
Masih di rumah Anita..
Di belakang rumah.
“nak Zahra..” panggil mama Rani.
“iya tante..”
“apa Anita sama nak Hanif berpacaran?” mama Rani bertanya taku-takut.
“tidak tante. Mereka hanya dekat sebagai teman. Setahu saya seperti itu tante.. tante bisa tanya lebih jelasnya kepada Anita nanti..semoga Anita bisa berbicara terbuka dengan tante nantinya.” Jawab Zahra.
“oh gitu.. Tapi nak Hanif kelihatan sangat baik anaknya. Sopan dan lembut. Tante saja langsung menyukainya.” Mama Rani terkekeh. Dan Zahra menyambutnya dengan senyum tersungging.
Emak sama anak ternyata seleranya sama. Zahra terkekeh dalam hati.
Tak berapa lama, Hanif mengajak Zahra pulang. Mereka berpamitan pada mama Anita. Ternyata mereka menggunakan motor masing-masing. Melihat itu, Anita menyunggingkan senyum.
Ternyata mas Hanif sangat menjaga kehormatan perempuan.
Tapi seketika Anita teringat cerita yang diutarakan Hanif bahwa sudah lama ia berpacaran, Anita kembali tersenyum kecut. Ia tarik kembali ucapannnya tadi.
Setelah kepergian Hanif dan Zahra, Anita segera masuk ke kamarnya. Tangannya lincah memainkan handphonenya, melihat media sosial ataupun main game. Sementara pikirannya masih melayang memikirikan ucapan Hanif tadi.
Tok tok tok.
“nak, boleh mama masuk?” tanya mama Rani dari luar kamar Anita.
__ADS_1
“masuk ma”
Ceklek.
Mama masuk, menghampiri Anita yang tengah tiduran di ranjangnya sambil memainkan handphonenya.
“ada apa ma?”
“mama mau bertanya sesuatu boleh?” mama Rani terlebih dulu meminta ijin agar anaknya nyaman. Lalu dibalas anggukan oleh Anita.
“apa ada sesuatu antara kamu dan nak Hanif?” tanya mama Rani hati-hati.
Anita yang masih memainkan handphonenya seketika menatap mamanya terkejut dengan pertanyaan itu. Namun Anita segera tersadar bahwa Hanif adalah laki-laki satu-satunya yang pernah berkunjung ke rumahnya. Selama itu tidak pernah ada laki-laki manapun walaupun hanya teman yang pernah berkunjung ke rumah Anita.
Anita tersenyum pada mamanya.
“kami hanya berteman ma. Mas Hanif banyak membantu kami tentang keorganisasian dan juga kuliah. Karena kebetulan kami satu jurusan.”
Dia sendiri pun tidak yakin akan dirinya sekarang. Setelah mendengar cerita Hanif, ada rasa tidak terima karena Hanif pernah bersama wanita lain. Bahkan memiliki rencana untuk menikahinya. Sehingga Anita tidak berani bilang apapun pada mamanya.
“ya sudah. Mama cuma bertanya sayang. Tidak bermaksud apa-apa.” Tangan mama mengelus rambut anaknya lembut.
“beristirahatlah”.
“terimakasih ma..” Mama Rani tersenyum di ujung pintu, kemudian menutup pintu kamar anaknya.
Perasaan seorang ibu mungkin tidak pernah salah. Mama Rani merasa ada sesuatu antara Anita dan Hanif.
__ADS_1
Mata Hanif tampak sendu begitu melihat Anita muncul di ruang tamu siang tadi. Mama Anita memperhatikan detail-detail itu karena untuk pertama kalinya sang anak memiliki teman lelaki yang berkunjung ke rumahnya.
***
Tujuh bulan kemudian.
“semuanya akan kembali seperti dulu. Aku mau dia kembali padaku lagi.” ucap Kiara lirih, lalu mengirim pesan kepada Hanif.
Satu pesan masuk di ponsel Hanif saat Hanif baru saja sampai di kamar kos nya. Dari Kiara.
Mas, bisa kita bertemu?
Hanif : Untuk apa?
Kiara : Aku ingin menyampaikan sesuatu. Ku mohon.
Hanif : Baiklah.
Hanif menuruti permintaan Kiara. Dia pun ingin mendengar apa yang akan mantan kekasih itu bicarakan. Mungkinkah memberikan undangan pernikahan.
Mereka akhirnya bertemu di sebuah café. Mereka terdiam cukup lama, sebelum akhirnya Kiara berucap..
“mas, aku minta maaf karena meminta berpisah darimu.”
Hanif tidak bergeming. Masih menerka-nerka apa maksud Kiara mengajak bertemu.
“pada saat itu aku bener-bener ingin sendiri dulu, mas. Aku nggak mau mas salah paham.” Ujar Kiara memelas.
__ADS_1
Cih, dia pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan di belakangku. Orang tua mu bahkan mengkhianatiku. Gumam Hanif dalam hati. Sedang dia sendiri masih dalam mode santai tidak ingin terbawa emosi. Tangan Hanif asik mengaduk aduk minuman di depannya.
Hanif sengaja berlama-lama diam. Agar Kiara merasa tak nyaman bersamanya.