
Siap-siap ya..
Author ajak baca maraton satu bab ini..
jangan lupa kasih like nya dan komen dan vote juga boleh..
\~\~\~\~
Seusai sholat Hanif mengambil handphonenya di dalam tas, mengecek beberapa pesan masuk. Tatapan Hanif berhenti pada pesan Anita. Membaca sebentar lalu Hanif menelfonnya.
Tut tut tut
Sampai panggilan itu terputus dengan sendirinya. Anita tidak mengangkat telefonnya. Hanif lalu mengirim pesan padanya.
Nanti kalau sudah longgar kabari ya, aku mau telefon.
Sudah lama sejak Hanif melanjutkan S2 nya di Bandung, Anita seperti obat baginya. Saat lelah, penat dan sulit Hanif lalu teringat Anita.
Anita mengetahuinya, bahwa Hanif sedang dalam keadaan lelah meski tidak mengatakan ia menemaninya berbincang mengenai banyak hal. Hanif akan menceritakan kegiatannya seharian lalu masalah yang ia hadapi hari itu. Anita bahkan sudah hafal kebiasaannya itu.
Maaf mas, Anita baru sampai rumah, sebentar ya. Nanti aku saja yang telfon.
Begitu isi pesan Anita, kini jam menunjukkan pukul 8, Anita baru saja sampai rumah setelah seharian mengerjakan skripsi nya di Perpustakaan Kota.
Tak berselang lama, handphone Hanif berdering. Ia langsung saja menyambar handphone itu karena tahu Anita lah yang menghubunginya.
“assalamu’alaikum..” sapa Anita di ujung telefon.
“wa’alaikumsalam..bagaimana hari ini dek? Sudah sampai mana skripsinya?”
Dan mengalirlah perbincangan itu. Anita menceritakan kegiatannya seharian sekaligus progres skripsinya. Sedangkan Hanif menanggapi memberi beberapa saran.
“mas Hanif kenapa? Susah ya tesis nya, banyak revisi?” tanya Anita kini.
Anita selalu siap mendengarkan cerita Hanif begitu juga sebaliknya. Hanya dengan Anita Hanif bisa menceritakan segalanya, dan setelah itu beban yang ia bawa seharian terasa ringan kembali.
“kamu itu punya keahlian baca pikiran orang ya?” Seloroh Hanif lalu terkekeh sendiri.
“Maksudnya?”
“maksudnya bukan apa-apa.. hehe..”
“selalu begitu. Tinggal jawab kenapa sih..” Mereka kembali terdiam.
“dek..”
"hmm..”
“mas akan secepatnya menyelesaikan tesis ini..”
“Kenapa harus cepat-cepat? Sekarang saja mas sudah lebih cepat dari waktu yang seharusnya..”
Karena aku akan segera melamarmu..
“karena sudah kangen banget sama Jogja..hehe”
“jogja nya aja yang dikangeni?” tanya Anita. Entah angin dari mana, Anita pun terkejut dengan ucapannya sendiri, di kamarnya sana ia sedang merutuki dirirnya yang asal bicara.
“tidak. Banyak alasan yang membuat aku ingin segera kembali.” Ucap Hanif termenung. Terlintas wajah adik-adik, paman dan juga simbahnya. Dan juga wajah Anita yang mendominasi lamunannya.
Mendengar jawaban Hanif, Aita terpancing untuk mengetahui sesuatu. Tentang mantan pacar Hanif. Seperti meminta penjelasan akan hubungannya saat ini.
“termasuk dia?” tanya Anita.
__ADS_1
“dia? Siapa?”
“mantan mas, Kiara?” pancing Anita lagi.
“kenapa membahas dia?”
“bukannya mas akan menikah dengannya?”
“maksudnya? Aku tidak akan kembali padanya lagi apalagi menikahinya.”
“lalu kenapa mas Hanif pergi dengannya ke toko perhiasan?”
“toko perhiasan?”
“hmm” jawab Anita lemas. Malas sebenarnya ia membahas orang lain. Tapi Anita harus menegaskan siapa dirinya bagi Hanif.
