikut menopang tandu bertutupkan kain berwarna hijau itu.
~~~
__ADS_1
Bersambung..
Jangan Lupa Dukungannya^^