Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 35 - Cerita Hanif


__ADS_3

Suasana masih sangat ramai, lalu Anita dan Hanif memutuskan untuk mencari tempat teduh dan agak lengang menghindari hiruk pikuk.


“kita coba cari tempat duduk yang agak lengang yuk?” ajak Hanif. Anita mengangguk dan mengikuti langkah Hanif.


Mereka mendapat ruang di sekitar perpustakaan kampus, tempatnya sejuk dan agak lengang. Hanya ada beberapa wisudawan yang berfoto dengan para koleganya. Hanif dan Anita duduk berhadapan. Hanif melepas topi toga dan jas toga nya.


“mas.. boleh tanya sesuatu? Tapi kalau mas tidak berkenan menjawab tidak apa-apa?” tanya Anita disertai penegasan. Jujur saja, Anita mengamati Hanif sedari tadi, matanya terlihat sekali kalau sehabis menangis. Dan hati Anita sakit melihatnya.


“soal keluargaku?” tanya Hanif sambil melempar senyum. Anita terkejut, kenapa Hanif bisa tahu isi kepalanya.


Anita mengangguk pelan sambil menatap Hanif seakan matanya bertanya, apakah tidak apa-apa?


Anita merasa tak enak hati, tapi tetap penasaran. Momen yang sangat membanggakan itu kenapa tidak ada satupun keluarga yang hadir menyaksikan.

__ADS_1


“tapi ceritanya panjang. Apa kamu tidak keberatan? Bisa-bisa kamu tidak akan bisa pulang kalau mendengar ceritaku.” Ujar Hanif asal. Anita memanyunkan bibirnya, dan seketika membuat Hanif tertawa.


“hahaha..baiklah, bercanda kok.” Hanif terkekeh lalu menghela nafas sebelum memulai cerita panjangnya.


“aku dan dua adek-adekku sekarang ini tinggal bersama simbah dan pak lek ku. Alasan mereka tidak bisa datang karena simbahku dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk ditinggal. Aku sudah memohon kepada paklek sebelumnya, tapi benar-benar tidak bisa. Paklekku pun tidak berani melepas kedua adekku datang sendirian kemari, karena mereka perempuan.” Ujar Hanif.


“orang tua mas Hanif kemana?” tanya Anita penasaran.


“mereka sudah bercerai saat usia ku 6 tahun. Ibu ku lantas meninggalkan kami, aku dan kedua adek-adekku yang masih berumur 3 tahun dan 1 tahun. Sejak saat itu kami tidak pernah melihatnya. Wajahnya pun kami lupa. Karena tidak ada satu pun foto ibu kami yang tertinggal di rumah. Sepertinya ayah kami sengaja membuangnya. Sedangkan ayahku, beliau pergi merantau ke Kalimantan. Jarang sekali pulang, dulu mungkin bisa satu tahun sekali, tapi sudah 4 tahun ini beliau tidak pulang, beliau hanya mengirimkan uang pada paklek untuk memenuhi kebutuhan kami. Kamu ingat dulu, waktu kamu meminta mengajari matkul pak Surya? Aku bilang kalau hari sabtu dan minggu adalah waktuku libur belajar kan?”


“karena 2 hari itu aku harus bekerja. Aku harus memenuhi kebutuhanku sendiri selama kuliah.. Aku tidak mungkin membebani paklek dan simbah lagi karena mereka pun sudah terlalu kerepotan mengurus dua adekku. Sedangkan biaya kuliah ini aku mendapat beaiswa full. Dan karena aku laki-laki makanya sebisa mungkin aku survive untuk diriku sendiri. Dan ketika ada rejeki lebih aku memberikannya pada adekku. Begitu ceritanya, dek Anita.” Ujar Hanif sambil mengulas senyum, ia menyelesaikan ceritanya meskipun kadang terbata.


Matanya pun kini berkaca-kaca. Tapi kelihatan sekali Hanif menahannya agar tak menangis.

__ADS_1


Anita terdiam mendengar cerita Hanif. Hidupnya ternyata sangat berat. Ditambah pula dengan pengkhianatan sang kekasih. Hati Anita menjadi iba. Matanya ikut berkaca-kaca saat Hanif menyelesaikan ceritanya.


Ia tidak bisa berkomentar apapun. Takut jika perkataannya malah membuat Hanif tidak nyaman.


“kok diam?” tanya Hanif yang melihat Anita justru menunduk terdiam. Anita hanya menggeleng. Ternyata air matanya berhasil lolos. Anita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dan semakin membuat Hanif heran.


“Anita kamu kenapa?”


Anita masih tidak menjawabnya, tangannya masih menutup rapat wajahnya. Kini, malah terdengar suara sesenggukan, Anita tidak bisa menahan lagi tangisannya.


Hanif memberanikan diri mendekati Anita, berjongkok di depannya, tangan Hanif memegang kursi yang diduduki Anita, wajahnya mendongak menatap wajah Anita yang tertutup tangan.


Saat mendengar cerita mu entah kenapa hatiku sakit sekali mas. Apakah aku telah benar mencintaimu? seperti ingin sekali berada terus di sampingmu untuk menguatkanmu. Ucap Anita dalam hati.

__ADS_1


***


Mohon dukungannya ya reader, jangan lupa klik ikon love biar bisa update cerita selanjutnya..^^


__ADS_2