
4 bulan kemudian.
Hari ini adalah hari wisuda Anita. Tentu setelah dinyatakan lulus ujian skripsi satu bulan lalu oleh sang pembimbing setelah peperangan panjang dengan argumentasi dan perdebatan sengit antara Anita dan dosen pembimbingnya.
Flashback on
Dua minggu setelah menikah, Anita kembali fokus dengan skripsinya. Dengan bantuan Hanif sang suami, kini Anita paham apa yang menjadi mau dosen pembimbing nya.
Meskipun membutuhkan waktu satu bulan untuk benar-benar menyelesaikan revisinya, Anita berharap hal itu menjadi revisi terakhirnya sebelum sidang.
Anita segera mencetak beberapa bab lalu menyerahkan kepada dosen pembimbing.
Tak butuh waktu lama, sang dosen langsung membubuhkan tanda tangan ACC. Menyuruh Anita segera mendaftar untuk sidang skripsinya.
Betapa terkejutnya Anita mendengar hal tersebut hingga membuat ia termangu.
“kamu dengar kan? Segera daftar untuk sidang skripsimu!” perintah sang dosen lagi.
“baik pak. Terimakasih banyak..”
Anita keluar dari ruangan sang dosen. Bibirnya tak henti mengucap syukur.
“apa ini salah satu rejeki menikah? Dimudahkan urusannya.. alhamdulillah..” ucap Anita seorang diri. Sambil terus memandangi tanda tangan yang dibubuhkan sang dosen.
Flashback off
Setelah serangkaian acara untuk wisudawan wisudawati usai, Anita keluar aula menghampiri keluarganya. Hanif sudah menunggunya dengan sebuket bunga mawar merah dan satu tangkai mawar putih di tengahnya.
Ada juga mas Azzam dan istrinya, mbak Indira. Iya, mas Azzam sudah berhasil menikahi teman Anita itu 3 bulan yang lalu.
Zahra dan suami juga ikut hadir dengan bayi mungilnya yang bernama Najwa Aleea Putri Wijaya.
__ADS_1
Anita tersenyum lebar melihat orang-orang yang sangat berarti baginya telah menyambut dengan seyum lebar. Lalu satu per satu memberikan pelukan dan ucapan selamat kepadanya.
Anita melabuhkan pelukan terakhirnya kepada Hanif agar bisa berlama-lama di dada suaminya itu. kelagaan luar biasa sekarang ia rasakan karena satu tanggungjawab telah ia selesaikan.
“Anita juga punya hadiah untuk mas..” bisik Anita di telinga Hanif, ia setengah berjinjit agar mencapai telinga itu.
“hadiah? Kenapa mas yang dikasih hadiah?”
“lihat saja nanti, pasti mas suka..” sahut Anita dengan gaya sok misterius membuat suaminya semakin mengernyit.
Selepas berfoto ria, Hanif mengajak semuanya le sebuha rumah makan yang sudah ia pesan sebelumnya sebagai perayaan atas kelulusan istrinya.
***
Tidak jauh dari kampus itu, Hanif melakukan reservasi pada sebuah rumah makan dengan konsep saung resto.
Di tengah-tengah riuh pengunjung yang lain, Anita menyodorkan sebuah kotak yang dia katakan sebagai hadiah atas wisudanya. Ia menyerahkan kotak tersebut pada Hanif terlebih dahulu.
“hadiah. Yang Anita bilang tadi.”
Semua orang memandang kotak kecil berbentuk persegi panjang berwarna navy senada dengan warna baju yang dikenakan Hanif dengan antusias. Sama penasarannya dengan Hanif.
“cepat buka Nif, kami juga penasaran..” tukas mama tak sabaran.
Hanif mulai membuka kotak tersebut, lalu terperangah saat melihat isinya. Senyum lebar seketika menghias wajah sayu setelah mengetahui adalah sebagai hadiah terindah untuknya.
Hanif menoleh pada istrinya, menatapnya lekat dengan senyum terus mengembang di wajahnya. Sedetik kemudian ia memeluk erat istrinya itu dan mengucapkan banyak terimakasih.
“apa sih isinya? penasaran..” tanya mama yang mampu meleraikan pelukan dua insan yang tengah bahagia itu.
“Anita hamil ma.. ini testpack isinya, dua garis..” terang Hanif pada mama mertuanya yang berhasil membuat semua orang kegirangan, bahagia, haru hingga menitikkan air matanya. Tak terkecuali Zahra.
__ADS_1
Sahabatnya itu kini memeluk erat Anita. tubuhnya bergetar, Anita sudah menebak pasti Zahra sedang menangis.
Semenjak hamil sampai sudah melahirkan, Zahra menjadi semakin sensitif dan mudah menangis.
“kok nangisnya gini sih?” tanya Anita dibalik punggung Zahra.
“aku inget dulu sewaktu kita memeriksakan kehamilanku pertama kalinya. Terimakasih Nit, dan sekarang aku bahagia, sangat bahagia untukmu.” Suara Zahra tercekat karena isak tangisnya yang semakin menderas.
Sulit dihentikan sepertinya, lalu untuk beberapa saat Anita masih membiarkan tubuh sahabatnya itu berada di pelukannya hingga tangisnya mereda.
“sudah? Sekarang gantian tante mau meluk anak tante bisa?” tukas mama Rani tersenyum pada Zahra.
“maaf tante, Zahra terbawa suasana.. silahkan dipeluk anaknya..” Zahra terkekeh lalu menyerahkan Anita pada sang mama.
Disana, setiap pengunjung memandang sekumpulan keluarga yang tengah berharu ria dengan penuh tanda tanya, sebagian berbisik, sebagian ikut tersenyum tertular kebahagiaan melihat kehangatan keluarga itu.
“selamat ya nak, sebentar lagi kamu jadi ibu. yang sabar, yang kuat, semoga kehamilannya lancar dan calon bayinya nggak rewel..” ucap mama Rani. Sedangkan Anita menganggukkan kepalanya sebagai jawaban karena tak mampu berkata sebab ia telah terisak.
“bagaimana Nif? setelah ini mau langsung pindah kerumah kalian sendiri atau masih mau sama kami saja?” tanya ayah Rudi.
“Bagaimana dek? Mau kerumah kita atau tetap sama mama dan ayah apalagi kamu juga hamil sekarang..”
“kami ke langsung pindah saja ya yah.. Anita sudah pengen tinggal disana, kasihan mas Hanif juga terlalu jauh kalau berangkat ke kampus, selama ini sudah banyak mengalah pada Anita..” saat mengucapkan itu, Anita sambil menatap suaminya, dan hanif tersenyum manis seraya menggenggam erat tangan istrinya.
“ya silahkan, ayah hanya bertanya tidak memaksa kalian harus bagaimana-bagaimana, ini kan rumah tangga kalian. Kalian aturlah sendiri.”
Hanif tersenyum lebar mendengar ucapan ayah mertuanya. Sudah lama sejak menikah, ayah mertuanya menjadi sosok panutannya setelah bapak.
Siang itu menjadi momen manis untuk keluarga besar Rudi Hermawan dan Wildan juga Zahra. Mereka semua berkumpul merayakan hari bahagia Anita dan Hanif yang tanpa mereka sangka-sangka sebelumnya.
****
__ADS_1
Bersambung...