Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 18 - Ari dan Reihan


__ADS_3

Setelah itu, mereka segera meninggalkan perpustakaan. Zahra dan Anita sudah pamit duluan. Sedangkan Hanif, Ari dan Reihan masih tertinggal di parkiran.


“Ari, Reihan.” Panggil Hanif. Ari dan Reihan menoleh.


“iya mas, kenapa?”


“kalian yang menyebarkan gosip tentang kami kan?” tanya Hanif santai sambil memakai jaketnya. Ari dan reihan terkesiap, terkejut dan salah tingkah dengan pertanyaan mendadak itu.


“maaf mas. Kami nggak bermaksud begitu.” Ari yang menjawab menunduk malu.


“aku sengaja menyuruh Anita untuk mengajak kalian malam ini, karena memang ini tujuanku. Kalian lihat tadi selama di dalam, begitu juga kemaren saat aku hanya berdua dengan Anita. Tidak terjadi apapun dan kami hanya membahas masalah organisasi kami. Pun disana juga banyak orang tidak hanya kami berduaan. Tentang hujan-hujanan, aku meminjamkannya jaketku untuk melindungi laptopnya dan berkas nya yang sangat penting baginya dan juga kami tidak mungkin menunggu hujan reda karena kita tidak tahu kapan itu. Kalian mengerti?” ucap hanif panjang lebar dan tentunya dengan tatapan mengintimidasi. Hanif ternyata sudah tau bahwa mereka yang menyebarkan gosip itu.


“mengerti mas, maafkan kami mas.” Jawab Ari dan Reihan.


“sudah aku maafkan, dan kalian tahu, Anita pun sudah memaafkan kalian.”


Apa? Anita juga ternyata sudah tahu?


Ari dan reihan semakin menunduk malu saat Hanif beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Di kos Zahra, Anita masih terjaga hingga tengah malam. Penasaran dengan Hanif.

__ADS_1


Mas Hanif keren banget tadi. Aku pengen banget tanya padanya, pantas nggak ya kalau chat sekarang? Sudah tengah malam tapi, pasti mas Hanif juga sudah tidur. Anita menggumam sendiri sedangkan Zahra sudah dari tadi terlelap.


Lalu Anita memutuskan untuk mengirim pesan pada Hanif.


Di kos Hanif.


Satu pesan masuk di ponsel Hanif. Langsung dia membukanya. Anita.


Mas, saya mau tanya sesuatu boleh?


Di seberang, Anita harap-harap cemas setelah mengirim pesan tersebut.


“Ah, dibaca? Berarti mas Hanif belum tidur.. mengetik? Benar, berarti mas Hanif belum tidur. Duh malunya..” Anita mengoceh sendiri di tengah kegelapan kamar Zahra.


Boleh. Mau tanya apa?


Mas bilang, pak Surya tidak pernah menjelaskan detail tentang mata kuliahnya, tapi tadi mas Hanif terlihat sangat menguasai mata kuliah tersebut? Mas belajar darimana? Balas Anita.


Bukan pesan balasan yang didapat, tapi justru Hanif sekarang yang menelfonnya.


“Kenapa malah telfon sih? Udah malem ini.. gimana dong, nanti ganggu Zahra, tapi penasaran!” gerutu Anita. Sampai dering kelima, Anita baru mengangkat telefonnya.


“Assalamu’alaikum..” ucap Hanif di seberang telefon.

__ADS_1


“wa’alaikumsalam, kok telfon sih..kan udah malam mas?” protes Anita.


“apa bedanya? Kamu aja kirim pesan tengah malam aku nggak protes, giliran aku telfon kamu protes.” Protes hanif tidak mau kalah.


“bukan gitu, tapi saya takut ganggu Zahra. Kan mas bisa balas pesan aja.”


“jawabannya terlalu panjang dek, tanganku bisa capek kalau ngetik pesan. Jadi mau dijawab nggak? Atau nunggu besok aja kalau ketemu. Aku malas kalau cerita lewat pesan chat.”


Tiba-tiba Anita terpaku, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Dia memanggilku apa tadi? Dek? Hei jantungku tenanglah!! Anita Salah tingkah sendiri di kamar Zahra.


“hallo..Anita? Kamu denger nggak? Kok diam?” Suara Hanif menyadarkan lamunan Anita.


“eh, iya mas. Ah besok aja dijawabnya, saya udah ngantuk. Bye, mas, assalamu’alaikum.” Anita langsung menutup telefonnya tanpa menunggu salam Hanif.


Di ujung telefon, Hanif hanya tersenyum lucu membayangkan tingkah Anita. Sedangkan anita berguling kesana kemari nggak jelas karena salah tingkah.




mohon dukungannya ya readers ^^..

__ADS_1


__ADS_2