Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
episode 406


__ADS_3

HAI READER KU TERSEYENG


JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA


KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU


LOPE U FULL


💞💞💞💞💞💞💞💞


HAPPY READING YA GUYS


LANJUT ***


Skip


Esok adalah hari pernikahan Rino dan Sarah,terlihat semua keluarga besar sudah kumpul tak terkecuali Riani dan Bram yang dari Amerika.


"Wah ternyata semua kalau kumpul jadi rame ya?" Ujar Nikah Mamanya Alan.


"Iya kamu benar sekali aku saja sampai terkejut,tapi sayang sepanjang mata melihat tidak ada satupun yang bening." Sambung Ella Ibundanya Lika.


"Nah begini ini yang bikin kita jadi janda kekal abadi terus bahkan sampai author kasih tamat ini cerita juga tidak akan dapat dapat juga." gerutu Mikha keduanya bahkan terlihat sangat antusias.


"Ya ampun Ka lihat deh Bunda sama Mama,kenapa makin tua mereka makin centil saja ya?" Tanya Yuli pada Lika yang juga hanya bisa geleng geleng kepala.


"Aku saja bingung apalagi kamu,kenapa kalau model begitu mereka tidak nikah lagi saja kan lebih bagus begitu?" Tanya Lika.


"Padahal ada lho Papa Marcel sama Papa Adam kayanya cocok deh mereka?" Tanya Yuli.


"Hehe iya juga siapa tahu Mama sama Bunda merindukan belaian begitu?" Kekeh Lika sambil tersenyum.


Ada saja kedua sahabat itu,yang selalu saja bersama walaupun banyak sekali rintangan yang mereka hadapi.


Baik masalah jodoh,pekerjaan akan tetapi bukannya semua manusia sudah diatur jalan hidupnya oleh yang kuasa.


Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya ,karena jika sampai hal itu terjadi maka ia sudah tak sayang lagi pada ciptaannya.


Padahal manusia merupaka gambaran dan citranya sendiri,yang patut di kasihan dan di jaga.


Akan tetapi kita sebagai manusia terkadang melupakan hal yang penting itu,hingga lupa yang namanya ber syukur.


"Ayo kita panggil Papa Marcel biar kenalan sama Bunda Ella." ajak Yuli dan hanya diikuti oleh Lika.


"Apa kita dosa tidak ya,seolah memaksa mereka untuk nikah?" Tanya Lika memastikan.


"Nah karen pikiran kamu yang kaku begitu makanya mereka jomblo terus,Ayolah kita hanya membantu mereka saja biar banyak teman kalau urusan yang lain terserah mereka saja kita bisa apa?" Jelas Yuli santai.


"Astaga setelah sekian hidup dengan Dika,otak kamu yang jujur itu jangan bilang sudah hilang karena aku tidak akan bisa menerima hal itu?" Tanya Lika tak percaya.


"Ya mungkin saja kali,lagian istri mana yang mau beda pendapat dengan suami,yang ada kan ingin terlihat sama biar setia sekata begitu." Sahut Yuli membuat Lika jengah jadinya.


"Kita ini sudah jadi calon nenek lho,tapi kenapa tambah menyebalkan ya?" Ejek Lika pada dirinya dan Yuli


"Haha biar dikata nenek kece badai kan,tidak ketinggalan jaman terus kaya Nenek yang lain." Ujar Yuli.


Ketika hendak mendekati Ella langkah kaki mereka terhenti ketika Adam Papanya Yuli mendekati Ella ,terlihat wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum manis.


"Aku boleh duduk disini?" Tanya Adam.


"Silahkan saja Tuan Adam Alfian." Sahut Ella.


"Jangan terlalu formal dong,kita kelihatan kaya orang asing tau tidak?" Pinta Adam sok akrab sok dekat.


"Tapi takutnya tidak sopan lho,apalagi nanti pikiran orang lain?" Ella memang memiliki kepribadian yang sopan dan tak suka neko neko.

