
HAI READER KU TERSEYENG
JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA
KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
LANJUT ***
Sementara itu Davin dan Silvia sudah berkeliling sampai capek,akan tetapi tidak ada satupun penjual Mangga muda yang masih berkeliaran malam malam.
"Yang ini sudah jam sembilan malam,tidak mungkin lah ada orang yang masih jualan lebih baik kita pulang ya!" Bujuk Davin pelan.
"Ayo,aku juga mau tidur soalnya pusing sekali." Silvia tak menolak sedikitpun kemauan suaminya itu.
Sebab memang betul sejak kapan orang jualan mangga malam begini.
Kini keduanya sudah dalam perjalanan menuju rumah,tidak ada kata kata pembahasan soal makanan sebab sudah seperempat malam bukan kah tidur itu adalah pilihan terbaik?
"Kamu kenapa sih Yang,makin hari kok makin aneh ya jadi bingung sendiri?" Batin Davin sambil terus menatap kearah sang istrinya itu.
Silvia yang sedang tertidur pulas bahkan tidak sadar jika sudah dibopong Davin masuk kedalam rumah,karena baginya pelukan suaminya adalah rumah ternyaman untuknya.
Setelah membaringkan Silvia di ranjang,Davin memilih untuk masuk kedalam kamar mandi sekedar untuk membasuh wajahnya yang terlihat sangat lelah.
Jangan lupakan juga rasa terpendam itu,yang tadi sempat di bangunkan oleh Silvia sendiri.
"Apa aku lakukan saja ya saat dia tidur,tapi kalau dia bangun gimana dong?" Batin Davin yang benar benar tergoda oleh wajah polos Silvia saat tidur.
Akan tetapi mengingat mood Silvia yang turun naik bak roller coaster membuat dirinya jadi waspada.
Dengan tenang dan anteng Davin ikut tertidur di samping Silvia,dibawah nya tubuh mungil itu dalam pelukannya.
Keduanya tertidur tanpa beban tak peduli dengan dunia sekitar,karena bagi mereka biarlah segala urusan untuk hari esok dipikirkan besok.
Sementara itu di kediaman Wijaya,semua orang tengah berbahagia karena akan ada namanya ikatan keluarga yang tercipta antara Wijaya dan Hadiwinata.
"Mama senang ternyata tadi hanya salah paham karena lost konek,dengan begini kita bisa membahas soal pernikahan mereka." Ujar Eva antusias.
"Tapi apa tidak tungguin Davin mereka dulu?" Tanya Rino.
"Mereka tidak akan kembali lagi, Via tidak boleh duduk terlalu lama." Sahut Yuli menimpali.
"Apa Via sakitnya serius Mah,Oh Tuhan tidak aku harus segera menghubungi dirinya." Ujar Sarah yang sudah berdiri hendak mengambil ponselnya di atas kamar.
"Jangan,kasihan sayang mereka pasti sudah pulang tidur." Tolak Eva.
Akhirnya Sarah mengurungkan niatnya itu padahal ia sangat cemas memikirkan sahabatnya itu.Ia tahu bahwa Silvia jarang sekali sakit,dan sekali sakit pasti bakal cengeng minta ampun.
"Via tidak minta yang aneh aneh kan selain mangga muda yang mengerikan itu?" Tanya Sarah memastikan.
"Tidak ada tapi tidak tahu kedepannya,tunggu saja tanggal mainnya." Sahut Yuli ambigu.
"Baiklah ayo kita mulai makan sebelum semuanya menjadi dingin,makan yang banyak karena sayang Nyonya rumah nanti menangis karena capek masak!" Goda Heri membuat semua orang tertawa.
"Hehe walaupun gara gara ini semua kami sempat mau masuk kantor polisi." Sambung Sarah yang sengaja menggoda Mamanya.
"Awas saja anak nakal Mama bakal hajar kamu setelah ini!" Ancam Eva.
"Sayang aku ikut pulang Ya,takut di rumah soalnya macan betina lagi ngamuk!" Lirih Sarah membuat Eva langsung tertawa.
Suasana begitu hangat rumah yang selama ini selalu sunyi karena hanya di huni oleh tiga orang saja.
