
Belum ada jawaban. Semua mata tertuju pada Hanif. Hanif salah tingkah jadinya. Bola matanya berputar lalu berhenti pada tatapan Anita. Menghela nafas dalam sambil mengangkat alisnya. Sebenarnya lebih kepada memberikan kode pada Anita untuk menyetujuinya. Lalu Anita menatap sang mama.
“silahkan nak.. Zahra bisa ikut tante ke belakang.” Ucap mama Rani.
Hanif memastikan bahwa Zahra dan mama Anita sudah berada di belakang.
“mau ngomong apa sih mas, kenapa harus berdua?” tanya Anita yang sedari tadi menatap penasaran pada Hanif.
Jangan bilang kalau kamu akan seperti dulu lagi. mendekat lalu pergi tiba-tiba. Menyebalkan.
“aku mau cerita sesuatu.” Hanif memulai.
“apa?”
“kamu masih ingat waktu ramadhan kemarin saat aku menghilang beberapa hari.” Lanjutnya.
Anita mengangguk. Tentu saja aku ingat. Kamu mengacaukan hari-hari ku bagaimana aku bisa lupa.
“sebenarnya aku sudah punya calon, An.” Ucap Hanif. Seperti tersambar petir di siang bolong, Anita terpaku mendengar kalimat Hanif, tangannya mengepal, dia merasakan nyeri di hatinya. Tetapi ia mencoba tenang agar tidak bereaksi berlebihan.
“terus?” tanya Anita.
“kami sudah 3 tahun bersama , saat tiba-tiba semester lalu, dia menghubungiku untuk meminta pisah. Dia bilang ingin fokus kuliah. Tapi saat ramadhan kemarin temanku menelfonku, bertanya padaku apakah kami akan menikah. Tentu saja aku mengelak. Karena baru sebulan sebelumnya dia meminta putus dariku. Lalu saat itu juga aku mengetahui bahwa memang benar dia akan menikah dengan orang lain. Padahal sebelumnya dia bilang ingin fokus kuliah. Hatiku sakit sekali saat itu karena bukan hanya dia yang mengkhianatiku tetapi orangtuanya sekaligus. Yang terjadi selanjutnya kamu tau kan. Aku menghilang beberapa hari karena ingin mengembalikan fokus diriku, An.” Ujar Hanif panjang lebar. Mata Anita membola. Dadanya bergemuruh hebat mendengar bahwa Hanif selama ini sudah memiliki calon.
__ADS_1
Apa-apaan laki-laki ini. Dia bilang sudah punya calon tapi sikapnya..astaga. Astgahfirullah. Atau aku nya yang ke GeeRan ya. Anita membatin. Anita mengepalkan tangannya, dadanya bergemuruh. Tapi tetap mencoba bersikap dan bereaksi senormal mungkin di depan Hanif.
“ehm ehm.. jadi, maksud mas Hanif menceritakan ini apa?” tanya Anita. Anita membuat suaranya senormal mungkin, padahal aslinya suaranya bergetar.
“karena aku berhutang cerita padamu. Aku bilang suatu saat akan menceritakannya padamu kan.”hanif menatap Anita sendu.
“oh, gitu.”
“kok gitu?” tanya Hanif.
“kok gitu apa?” bertanya balik pada Hanif.
“kenapa reaksimu begitu?”
“jadi saya harus bagaimana?”
“terima kasih mas Hanif sudah menceritakannya padaku. Walaupun sebenarnya saya juga tidak berhak untuk tahu dan tidak penting untuk tahu.” Ujar Anita. Selama berbicara ia terus mencoba menatap Hanif, tapi saat mata mereka bertemu, Anita segera memalingkan pandangannya.
“Anita..”
“hmm..”
“Anita..” panggil Hanif melembutkan suaranya.
__ADS_1
“iya.. apa?” Anita langsung mendongak karena panggilan kedua yang suaranya sangat mengganggu. Dia luluh, lalu mata mereka bertemu.
“aku akan pergi..”
Deg.
“mau pamit pulang? Sebentar aku panggilkan mama sama Zahra.” Saat Anita hendak berdiri, Hanif melanjutkan perkataannya..
“bukan, bukan begitu. Aku akan pergi sementara..”
“kemana?” tanya Anita. Hanif tidak menjawab. Memberikan senyuman kecil lalu menunduk.
“mas mau pindah kuliah?”
“tidak.. aku masih disini. Tapi sementara aku akan pergi.”
* Aku tidak akan mengatakannya Anita. Aku tidak mau memintamu menungguku. Aku tidak mau menyakitimu. Aku tahu perasaanmu tapi aku tidak berani memintamu bersama ku untuk sekarang ini. Cukup doakan aku. Dan pada saatnya nanti, aku akan kembali.* Hanif
lagi? mau menghindariku lagi? lalu kenapa harus muncul
sekarang? Anita
“saya masih tidak mengerti. Tapi ya terserah mas sajalah.” Ujar Anita cuek. Kini ia tidak mau lagi terlena, tidak ingin kembali mengulang kesalahannya terlalu berharap pada sikap ambigu Hanif.
__ADS_1
Gemas sama Hanif kan? sama, author juga..