Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
episode 398


__ADS_3

HAI READER KU TERSEYENG


JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA


KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


HAPPY READING YA GUYS


LANJUT ***


"Apa katamu tadi,calon suami hah terus aku bagaimana?" Tanya Rino memastikan.


"Memang nya kamu kenapa,perasaan aku yang stres kok kamu yang lebay?" Tanya Sarah penasaran.


"Ya kan kamu tahu kalau aku cinta sama kamu masa mau saja kasih ke orang lain,jadi Sayang jangan mau ya kalau dijodohkan dengan orang lain!" Bujuk Rino membuat Sarah ingin tertawa.


"Haha,kamu ih lucu sekali tau tidak,hobinya kalau ngomong itu suka yang aneh aneh." Ejek Sarah membuat Rino tambah merajuk.


"Ya ya maklumlah orang kalau lagi jatuh cinta itu,ngomongnya selalu aneh aneh tidak jelas." Sahut Rino membuat dirinya tertawa karena lucu.


"Kamu ya aku ngomong serius tapi kamu malah bercanda,nanti aku jadi belok arah kerumah kamu sekarang." Goda Rino.


Sarah hanya bisa tertawa ngakak tanpa menjaga image sekali pun,ia bahkan merasa geli sendiri dengan percakapan keduanya itu.


"Kamu sudah sampai dimana?" Tanya Sarah penasaran.


"Aku lagi jalan ke arah rumah kamu!" Sahut Rino yang sama sekali tidak sadar dengan apa yang ia katakan.


"Apa katamu tadi jalan kemana?" Tanya Sarah memastikan.


"Eh sabar dulu ya,aku matikan dulu soalnya Mobil Papa sama Mama berhenti tuh didepan!" Pamit Rino lalu tanpa mendengar jawaban dari Sarah ia mematikan panggilannya.


Sarah hanya bisa menatap ponselnya dalam diam,ia heran dengan kelakuan pria yang selalu menggangu pikirannya belakangan ini.


"Coba ngomong apa gitu yang manis manis sedikit,biar aku melayang eh ini main langsung kasih mati saja panggilannya." Sungut Sarah yang sambil menatap kesal kearah benda persegi itu.


Ingin dibanting buang,akan tetapi sayang pada ponselnya jika Rino menelpon lagi kan susah masa hanya mengambang di udara begitu saja.


"Ihhh menyebalkan,nanti kalau pria yang datang sebentar perutnya buncit terus hidung nya lebar bagaimana dong?" Gumam Sarah frustasi memikirkan jodoh yang disiapkan sang Papa untuknya.


Berbeda dengan Rino yang lebih bingung darinya,ia seolah sedang berpikir keras tentang rumah yang sekarang berada di hadapan nya.


"Ma,kita kok berhenti disini?" Tanya Rino pada Yuli yang dari tadi sedang tersenyum kearahnya.


"Terus kamu mau nya kita berhenti dimana?" Tanya Yuli sambil tersenyum.


"Ya tapi ini kan rumah nya Sarah,memangnya kita mau ngapain?" Tanya Rino.


"Oh itu mau ketemu sama calon istri kamu yaitu Tantenya Sarah!" Bohong Yuli membuat Rino langsung terkejut dan tak mau melangkahkan kaki nya lagi.


"Ma,masa anak kalian setampan ini dikasih jodoh ke orang lain,apa kata dunia ini kalau Nanti Tante nya Sarah itu sangat garang?" tanya Rino pelan.


"Ayo masuk!" Ajak Dika yang jengah melihat tingkah Rino yang kelebihan lebay itu.


"Tapi Pah tolongin aku dong,masa jodohnya Tante tante?" Tolak Rino ingin menangis.


"Yakin tidak mau masuk?" Goda Dika.


"Haiish Yakin lah Pa,ayolah kita pulang saja ya jangan disini!" Ajak Rino memelas.


"Tidak ada kata pulang,masa sudah sampai didepan rumahnya main pulang begitu saja.Lagian apa kata orang kalau kita lari dari kenyataan,awas saja ya kalau kamu minta pulang bakal menyesal baru nyaho!" Omel Yuli.


"Aku tidak akan menyesal kok Mah beneran deh,jadi kita pulang ya?" Bujuk Rino lagi.