Setelah selesai makan malam,meskipun waktu sudah hendak tengah malam mereka tetap membahas soal pernikahan Rino dan Sarah.Sebab mereka takut Rino dan Sarah memilih gaya berpacaran yang salah lebih baik di halal kan saja.
"Jadi kalian berdua rencananya kapan akan menikah?" Tanya Dika memastikan.
"Besok!" Sahut Rino dan Sarah bersamaan secara antusias.
"Apa?" Tak kalah terkejut keempat pria dewasa itu.
"Kalian tidak salah bicara kan?" Tanya Eva .
"Tidak,bahkan sangat benar kok iya kan Sayang?" Tanya Rino pada Sarah.
"Yap benar sekali kami mau besok harus menikah,tak peduli mau gempa bumi tsunami sekalian !" Sahut Sarah membuat Mamanya ingin sekali menerkam dirinya.
"Kalian pikir urus pernikahan itu gampang Hah?" Tanya Eva kesal.
"Mah,Nikah itu tak perlu pesta yang mewah ataupun gaun yang Wow,cukup kedua keluarga yang berkumpul pasti bakal tambah menjadi berkat kan?" Jelas Sarah.
"Nak tolong,Kalian itu Anak kami dan hal ini adalah sesuatu yang besar Karena bakal dilakukan hanya satu kali seumur hidup,jangan perbuat sesuka kalian hanya untuk mempertahankan pemikiran kalian." Heri kali ini menimpali.
Dika yang sebenarnya tak banyak bicara tadi lagi sedang memikirkan perkataan apa yang cocok untuk itu,karena ia sebenarnya tak setuju sama sekali.
"Kalian Menikah Seminggu lagi,Tidak ada penolakan atau pernikahan tidak akan pernah terjadi." Dika berbicara dengan tegas tak ingin di bantah membuat semuanya yang berada disitu juga ikutan bungkam.
__ADS_1
Mereka tahu jika seorang Dika Hadiwinata tak pernah menerima penolakan jika nada bicaranya sudah tegas seperti itu,sebab jika ada yang berani melawan maka bisa bisa apa yang ia katakan jadi kenyataan.
"Baiklah kami setuju Pah!" Sahut Rino sendu.
"Hemm Iya Pah,terserah kalian saja!" Sarah menimpali sambil menundukan kepalanya.
"Bagaimana Tuan Wijaya,Maaf jika tadi sedikit kasar?" Tanya Dika meminta saran dari calon badannya.
"No problem Tuan Hadiwinata,saya tak pernah mempermasalahkan jika menyangkut kebaikan." Ucap Heri.
"Nah Mama juga setuju Pah,mereka pikir Nikah itu kaya orang mau pergi piknik apa segala sesuatu serba instan." Omel Eva.
Rino hanya bisa menghela nafasnya kasar,begitulah resiko jadi anak tak mendengarkan saran orang tua nanti di bilang durhaka.
"Mmm Tuan Wijaya dan Nyonya,saya rasa karena ini sudah malam biar nanti pembahasan untuk kedepannya kita dengar dari istri kita saja." Pamit Dika.
"Baiklah tapi bisakah kita tidak memanggil secara formal begitu,karena terkesan kaku padahak kita sebentar lagi akan menjadi besan." Pinta Heri membuat Dika langsung tertawa kecil.
"Haha baiklah Heri kami Pamit!" Sahut Dika.
"Ok baik Dika hati hati dijalan!" Ucap Heri.
"Nanti besok kita koling koling lagi ya," Ujar Eva sambil memeluk Yuli.
"Yoi,Aku pulang dulu Nak Sarah kami pulang ya,ingat nanti besok Mama tunggu kalian dirumah buat pergi ke butik." Yuli mengingatkan Sarah agar jangan melupakan hal yang penting itu.
"Tapi agak siangan dikit ya Mah,soalnya harus jenguk Ayang bebep nya aku dulu!" PINTA sarah membuat semua orang jengah hanya Rino saja yang berbahagia.
"Ah Sayang kamu itu manisnya." Puji Rino.
"Aku kenapa?" Tanya Sarah bingung.
"Kamu besok ingin berduaan dengan ku dulu ya,baiklah aku tunggu dirumah ya!" Sahut Rino bahagia.
