
Di ruang makan, Ayu duduk di sebelah Reno dan di sebelah kanan Ayu ada Zaky yang makan dengan fokus, tidak terganggu walaupun terkadang kedua kayaknya lebih sering berisik di meja makan. Sedangkan di sebelah kana Reno ada Aluna, Arby dan juga Zaidan. Mereka makan malam sambil sesekali mengobrol terutama Ayu yang menanyai Zaidan perihal Jodoh dengan alasan agar ibunya tidak kesepian dan hanya di jaga perawat dirumahnya.
" Bang, kapan kamu nikah? Kasian Umi kesepian di sana. Jika kamu sudah menikah dan punya anak maka Umi mu tidak akan kesepian lagi kalau kamu harus keluar kita dengan waktu yang lama.
" Entah Ma, Nanti juga aku akan menemukan jodohku sendiri, entah yang seperti apa yang jelas harus wanita sholihah yang juga menyayangi Umi. " Ucap Zaidan.
' Mama, nih gak peka deh. jodoh Abang sudaj ada Ma, tenang saja. Tunggu aku lulus ya Bang. ' ucap Aluna dalam hatinya sambil melirik ke arah Zaidan yang kebetulan juga sedang melihat ke arahnya dan langsung tersenyum ketika Aluna pun menatapnya. Senyum yang sangat manis menurut Aluna.
'Mungkinkah Abang menyukaiku, buktinya ketika ditanya jodoh oleh Mama, Bang Zaidan menatapku sambil tersenyum. ' Aluna kembali berbicara dalam hatinya. Dia tidak tahu kalau Abangnya telah menautkan hatinya pada seseorang. Seseorang yang mungkin sekarang menjauh darinya. Entah karena apa?
Zaidan selalu bertanya, apa yang membuat Siren menjauh darinya, perlahan tapi pasti. Dan siang ini Zaidan kembali dipertemukan oleh takdir. Apakah ini sebuah kesempatan, itu pertanyaan yang terus berputar dalam pikirannya. Akan untuk sebuah kejelasan yang dia tinggu selama ini.
__ADS_1
" Bang, ayo cepat habiskan makanannya! " Suara lembut Ayu membuyarkan lamunan Zaidan tentang sosok seseorang yang istimewa.
Zaidan pun menganggukkan kepalanya dan segera menghabiskan makanan yang berada Di Piringnya.
Setelah selesai makan malam Zaidan ikut membantu Ayu untuk membereskan piring kotor dan menyimpannya ke wastafel, ketika dia akan mencucinya sebuah suara melarang dan menghentikan tangannya yang hampir meraih spon untuk mencuci.
" Abang dan Kak Arby temani Ayah di depan. Mencuci piring serahkan padaku. " Akuna berkata dengan yakin.
Setelah berlalunya Zaidan dari dapur, Aluna cepat- cepat mengucapkan Aamiin atas doa yang abangnya panjatkan. Tentunya Aluna berharap doa sang Abang dikabulkan karena mendoakan semoga Aluna bahagia dan keinginannya terkabul dan saat ini yang membuatnya bahagia adalah dekat dengan Abangnya dan keinginannya terbesarnya adalah menjadi pendamping untuk Zaidan. Semoga saja. Aluna pun mencuci piring dengan semangat karena Perkataan Zaidan yang membuatnya bahagia dan melakukan apapun menjadi semangat.
Setelah membicarakan soal pekerjaan dengan sang Ayah, Arby dan juga Zaidan memutuskan untuk pergi ke gazebo belakang rumah yang belum lama dibuat. Gazebo yang hanya muat untuk sepuluh orang saja. yang posisinya menghadap ke arah taman bunga milik ibu mereka.
__ADS_1
Suasana malam yang sangat sepi, Aluna semua tadi sudah meminta ijin untuk beristirahat dan masuk ke kamarnya sedangkan si bungsu jangan ditanya lagi dia akan betah di dalam kamarnya. Reno pun sudah menyusul sang istri yang sudah berada di kamarnya dan ternyata sudah terlelap dan Reno pun segera menyusul istrinya untuk segera terlelap.
Tinggallah dia sosok pemuda yang sejak tadi masih sama-sama diam memandangi taman bunga yang kebetulan banyak pohon bunga yang sedang berbunga lebat. Tentu saja Ayu selalu merawatnya dengan sangat baik.
Mereka berdua sibuk dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya salah satu diantara mereka membuka suara.
" Bang, aku... "
Happy reading๐๐๐
semoga suka....
__ADS_1
selamat menjalankan ibadah puasa semoga kita selalu diberi kesehatan. ๐คฒ