__ADS_1


"Kata siapa tidak sopan ,perasaan aku biasa saja tuh?Lagian kita itu hidup jangan terlalu memikirkan orang lain,karena bukan mereka yang kasih makan atau uang jajan." Jelas Adam wah sok bijak loe bro.


"Yul Aku merasa kita di colong star sama Papa kamu ,padahal tadi rencananya kita mau kasih dia ke Mama Mikha eh tau taunya dia malah berbelok arah sendiri?" Tanya Lika.


"Ah syukur kalau begitu,biar kita tidak terkesan memaksakan kehendak nanti bakal kena amukan lho." Sahut Yuli yang juga terkekeh geli.


"Kalau begitu ayo kita ke Mami kamu saja deh,aku yakin pasti banyak Berondong yang bakal kepincut pesona nya Mami." Puji Lika.


"Haha,asal kamu tahu gara gara itu sampai Papi Bram selalu ekor kemana mana!" Ujar Yuli sambil menunjukan kearah Bram dan Riani yang saling mengekor.


"Mami kok makin cantik saja sih,aku saja jadi iri lho!" Puji Lika sambil tersenyum.


"Eh kamu sayang ,jamu juga cantik kok Mami saja tidak kalah kaget padahal sedikit lagi mau jadi Nenek." Goda Riani.


"Papi apa kabar?"Tanya Lika yang tak melupakan pria paruh baya disamping Riani itu.


"Papi baik Nak,biasalah masih sibuk jagain jantung hati takut mata nakal yang selalu melirik." Ujar Bram sambil tersenyum kearah istrinya itu.


"Haha Mas kamu ih sembarangan saja kalau ngomong ,biarkan saja mereka mau apa kan aku cuman punya kamu saja." Rayu Riani sambil tersenyum.


"kami pergi ke yang lain dulu ya!" Pamit Lika lalu menarik tangan Yuli agar ikut dengannya.


"Papi sama Mami kamu itu hanya bisa bikin iri tahu tidak,selalu saja romantisan dimana saja bahkan tak pernah bosan." Ujar Lika gregetan.


"Aku juga senang karena Saat bersama Papi tidak ada wajah kesedihan Mami,ia bahkan tertawa bahagia terus." Sahut Yuli bahagia.


"Terkadang kita tak tahu siapa jodoh kita yang bakal menemani kita menuju ajal,mungkin saja bukan jodoh harapan kita pertama melainkan jodoh yang terakhir." Lirih Lika sambil sesekali menatap kearah Ella yang tertawa bahagia bersama Adam.


"Kamu jangan sedih gitu dong,aku kan jadi mewek nih karena sedihnya kamu ya sedih ku juga." Bujuk Yuli.


"Makasih ya Beb,kamu memang sahabat terbaik ku maafkan aku jika suara cempreng ku selalu menyusahkan kamu." Ujar Lika tak enak hati.


"Hadeuh justru aku tanpa cempreng kamu jadi apa,bagaikan sayur tanpa garam." Ujar Yuli dan akhirnya keduanya terkekeh geli sendiri.


"Sayang kamu yakin tidak mau pulang?" Tanya Davin cemas.


"Hem aku baik kok,kamu tadi tidak pake parfum kan?" Tanya Silvia memastikan karena bay parfum Davin sungguh tidak enak di hidup.


"Iya aku bahkan tidak pake apapun lagi lama lama bau badan ku bisa mengalahkan tukang bangunan!" Sahut Davin pelan tapi ada nada stres didalamnya.


"Hiks hiks kamu marah ya,karena aku hamil jadi suruh yang aneh aneh?" Tanya Silvia yang wajahnya sudah di penuhi dengan air mata.


"Lho Sayang kamu kok menangis sih ,padahal tadi aku hanya bercanda saja lho?" Tanya Davin tak habis pikir dengan mood orang hamil kadang menangis kadang pula tertawa tanpa sebab.


"Kamu tadi kan marahin aku,jangan pura pura lupa deh?" Ketus Silvia kesal.