“darimana kamu tau?”
“nindi yang memberi tahuku.. dia melihat mas sama Kiara di toko perhiasan..” ucap Anita cepat.
Hanif menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya cepat.
“aku tidak akan menikahinya. Waktu itu aku hanya mengantarnya ke toko tu karena dia bilang ingin membelikan hadiah untuk ibunya.”
“kenapa harus sama mas?”
“karena dia terus merengek. Dia terus menghubungiku dan membawa-bawa orang tuanya yang membuat aku tidak bisa menolaknya. Percayalah, Hmm?”
Anita terdiam di sana mendengar penjelasan Hanif. Dia tidak lagi memiliki argumen yang pas untuk mendebat. Tidak, penjelasan Hanif tidak untuk didebat. Ia hanya ingin penjelasan yang sejelas-jelasnya kaan hubungan mereka itu.
“dek.. mau tau kenapa mas mati-matian menyelesaikan sesegera mungkin tesis ini?”
Diam.
Anita tergugu. Matanya berkaca-kaca karena perasaan senang membuncah seketika. Tapi ia tahan, nama Kiara kembali muncul di kepalanya.
Dia akan menahan perasaan senangnya sampai Hanif benar-benar datang ke rumahnya untuk melamar.
“tapi dia ingin kamu kembali padanya mas..” ucap Anita lirih, Anita menahan sesak di dadanya.
Mendengar ucapan itu Hanif tergelak, emosinya meluap. Bukan kalimat itu yang ingin ia dengar.
“kenapa kamu bicara seperti itu? kamu bertemu Kiara? Atau dia menghubungimu? Apa dia mengganggumu?” tanya Hanif memburu, ia takut-takut jika Kiara benar-benar nekat lalu mengganggu Anita.
“tidak, dia hanya bercerita tentang hubungannya dengan mas Hanif. Dan dia berharap mas mau kembali padanya.” Ujar Anita. Anita merasakan sesuatu yang baru baginya, perasaan senang bercampur sedih. Hanif mengambil nafas dalam.
“Aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak akan kembali padanya, sejak beberapa bulan lalu. Masih ingat kan? Mas tidak tahu apa yang dia ceritakan padamu, tapi percayalah aku tidak akan pernah kembali padanya Anita.” Hanif mengatakan dengan tegas tekadnya itu. Dia yakin akan perasaanya pada Anita.
Anita terdiam. Di sudut kamarnya sana, Anita tergugu air matanya tumpah ruah.
“kamu tidak percaya padaku?” tanya Hanif kembali. Ia pun merasakan sesak di dadanya. Ia tidak tahan mendengar Anita menangis.
“kamu ingin aku kembali padanya?” tanya Hanif sekali lagi. namun Anita masih juga terdiam. Anita tidak sanggup membuka suara.
“baiklah.. istirahatlah..” ucap Hanif, ia menganggap diamnya Anita adalah sebagai jawaban YA untuknya.
“tidak, tunggu..” sergah Anita cepat. Dia tidak ingin mengakhirnya begitu saja, setidaknya Hanif harus memperjelas hubungan mereka saat ini.
Meskipun Hanif sudah berkata bahwa akan melamar Anita, namun sepertinya hal itu tidak bisa membuat Anita tenang. Dulu, Hanif juga berjanji kan melamar Kiara.
“mas benar-benar akan kembali padanya?” lanjutnya.
“jika maumu seperti itu, aku akan kembali padanya!” Hanif berusaha keras menahan sesak di dadanya. Dalam hatinya bergumul kesal, sedih dan marah jadi satu.
__ADS_1
Ayolah Anita, katakan jangan. Katakan kamu akan menunggu lamaranku.
“mas masih mencintainya?” tanya Anita, meskipun ia harus menahan pilu di hatinya.
“astaga Anita..” Hanif menghela nafas berat mendengar pertanyaan konyol Anita.
“jawab mas!”
“tidak!” sahut Hanif. Nafasnya tersengal karena saking kesal nya.
“apa mas mencintaiku?”kali ini Anita meminta pernyataan.