"Yang bilang mau ketemu kamu itu siapa,orang aku mau ketemu Silvia pengen tahu keadaannya." Sinis Sarah.
"Jadi Via lebih penting begitu?" Tanya Rino memastikan.
"Yoi bro!" Ujar Sarah santai.
"Aku nomor dua begitu?" Tanya Rino lagi.
"Yooi lagi bro." Sahut Sarah sambil menaik turunkan alisnya.
"Ternyata kamu hanya kedua boy." Ejek Dika.
"Biarkan saja daripada tidak ada sama sekali!" Ujar Rino cuek lalu keluar dari rumah itu.
"Lebay ."Ejek Dika.
Kini semuanya sudah pergi Sarah pun pamit karena sudah sangat mengantuk,bukankah tubuh manusia hanya terdiri dari tulang dan daging.
Jadi otomatis tidak bisa kau paksa untuk bekerja dan berpikir sepanjang waktu,cukup author saja yang mikir kamu mah jangan.
Keesokan paginya..
Silvia yang merasa perutnya seakan ingin mengeluarkan semua isinya,langsung berlari ke kamar mandi.Ia merasa tubuhnya sangat lelah,belum lagi dari semalam tidak makan.
"Hueeekk hueek
Silvia memuntahkan semua isi perutnya,kakinya seakan lemas hingga terduduk di bawah lantai kamar mandi yang dingin.
"Ahh Mama aku kenapa ini sangat tidak bagus." Lirih Silvia sambil menangis membuat Davin terkejut.
Karena keadaan yang baru bangun jadi belum menyatu dengan sekitar,membuat pria itu hanya memastikan keberadaan istrinya di samping.
Kosong??
Davin langsung terlonjak kaget,hendak keluar mencari keberadaan Silvia akan tetapi suara tangisan di dalam kamar mandi membuat ia langsung menuju tempat itu.
"Astaga Yang,kamu kok duduk disini?" Tanya Davin kaget.
"Aku pengen muntah lagi." Lirih Silvia yang hendak bangkit akan tetapi ia tak mampu menopang tubuhnya.
"Kamu muntah disini saja!" Ujar Davin.
"Hueekk hueeekk
Silvia muntah tak m3ngekuarkan. makanan,karena perutnya kosong.
"Sudah,kamu keluar aku bersihkan ini dulu!" Ujar Davin.
Silvia dengan terpaksa melangkahkan kaki menuju ranjang,akan tetapi belum juga sampai dirinya sudah tumbang.
Bugh
Davin yang sedang membersihkan bekas muntah Silvia langsung terkejut,netranya membulat ketika melihat sang istri sudah terkapar tak sadarkan diri.
"Sayang,kamu kenapa ayo bangun." Panggil Davin cemas.
__ADS_1
Dengan perlahan ia mengangkat tubuh Silvia layaknya sebongkah berlian yang takut rusak,setelah menidurkan Silvia diatas ranjang ia segera menghubungi Mamanya.
Baru deringan pertama Yuli sudah mengangkatnya,terdengar masih suara serak karena baru bangun tidur.
"Iya Nak kenapa?" Tanya Yuli.
"Mama kesini sekarang,Via pingsan tadi sehabis muntah!" Teriak Davin frustasi.
"Hemm iya." Ujar Yuli santai.
"Mah,ini darurat Silvia pingsan kok malah menyahutnya hanya begitu saja?" Tanya Davin kesal.
"Tunggu disitu saja jangan cerewet,gosok minyak angin ke perutnya agar lebih nyaman!" perintah Yuli.
Tut
Davin langsung mematikan panggilan itu dan membuang ponsel nya asal,setelah itu langsung mencari minyak angin.
Setelah di dapatkan ia langsung menggosok di area perut dan dada serta sedikit dihidung,walaupun Ac dalam keadaan menyala akan tetapi tubuh Davin berkeringat karena sangat cemas.
'Sayang bangun dong kamu kenapa sih, jangan buat aku cemas begini aku mohon." Ucap Davin pelan.
Sementara itu Yuli membangunkan suaminya,karena mereka harus segera menuju rumah putra mereka.
"Mas bangun dong." Ujar Yuli sambil menggoncang tubuh Dika.
"Hemm masih pagi Sayang nanti sajalah." Ujar Dika yang masih betah memejamkan matanya.