"Itu tadi hanya salah bicara saja kok tidak berasal dari hati beneran deh." Bujuk Davin pelan.


"Au ah gelap ,aku mau ke kamar Sarah saja malas sama kamu sudah bau nya tidak enak cerewet kaya emak emak lagi capek." Omel Silvia yang membuat Davin melongo tak percaya.


"Ini aku yang sudah stres atau istriku yang keterlaluan,perasaan yang suruh aku jangan pake parfum kan dia masa sekarang bilang bau badan ku aneh?Untung juga ada Davin junior,kalau tidak sudah ku bawa pulang sekarang." Batin Davin kesal dan memilih bergabung dengan Rino serta yang lainnya.


"Kamu kenapa kok kusut amat mukanya?" Tanya Rino memastikan.


"Biasalah drama rumah tangga kalau istri sedang hamil muda,sudah mandi tanpa sabun dilarang pake parfum tapi bau badan kita juga yang di kritik tidak enak?" Alan menimpali membuat Davin hanya bisa terdiam karena semua itu benar apa adanya.


"Wah kenapa wanita hamil separah itu,semoga saja besok lusa Sarah tidak lebih parah dari itu." Doa Rino yang tanpa sadar membuat Davin tambah kesal.


"Oh jadi kamu bilang istriku aneh begitu,enak saja kalau ngomong lihat saja aku doakan kamu bakal lebih parah lihat saja bentukan istri kamu yang kepala batu itu?" Ketus Davin kesal.


"Haiiss kamu kenapa jadi sensitif begitu sih ,aku tadi kan hanya bercanda saja jangan marah marah dong bro." Goda Rino agar saudaranya tidak marah yang kurang jelas.


"Hemm terserah kamu saja,aku capek malas berdebat mau pergi tidur dulu." Sahut Davin lalu menuju kamar.


Kini mereka semua berasa di salah satu hotel milik keluarga HW Grup tempat akan digelar pernikahan Rino Dan sarah.

__ADS_1


Hotel itu ditutup total karena akan di pakai buat hajatan sang pemilik,jadi tidak di buka untuk umum demi kenyamanan semaunya.


"Sarah aku lagi kesal,boleh tidak kamu goyang bebek atau apalah biar aku tambah senang begitu?" Pinta Silvia membuat Sarah bergidik ngeri.


"Beb kalau kamu lagi kesal ya pergi ke suami kamu sana lah masa harus kesini,lagian kalau aku goyang terus pinggang aku ada urat yang salah besok nikahnya gimana?" Tolak Sarah.


"Ih kamu mah tega aku kan lagi sedih setidaknya hibur aku atau apa kek,lagian ini permintaan dari keponakan kamu lho masa tega!" Bujuk Silvia yang jampa8r menangis.


"Astaga Via kamu ih benar benar ya,masa aku nikahnya besok tapi malam ini sudah kamu kerjain begini.Terus apa jadinya anak kamu ya kalau lahir nanti,masih dalam perut saja sudah kerjain Aunty nya apalagi kalau udah keluar?" Ketus Sarah.


"Ayo cepat cari lagu yang bagus aku kepo lihat goyangan kamu,ingat ya harus lentur jangan keras nanti kesan alaminya tidak ada!" Perintah Silvia layaknya nyonya besar yang sedang memberikan perintah pada bawahan nya.


"Ih kamu mah gitu pemaksa,tidak peduli orangnya mau atau tidak." Kesal Sarah namun tetap bangkit lalu bergoyang ikut kemauan ibu hamil itu.


Terpaksa ingin menangis begitulah gambaran wajah Sarah kini,jika bukan sahabatnya yang minta ia tak akan mau melakukan hal bodoh itu.


"Harga diriku tergadai oleh Bumil satu ini,untung juga Sayang kalau tidak jangan harap walaupun menangis darah sekalipun." sungut Sarah dalam hati.


