
Hanif merengkuh Anita, wanita yang baru saja sah menjadi istrinya, memeluknya dari belakang dan menciumi kepala wanita itu.
Anita berbalik. Menatap Hanif dengan senyuman lembut di wajahnya.
“belum tidur?”
Anita mengangguk. Lalu membalas pelukan Hanif dan membenamkan wajah di dada suaminya. Anita menciumi aroma Hanif sedalam-dalamnya.
Melepaskan semua rindu yang ia tahan selama ini hingga menuju halal. Hanif mengeratkan pelukannya, seolah tahu apa yang tengah dirasakan Anita.
Hanif membenarkan posisi Anita agar nyaman di pelukannya, tangan kirinya ia selipkan di leher Anita sebagai bantalan istrinya itu.
“maaf ya mas..” ucap Anita lirih teredam dada Hanif.
“kenapa minta maaf?”
“ya mas Hanif puasa lagi beberapa hari..”
“bukan salahmu dek, bukan kehendakmu jadi tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf..”
Hanif semakin mengeratkan pelukannya.
“mas kangen sama Anita yang dulu..” tukas Hanif kemudian.
Anita mengendurkan pelukannya, mendongak agar bersitatap dengan Hanif.
“maksudnya? Belum juga semalam nikah, mas udah nyesel?” sergah Anita cepat dan membuat Hanif terkekeh.
“nah ini, Anita sudah kembali..” Hanif masih terkekeh, lalu menciumi kening Anita berulang kali.
“apa sih?”
“dari tadi kamu lebih pendiam lebih kalem, dan Anita yang mas kenal itu energik, ceplas ceplos dan kejam..hahaha. kenapa sih jadi kalem gini?” ujar Hanif menatap Anita yang sepertinya salah tingkah.
Hanif kembali mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
“Anita lagi berusaha jaga image mau jadi istri yang kalem.. ternyata nggak berhasil.. hehe”
Anita terkekeh malu, lalu disambut tawa Hanif lebih keras.
“nggak perlu. Mas hanya mau Anita yang apa adanya. Karena itu yang bikin mas suka.. hmm?” ucap Hanif mengendurkan pelukannya, meyakinkan Anita dengan tatapannya lalu menowel hidung Anita.
Anita mengernyit.
“kenapa mas bilang Anita kejam?”
“ya iya, kata Zahra dulu kamu ngomelin semua orang berhari-hari sebagai pelampiasan mu sampai mereka takut mau menemui mu beberapa hari itu, Zahra juga bilang setiap malem dia yang kena imbas karena kemarahanmu..”
“dasar Zahra ember..”
“jadi bener?” ucap Hanif menyelidik. Ia sudah lama ingin tahu tentang hal itu, tapi belum juga mendapat kesempatan untuk bertanya.
“ya bener, kan Zahra sudah cerita semuanya kan? Gara-gara mas itu.. bikin kesel.” Tukas Anita cemberut.
“tapi mas seneng..” raut wajah Hanif berubah berbinar-binar.
“seneng karena kamu begitu mengkhawatirkan mas..sayang banget sama mas ya?” Goda Hanif, ia terkekeh geli melihat ekspresi Anita yang salah tingkah. Anita meninggalkan satu cubitan keras di perut rata Hanif.
“Aduh, kok nyubit sih..jadi sejak kapan kamu suka sama mas?” lagi-lagi Hanif menggoda Anita.
“sejak pertama kali ketemu..” jawab jujur Anita.
“pertama kali? Mmm, di tangga lantai 3 gedung B itu?”
“sebelum itu..”
“memangnya kapan pertama kali kita ketemu?”
“pas ospek hari pertama..kita ketemu di depan gedung MIPA..”
“mas nggak ingat..”
__ADS_1
“ya iya, kita ketemu cuma sekilas, waktu itu Anita buru-buru manggil mas buat nanya tempat kumpul apel. Pasti nggak ingat?” sindir Anita.
“hehe.. nggak ingat, maaf.. tapi, jadi sejak hari itu kamu langsung suka sama mas? cieee.. duh senengnya, mas jadi ge-er, ternyata mas punya penggemar rahasia.” Hanif terkekeh-kekeh merasa geli sendiri menyadari ucapannya.
“apa sih..” sergah Anita. Lalu ia ikut tersenyum meringkuk wajah di dada Hanif.
Hanif mengangkat dagu Anita, menuntun istrinya agar mendongak menatapnya, sejurus kemudian ia membenamkan ciuman di bibir cantik itu, ********** dengan lembut, menuntut Anita agar membalas ciumannya.
Anita segera melepaskan ciuman ketika merasa telah kehabisan nafas. Hanif mengulas senyum termanisnya menatap manik cokelat milik istrinya itu, mengusap lembut dengan jari-jarinya ke wajah hingga kepala Anita.
“mas itu punya banyak penggemar sebenarnya, entah mas yang memang nggak tahu atau sok cuek, Anita juga nggak tau, tapi yang berhasil bikin mas luluh cuma Anita kan? Hehe..” ujar Anita.
“iya dek.. Cuma kamu yang bisa membuat mas senyum-senyum sendiri. Mas ganteng ya?” goda Hanif.
“mas itu punya inner beauty walaupun nggak ganteng-ganteng banget..xixixi” ucap Anita. Anita terkikik, merasa berhasil menggoda Hanif saat suaminya itu menekuk wajahnya dan mencibir.
“mas cuma jalan terus sambil menangguk nyapa aja udah bikin perempuan satu
fakultas kelimpungan..”
“begitukah? Padahal mas nggak niat ngapa-ngapain memang mau nyapa aja..”
“bener, tapi perempuan kan pemikirannya beda. Laki-laki yang biasanya diem anteng ga banyak ngomong memang selalu membuat penasaran banyak kaum hawa. Dan perempuan itu cuma disapa sama yang disukainya saja langsung belingsatan. Ge-er nya ampun-ampunan.. kecuali saya ya. Anita nggak begitu.”
“iya, iya.. istri mas kan kalem..” goda Hanif sekali lagi. matanya sudah mengerjap-ngerjap sejak tadi. Namun ia tahan sekuat tenaga karena masih ingin mendengarkan celoteh wanita yang baru saja menjadi istrinya.
Anita menyadarinya, suara Hanif sudah tidak setegas tadi. Ia mencubit pelan pipi suaminya itu.
“tidur yuk.. mas udah ngantuk..”
“hmm..” Anita berdehem lalu meringkuk masuk ke dalam pelukan Hanif lagi.
Lalu berdua terlelap malam itu tanpa terjadi sesuatu pun. Benar tidak terjadi apapun, hanya pelukan sebab rindu diantara keduanya yang membuncah.
*****
__ADS_1
Bersambung...