Sementara itu Davin yang masih berada dalam mobil bersama Silvia,langsung mengangkat tubuh istrinya itu untuk dipangku.


"Hemm kamu mau ngapain,nanti kalau ada yang lihat bagimana?" Tanya Silvia pelan.


"Kita ada dalam mobil lagian kaca nya gelap jadi tidak akan melihat,biar aku pantau sebentar saja soalnya tuh drama keluarga di depan sepertinya bakal lama!' Sahut Davin sambil menunjukkan kearah Rino dan orang tua mereka yang sedang berdebat.


"Aku masih mau tidur,tapi kamu pake parfum apa sih waktunya bikin enek begini?" Tanya Silvia ketus sambil berusaha membersihkan wangi parfum di tubuh Davin.


"Tapi Sayang,ini parfum kesukaan kamu lho,bahkan semua yang aku pake kamu yang pilihkan?" Tanya Davin heran.


"Hadeuh bodoh amat sih,pokoknya nanti jangan pake lagi bila perlu pake minyak nyong nyong saja." Perintah Silvia cemberut.


"Lho kok gitu sih,nanti dikira aku pengasuh bayi lagi karena bau minyak telpon?" Tanya Davin memastikan.


"Ayo lepas pakaiannya sekarang!" Perintah Silvia yang membuat Davin kebingungan.


"Lho Sayang ini mobil lho,masa kamu suruh aku ganti?Nanti saja ya kalau sudah sampai dirumah,aku bakal tidak pake apapun untuk kamu." Bujuk Davin.


Mendengar penolakan dari suaminya itu,Silvia merasa sangat sedih hingga tanpa sadar mengeluarkan air mata.



"Hei kamu kenapa Yang,ayolah kenapa jadi cengeng begini sih?" Tanya Davin frustasi.


"Hikss hikss kamu jahat aku kan lagi pengen begituan disini,kenapa jadi marah marah!" Sungut Silvia sambil terus mengusap hidungnya sampai memerah.

__ADS_1


Davin masih mencerna perkataan istrinya itu,maksudnya dengan kata INGIN itu apa?


"Sayang maksud kamu apa tadi?" Tanya Davin memastikan.


"Aku pengen kita begituan didalam mobil!" Ajak Silvia serius.


Wajah Davin menjadi pias,entah setan apa yang merasuki tubuh istrinya sampai menginginkan hal begituan dalam mobil saya ulangi dalam mobil.


"Tapi Sayang,ini di depan rumah orang lho!" Tanya Davin ingin agar sang istri berubah pikiran.


"Kamu jahat nanti malam tidur diluar kalau tidak aku bakal pulang kerumah Mama!" Ancam Silvia merajuk.


Davin yang antara bingung dan tak tahu harus bagaimana memilih untuk menghidupkan mesin mobil dan melaju ketempat yang sedikit sepi.


Ia juga tak mungkin menolak dong jika urusan begituan,hanya saja ia tadi sempat terkejut.


Saat Davin pergi Yuli dan yang lainnya menatap heran kearah mobil mereka yang semakin menjauh,entah apa yang terjadi sampai mereka pergi dengan terburu buru.


"Lho si Avin kemana itu?" Tanya Yuli heran.


"Awas saja mereka tidak kembali lagi,aku bakal mogok bicara selama satu tahun!" Gerutu Rino.


"Mama telepon saja kan beres,biar tahu mereka mau kemana?" Perintah Dika serius.


"Baiklah!" Sahut Yuli dan mulai berselancar di ponsel androidnya itu.


"Kita kembali saja ya,malu kalau harus berdiri disini saja." Ajak Rino alasan agar bisa pergi dari situ.


"Diam kamu,kata kata kamu itu hanya bikin pusing saja tau tidak ." Bentak Dika kesal membuat Rino hanya bergidik ngeri saja.


Silvia yang entah mengapa malam ini merasa libidonya sedang tak bisa dibendung,memilih untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Davin sama sekali.


Ia memaksa Davin agar menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya,entah apa yang ingin ia lakukan hanya dirinya sajalah yang tahu.


"Kamu mau ngapain Yang?" Tanya Davin pelan.