"Yang ihklas dong wajahnya itu,nanti tambah jelek padahal katanya besok bakal jadi Ratu sehari." Ejek Silvia tanpa beban.


"Via sudah ya,pinggang aku sakit nih besok nanti bakal lebih parah bisa gagal malam pertamanya nanti." pinta Sarah memelas.


"Kamu memang loyo,masa segitu doang kok aku saja bisa dong tapi lagi malas." Ujar Silvia santai.


'Tuhan bolehkah aku minta cukup satu saja Via hamil jangan sampai kedua kali Karena baru satu kali saja bikin susah minta ampun." Doa Sarah dalam hati.


"Aku kembali ke kamar dulu ya ,soalnya kamu tidak berguna hanya bikin sakit mata." Pamit Silvia yang membuat Sarah langsung bernafas lega.


"Kenapa orang hamil tambah menyebalkan ya,bagaimana nasib Kak Avin kedepannya. Aku yakin pasti tuh pria ember bakal nangis darah,karena keseringan di kerjain istrinya." Batin Sarah sambil geleng geleng kepala.


Tok tok tok


"Sarah ini Mama,bisa Mama masuk kedalam Nak?" Ujar Yuli dari luar.


"Iya Mah boleh kok,masuk saja pintunya tidak di kunci kok." Sahut Sarah.


Ceklek


Saat masuk kedalam kamar Sarah,Yuli langsung tersenyum melihat kamar itu begitu berantakan.Ia tahu siapa yang melakukan hal itu,karena tadi ia sempat melihat Silvia keluar dari situ.


"Mama ganggu tidak?" Tanya Yuli memastikan.


"Ah tidak kok Mah,ayo duduk!" Ajak Sarah sambil tersenyum.


"Kamu tolong mengerti ya Nak keadaan Ibu Hamil kita itu,soalnya rada sedikit aneh aneh!" Ucap Yuli memikirkan perubahan sikap Silvia dari cuek menjadi cengeng.


"Nah itu dia mah,tambah aneh tadi saja aku disuruh goyang bebek sudah aku turuti eh malah dikatain sama dia tidak ikhlas." Ujar Sarah sambil tertawa.


"Kamu tahu tidak Davin malah disuruh mandi jangan pake saabun,sudah gitu tidak boleh pake parfum terus begitu yang katakan bau badan Davin tidak enak juga dia lagi." Terang Yuli membuat Sarah langsung tertawa karena merasa lucu.


"Haha,Via via Hamil kok ribet amat ya?" Ucap Sarah.


"Nak,Mama boleh ngomong serius?" Tanya Yuli pelan membuat Sarah yang sedang tertawa tadi langsung merubah mimik wajahnya.


"Boleh Mah ada apa ya?" Tanya Sarah penasaran.


Yuli mengeluarkan satu set perhiasan pemberian dari Riani,lalu memberikan pada Sarah walau wajah Sarah terlihat penuh tanda tanya.


"Ini apa Mah?" Tanya Sarah memastikan.


"Perhiasan ini adalah pemberian Oma kalian Riani,Mama kasih ke kamu karena kamu juga berhak mendapatkan nya.Ini adalah hadiah turun temurun jangan lupa kasih kepada menantu kalian kelak,hanya ini saja yang bisa Mama kasih Nak!" Lirih Yuli dengan mata memerah karena menahan tangisnya.


"Tapi Mah,ini kan milik Silvia dan aku tidak pantas menerima ini semua.Cukup restu dan kehadiran semua aku sudah merasa berharga,jadi Mama jangan punya pemikiran aneh aneh ya!"Tolak Sarah sambil menarik tangan Yuli untuk mengembalikan apa yang tidak pantas ia dapatkan.


"Shut jangan bicara begitu ya,Silvia sudah punya apa yang seharusnya yaitu pemberian dari Oma kalian Rika .Ini adalah hak dan milik kamu dari awal." Sahut Yuli sambil mengembalikan barang itu ke Sarah.

__ADS_1


__ADS_2