Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 40 - Atas Nama Ibu


__ADS_3

Di tempat lain.


Hanif sedang menyusun berkas-berkas yang dia butuhkan sebagai persyaratan studi S2 nya. Lalu satu pesan masuk di handphone nya.


Ting.


Dari ibu Kiara. Hanif memang menyimpan nomor ibu mantan kekasihnya itu, bahkan nomor telefon ayah Kiara saja Hanif hafal.


Assalamu’alaikum.. nak Hanif, ini ibu Kiara. Sebelumnya ibu ingin meminta maaf pada nak Hanif karena berbuat salah padamu. Maafkan ibu karena sudah mengkhianatimu, nak. Nak Hanif, Kiara saat ini sedang sakit di rumah sakit. Ibu mohon untuk sekali saja nak Hanif menjenguknya, untuk melegakan hati Kiara.


Bunyi pesan tersebut panjang lebar. Hanif tidak membalas. Menurutnya tidak sopan membalas pesan seorang orang tua. Ia akan langsung pergi menemuinya.


Setelah mendapat alamat rumah sakit yang dimaksud, Hanif segera menyalakan motornya dan melaju menuju rumah sakit tersebut.


Sesampainya di rumah sakit, hanif menuju bagian resepsionis menanyakan pasien atas nama Kiara. Tak berapa lama, Hanif tiba di kamar rawat itu. Dia mengetuk pintu.


Tok tok tok.


Hanif memasuki ruangan setelah dipersilahkan.


“assalamu’alaikum..” sapa Hanif


“wa’alaikumsalam. nak Hanif, ibu senang sekali kamu datang. Kemarilah!” titah ibu Kiara menyuruh Hanif agar mendekat ke brankar Kiara.


Kiara tersenyum melihat sang pujaan hati yang mendekatinya tanpa ragu.


“bagaimana keadaanmu?” tanya Hanif wajahnya datar.


“ya beginilah mas, seperti yang kamu lihat. Aku terkena GERD.”

__ADS_1


“nak Hanif, ibu mohon maafkan ibu dan bapak juga Kiara. Kami sudah mengkhianatimu tapi kami mohon maafkan kami.” Ibu Kiara menyela.


“Hanif sudah memaafkan, bu. Ibu dan bapak tidak perlu seperti ini.” Ucap Hanif sambil mengusap tangan wanita paruh baya itu dengan lembut.


“syukurlah, terimakasih nak, kamu sangat baik. Oh iya, boleh ibu minta tolong?” tanyanya pada Hanif.


“minta tolong apa bu?” sahut Hanif.


“ibu dan bapak harus pulang sebentar mengambil beberapa keperluan selama di rumah sakit, bisakah nak Hanif menggantikan menemani Kiara sebentar?” ucap ibu Kiara hati-hati.


Hanif menangguk. Kiara tersenyum senang melihatnya.


 Aku yakin mas Hanif masih mencintaiku. Batinnya.


“baiklah.” Kata Hanif.


Sang Ibu dan Bapak Kiara keluar meninggalkan Hanif dan Kiara berdua di ruangan rawat tersebut. Tiba-tiba suasana ruangan tersebut menjadi dingin. Hanif sama sekali tidak mempedulikannya.


“mas Hanif..” panggil Kiara.


“hmm”. Hanif yang dipanggil hanya ber-hmm ria. Kiara seketika bingung ingin berkata apa. Sikap Hanif sangat dingin padanya.


“terimakasih sudah mau menyempatkan kemari menjengukku.” Ucap Kiara pelan. Sebenarnya bukan ini yang ingin dia katakan. Tapi dia lagi-lagi takut melihat ekspresi dingin Hanif.


“aku hanya memenuhi permintaan dari ibu mu. Jangan berlebihan.” Tukas Hanif tanpa melihat ke arah Kiara. Matanya masih fokus ke layar handphone.


Kiara seketika bagai disambar petir mendengar penuturan Hanif.


Hanif sudah benar-benar sudah berubah. Tapi Kiara tidak akan menyerah. Seolah mendapat senjata baru, Kiara akan menjadikan sakitnya sebagai alasan agar Hanif mau menemuinya lagi dan lagi.

__ADS_1


Ya. Kiara akan menggunakan nama ibunya agar Hanif tak mampu menolaknya lagi.


***


Seminggu kemudian.


Kiara terus menghubungi hanif, memohon untuk menemaninya ke toko perhiasan, ingin membeli hadiah untuk ibunya.


Hanif terpaksa menyanggupi. Dan berkata bahwa itu terakhir kalinya. Lalu mereka pergi ke toko perhiasaan.


Di toko perhiasan. Kiara sengaja berlama-lama memilih perhiasan untuk sang ibu agar ia memiliki waktu bersama dengan Hanif.


“sudah dapat belum?” tanya Hanif tak sabar. Sudah hampir setengah jam Kiara memilih-milih namun tak juga dapat.


“belum mas, sebentar. Aku juga bingung mau pilih yang mana. Mas bisa bantu pilihkan?” Pinta Kiara. Lalu Hanif mendekat melihat deretan perhiasan yang dipajang.


Bagi Hanif semuanya itu sangat bagus dan cantik. Tanpa sadar Hanif memilih satu perhiasan cincin dan berkata.


“Anita pasti cantik memakainya..” ujar Hanif lirih tapi Kiara tetap bisa mendengarnya.


Hati Kiara bak diiris sembilu mendengar Hanif menyebut nama wanita lain di depannya.


“Anita? Siapa Anita? Pacar mas Hanif?” tanya Kiara memburu. Hanif tercenung mendengar nama Anita diulang oleh Kiara. Dia sendiri bingung harus berkata apa, lalu Hanif hanya diam tanpa membenarkan ataupun memberi sanggahan.


Waktu berlalu begitu saja. Kiara masih merasakan sesak di dadanya sambil berulang kali menyebut nama Anita.


Kiara memutuskan mencari tahu siapa Anita dan hubungannya dengan Hanif. Saat hendak pergi seseorang melihat Hanif dan Kiara.


Nindi jurusan farmasi, junior Hanif di organisasi, satu angkatan dengan Anita. Nindi terus mengamati tanpa berniat untuk menyapa Hanif, dia takut membuat Hanif tidak nyaman dengannya.

__ADS_1


Nindi pun ikut berlalu pergi ketika Hanif dan Kiara sudah tidak terlihat lagi.


__ADS_2