"Aduh kamu bangun sekarang,atau Davin kesini terus bongkar rumah." omel Yuli.
"Kenapa lagi tuh anak?" Kesal Dika.
"Silvia pingsan tadi dia sudah marah marah jangan buat tuh bocah marah lagi." Yuli setelah mengatakan itu langsung pergi ke arah kamar mandi.
Sedangkan Dika memilih mengganti pakaian nya,karena kalau mandi lagi bisa dipastikan bakal terlambat.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Yuli heran ketika melihat penampilan suaminya yang sudah rapi.
"Hemm kalau tunggu kamu bakal habis nih rumah dibakar sama bocah tengik itu." Gerutu Dika.
"Tapi kamu cuci muka dulu,soalnya bantal nya masih kentara!" Ejek Yuli lalu segera memakai pakainya.
Ketika sudah siap semua keduanya keluar,dan ternyata Rino dan Sarah sudah ada di lantai bawah sepertinya gadis itu baru saja sampai.
"Pagi Nak,sudah dari tadi sampai?" Tanya Yuli sambil tersenyum.
"Baru saja Mah,mau kemana sudah cantik pagi pagi?" Tanya Sarah penasaran.
"Mau pergi kerumah Silvia tadi Davin telpon katanya pingsan." Jelas Yuli lalu segera keluar dari situ.
"Apa kok bisa sih,aku ikut." Teriak Sarah.
"Kamu telpon Alan sama Lika ya!" Yuli menyuruh Dika agar menghubungi besan nya itu.
"Kamu bareng aku saja ya." Ajak Rino lalu segera menarik tangan Sarah agar ikut ke mobilnya.
"Hiks hiks kalau Via kenapa napa gimana dong?" Tangis Sarah.
"Kamu jangan panik nanti bisa tambah parah pikiran semua orang," Bujuk Rino.
"Tapi dia itu tidak pernah sakit,awas saja Davin sebentar bakal ku hajar karena sudah buat cs ku sakit." Sarah memasang tatapan membunuh.
"Hei jangan kaya begitu,mana ada suami yang ingin istrinya sakit?" Jawab Rino pelan.
"Pokoknya tidak ada pembelaan sedikitpun untuk dia,karena aku bakal bikin perhitungan!" Rino hanya geleng geleng kepala melihat tingkah menggemaskan Sarah itu.
Bisa dibayangkan suara cempreng Sarah yang akan berkumandang dirumah Davin sebentar,pasti bakal heboh dan buat semua yang mendengar hanya bisa mengelus dada.
"Sebenarnya tuh anak kenapa ya Mah,kok bisa pingsan begitu?" Tanya Dika heran.
"Pah waktu Mama hamil Davin,awal awalnya bagimana?" Tanya Yuli yang bukan nya menjawab pertanyaan suaminya.
"Kamu muntah terus pingsan!" Sahut Dika.
"Tapi jadi kurang lebih begitulah,hanya saja Mama perlu cek lebih detail lagi biar Jelas." Sahut Yuli sambil tersenyum.
"Kalau sampai itu terjadi kita bakal punya cucu dong,jangan harap tuh kampret aku ijinkan menyentuh Hadiwinata junior.
"Aduh jangan mulai lagi deh,sudah tua juga tapi kelakuan kaya bocah saja." Ucap Yuli gemas.
"Tidak bisa Yang,tuh cunguk kalau tidak dikasih tahu bakal ajak perang terus?" Tolak Dika tak mau kalah.
"Hei ingat Silvia bagaimana perasaanya kalau tahu Papa nya selalu di bully oleh mertuanya?" Yuli tak tahu apa isi otak suaminya itu dari dulu tak pernah akur dengan Alan.
"Aku hampir lupa lho,sekarang Sinta bagaimana ya?" Gumam Yuli.
"Sayang jangan dibahas lagi deh sama masa lalu!" Tegas Dika dengan wajah yang tak sedap dipandang.
"Ah tidak hanya saja author mau ceritakan hal hal yang belum terselesaikan,biar besok lusa tidak ada pertanyaan lagi." Jelas Yuli.
__ADS_1
"Lagian kenapa saat sebut dia kamu nya yang marah?" Sindir Yuli.