"Diam dan rasakan saja." Goda Silvia.


Ia pun mulai melakukan dengan memaju mundurkan kepalanya,sementara orang yang ia lakukan begitu hanya bisa mengeram kenikmatan.


"Sayang aji kamu malam ini liar sekali.' Desah Davin.


Derth derth


Disela kegiatan itu,ponsel Davin bergetar setelah di cek ternyata Yuli yang menelpon.


Dengan menahan nafasnya,Davin mengangkat telepon dari Yuli.Nafasnya tercekat akan tetapi ia berusaha senetral mungkin.


"Kamu kenapa pergi?" Tanya Yuli heran.


"Oh itu karena Silvia pengen buang air tapi nanti kalau sudah selesai,kami berdua akan kesitu." Sahut Davin.


"Kamu kenapa kok suaranya kaya orang lagi lomba lari begitu?" Tanya Yuli penasaran.


Tut


Davin tanpa banyak bicara langsung mematikan panggilan tersebut,karena ia tak mau Yuli curiga.


"Dasar anak kurang ajar,bisa bisa mematikan ponsel saat orang lain masih ngomong!" Gerutu Yuli.


"Kenapa Ma?" Tanya Dika penasaran.


"Davin anterin Via kerumah dulu ,nanti baru nyusul kesini."Sahut Yuli.


"Oh ya sudah ayo kita masuk lebih dulu!" Ajak Dika akan tetapi terlihat Rino masih berat sekali.


"Pah,apa tidak bisa dirubah begitu keputusannya?" tanya Rino pelan.


Dika hanya menatap sinis kearah Rino ,lalu setelah itu menggandeng tangan istrinya menuju pintu rumah megah itu.


"Huh terpaksa harus mau,kalau tidak bakal kena amukan singa jantan lagi!" Batin Rino.


"Cepetan kesini,mau ikut lomba jalan siput kamu?" Tanya Yuli ketika melihat kebelakang dan Rino tampak tak bergerak sama sekali.


"Iya Mah nih mau kesitu." Sahut Rino sebelum Yuli bertambah marah.


Ting tong ting tong


Terdengar bel pintu dari luar,membuat pemilik rumah itu yakin kalau tamu mereka sudah datang.


"Pah bukain pintunya dong!" perintah Eva.


"Hemm ya iyalah harus dibukain,masa bisa buka sendiri?" Sindir Heri.


"Oh kau mau cari perkara begitu Tuan Suami?' Tanya Eva kesal.


"Tidak Mah!" Sahut Heri lalu segera menuju pintu.


Ceklek


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Hadiwinata!" Sapa Heri.

__ADS_1


"Selamat malam Tuan Wijay,satu kehormatan kami bisa berada disini." Sahut Dika basa basi.


"Ayo silahkan masuk!" Ajak Heri dan diikuti oleh semua orang.


Semuanya ikut masuk,Rino nampak masih ragu ragu namun ketika tatapan tajam dari Yuli membuat ia segera mengikuti mereka.


"Oh Tuhan harga diriku tergadai sudah,nasib nasib punya Bapak penjahat seperti itu." Batin Rino.


Davin yang sudah mematikan panggilan secara sepihak,langsung menatap penuh harap ke arah Silvia.


"Yang ayo kita pindah ke belakang,biar lebih bebas!" Ajak Davin yang sudah tak bisa bersabar lagi.


"Kita ke rumah yang tadi ,soalnya aku sudah tak ingin." ujar Silvia tanpa dosa.


Ia bahkan tak sadar jika suaminya tengah menahan sesuatu yang berada diatas ubun ubun,Davin hanya bisa menyugar rambutnya frustasi.


"Jadi kita kesini,hanya untuk kamu begitu saja tidak lebih begitu?" Tanya Davin memastikan.


"Iya aku hanya mau begitu saja tidak lebih,lagian siapa juga yang gila mau ***** ***** di mobil." Sahut Silvia santai.


"Setelah kau angkat tinggi dan menghempaskan ketanah


begitu saja,kamu tega sekali sih Yang!" Lirih Davin frustasi.


"Ah biasa saja tuh siapa juga yang mau mobilnya bergoyang ,terus nanti bakal kepergok satpol Pp karena ketahuan mesum!" Sinis Silvia santai.