“mungkin!” jawab Hanif. Iya sudah malas menanggapi pertanyaan konyol Anita. Maka kini ia akan membuat Anita merasakan apa yang dia rasakan. Bukan, bukan balas dendam, hanya sedikit memberikan pelajaran untuk Anita agar ia tahu bahwa Hanif benar-benar serius padanya.
“kenapa mungkin..?”
“karena kamu baru saja membuatku ragu..” mereka terdiam di tempat masing-masing.
Di kamarnya, Anita kembali menangis, ia menyesal kini telah meragukan Hanif.
“jadi, kamu masih mau menyuruhku kembali pada Kiara?” tanya Hanif lagi. Anita sesenggukan. Dan Hanif jelas mendengar itu, dadanya kembali sesak karenanya.
Tidak. Aku nggak mau mas Hanif melakukannya.. Gumam Anita dalam hati.
“Baiklah, tidak perlu dijawab. Dengarkan baik-baik karena mas hanya akan mengatakannya sekali. Hmm?”
“Aku sudah meniatkan diriku bahwa aku akan memperjuangkanmu. Aku berusaha menghindarimu dulu, karena aku merasa belum pantas, pun aku tidak berani menjanjikan apapun ataupun menyatakan perasaanku padamu. Aku takut apa yang aku rasakan dengan Kiara akan kembali terulang, maka lebih baik aku membebaskanmu dan terutama diriku sendiri. Lalu kamu muncul bersama Zahra saat wisuda itu. kamu tau apa yang aku rasakan? Mas seperti sembuh dari luka. Luka yang bertahun-tahun menyakitiku seketika hilang saat melihatmu hari itu. Dan
sekarang, mas mati-matian berjuang keras menyelesaikan tesis secepat mungkin karena kamu, Anita. Aku akan melamarmu saat aku kembali ke Jogja nanti, karena sekarang mas yakin tentang dirimu.” Panjang lebar Hanif menjelaskan.
Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya kasar.
“aku seharusnya tidak mengatakannya sekarang, kata-kata ini sudah aku susun untuk melamarmu nanti. Tapi kamu mengacaukannya. Dan seharusnya tidak pantas aku mengatakannya lewat telefon seperti ini kan?” Hanif terkekeh kecil.
Di ujung telefon, Anita pun ikut tersenyum. Dia merasakan manis di hatinya bersamaan dengan dadany yang masih terasa sesak itu. Dia sama sekali tidak menduga ternyata sejuah itu Hanif memikirkannya sejak dulu.
“mas..” panggil Anita, suaranya parau sekali. Bahkan hampir tidak bisa didengar jelas.
“hmm..”
“aku akan menunggumu..” ucap Anita. Lalu keduanya tersenyum lega di tempat masing-masing. Seandainya berhadapan langsung, mungkinkah mereka akan berhambur saling memeluk? Ah, sepertinya tidak. Kan belum halal.
“terimakasih dek.. Do’a kan mas juga agar lancar menyelesaikan tesis ini..” pinta Hanif.
“pasti..” Anita tidak berhenti tersenyum meskipun matanya pedih karena terus-terusan menangis.
“sudah ya.. istirahat ya. Telingaku sudah panas sekali dari tadi..hehehe..” ucap Hanif sedikit berkelakar.
“iya..”
“Assalamu’alaikum..”
“wa’alaikumsalam..”
Lalu tut tut tut, sambungan terputus. Malam panjang karena percakapan mereka akhirnya usai. Sudah pukul 23.00 kini. Mata Anita yang sedari tadi pedih semakin pedih karena mengantuk. Dia akhirnya terlelap masih dengan memegang handphone.
Sedangkan Hanif belum bisa tidur. Hanif merasakan kelegaan luar biasa. Senyum terus tersungging di wajahnya, semangatnya juga kembali. Maka malam ini dia memutuskan lembur mengerjakan tesisnya.
***
Tarik nafas dulu...sudah selesai ya megap-megapnya..
panjang kan?
__ADS_1
ikuti terus kelanjutannya ya.. jangan lupa like nya..