Diam itu emas,tapi tahukah kalian jika Davin sedang stress kini. Ia pikir Silvia tadi yang libidonya sedang tinggi meminta hal itu,ternyata salah besar.


Ia hanya dipermainkan oleh Silvia,baiklah sambil menatap kearah Silvia dan berjanji bahwa sang istri malam ini tidak akan ia biarkan untuk tidur.


"Ya sudah tapi nanti kamu harus bayar ya,yaitu dengan main sampai pagi!" Pinta Davin.


"Ok siapa takut!" Sahut Silva.


Keduanya kembali dengan tidak melakukan apapun,bahkan bisa dibilang merupakan siksaan terberat untuk Davin.


"Kamu kenapa kok dari tadi aneh sekali?" Tanya Davin pelan.


"Tidak,aku rasa biasa saja tuh kamu nya saja yang menanggapinya berlebihan?" Sahut Silvia santai.


Davin sudah tak ingin bertanya lagi ,karena nanti bakal salah lagi.


Sesampai mereka disana semua orang sudah masuk di dalam,Silvia akhirnya sadar kalau ini ternyata rumah sobat cempreng nya itu.


'Sayang ini bukannya rumah Sarah,tapi kata Papa kita bakal bertamu ke rumahnya calon istri Rino?" Tanya Silvia heran.


"Iya juga ya,masa si cempreng nya yang bakal jadi istrinya Rino?" Sambung Davin.


"Kalau begitu bagus dong,artinya aku bakal punya Ipar rasa sahabat." Sahut Silvia antusias.


"Lebih baik kita masuk kedalam dulu,siapa tahu orang lain yang dimaksud!" Ajak Davin.


Tanpa banyak bicara keduanya masuk kedalam rumah dengan tangan saling berpaut,kebetulan pintu tidak di kunci ya langsung masuk saja.


"Malam semuanya!' Sapa Silvia sedangkan Davin hanya tersenyum saja.


"Ya ampun kesayangan Mama sudah datang,Ayo duduk Nak!" Teriak Eva antusias.


Heri hanya menatap istrinya dengan gelengan kepala,ia sedikit merasa malu jika istrinya mengeluarkan suaranya yang khas itu padahal sedang ada tamu.


"Ya ampun Ma,bisa tidak jaga image sedikit?" Batin Heri.


"Muka kamu kenapa Woiii,kaya mau di ajak perang saja kelihatan tegang amat?" Ejek Davin sambil berbisik ke arah Rino yang juga sedang Kesal.


'Diam kamu burik,jangan tambah bikin jengkel!' Bisik Rino kesal.


"Kamu kenapa Nak,Kebelet mau ke toilet?" Tanya Eva memastikan.


Astaga pertanyaan Eva yang absurd itu ,sungguh membuat harga diri Rino jadi jatuh sejatuh jatuhnya.


"Ah tidak Tante,hanya lagi ada urusan soal pria saja." Bohong Rino dengan wajahnya yang memerah.


"Ok gitu Ya." Gumam Eva.


"Ma,Sarah mana kok dari tadi tidak kelihatan?" Tanya Silvia penasaran.


"Ada dikamarnya,kamu tolong panggilkan Ya!" Pinta Eva.


"Oh baiklah." Silvia segera bangkit dari duduknya dan menuju ke tangga untuk ke kamar Sarah.


Sedangkan diseberang ada seorang pria yang lagi memberikan kode agar Silvia mengerti,ternyata oh ternyata ia tak di fungsi sedikitpun.


"Tega sekali sih,padahal aku yang ingin menjemput Bidadari ku." Batin Rino.


" Kamu kenapa boy,lagi sakit perut?" Ejek Dika.


Semua orang diruangan itu hanya tersenyum,bagaimana tidak terlihat dari tadi jika pemuda itu sedang gelisah.


"Sabar,nanti juga bakal ketemu!" Goda Eva.


"Ketemu sama Tante girang?" Tanya Rino dalam hati.

__ADS_1


"Saya senang karena Tuan Hadiwinata langsung datang kesini malam ini,padahal perjodohan ini baru kita bahas kemarin dulu!" Ujar Heri membuka percakapan.


__ADS_2