
Dalam bab ini, autthor akan jadikan satu episode panjang
dan author hanya up satu bab ini saja..
selamat membaca, jangan lupa klik tombol suka..
\~\~\~\~\~\~
“sudah selesai kan?” tanya Hanif, raut wajahnya ia buat sememelas mungkin.
Hari demi hari Hanif menghitung dan menunggunya dengan sabar. Kini sudah 5 hari mereka menikah, tidak mungkin Anita belum selesai masa merah nya kan.
Anita menoleh.
“apanya?” Anita berbalik tanya dengan wajah polosnya.
Dia lupa sepertinya untuk menyampaikan berita kepada suaminya bahwa dia sudah selesai. Dan dia tidak tahu Hanif menghitung hari demi hari hanya untuk menunggu selesainya masa merah itu.
“tanggal merahnya sayang..” ucap Hanif lirih dan lambat.
Ekspresi Hanif seketika membuat istrinya itu tertawa geli. Anita yang saat itu tengah berada di depan laptop, memutar badannya menghadap sang suami.
“sudah. Sudah sejak 2 hari yang lalu..” ucap Anita tanpa rasa bersalah.
“kok nggak ngasih tahu, mas juga nggak pernah lihat kamu sholat, jadi mas pikir belum selesai. Padahal udah lewat 8 hari..” omel Hanif.
Ternyata mas Hanif punya sisi seperti ini.. merajuk, manja, imut sekali. Ucap Anita dalam hati
“mas menghitungnya?”
Hanif mengangguk dan disambut tawa oleh Anita.
“maaf ya mas, Anita lupa ngasih tahu..” Anita meraih tangan suaminya, diusapnya tangan besar itu berharap suaminya akan berhenti merengek.
“ya udah ayo..” bujuk Hanif, tangannya menarik jemari Anita agar duduk bersebalahan dengannya.
“sekarang?”
“iya lah..” sahut Hanif cepat.
“tapi ini masih siang..”
“terus kenapa?”
“nanti kalau tiba-tiba pintu diketuk mama gimana?”
__ADS_1
“huuuuuffh.. terus gimana? atau kita aja liburan yuk. Kita belum kemana-mana loh. Kita ke Gunung Kidul, nginep, semalem aja. Mas kan lusa juga udah masuk kampus..hmm? gimana?” Tukas Hanif nyerocos tanpa jeda.
Bukan tanpa alasan mereka menunda honey moon-nya. Sehari setelah pernikahan mereka mama lagi-lagi ribut tentang rencana pernikahan Azzam. Seperti tak kenal lelah, mama langsung menyusun ini itu untuk rencana lamaran Azzam.
“ya udah ayok, Anita siap-siap dulu, mas yang pamit sama ayah dan mama ya? Boleh?”
“ok” jawab Hanif riang. Seperti anak SD yang mendapat lampu hijau untuk pergi tamasya bersama kawan. Hanif melenggang meninggalkan Anita yang tengah bersiap.
Anita dan Hanif terpaksa menunda honey moon mereka dulu. Mereka ikut terjun mengatur acara sakral kakaknya itu. Mereka juga belum pindah ke rumah mereka sendiri karena jarak kampus Anita dengan rumah mereka akan lebih jauh lagi. Sehingga mereka memutuskan untuk tetap tinggal serumah dengan orang tua Anita sampai Anita menyelesaikan ujian tugas akhirnya.
Anita sudah siap dengan satu ransel baju ganti di punggungnya. Hanif mengambil tas itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Ya, ayah Rudi mengijinkan mereka membawa mobilnya agar pengantin baru itu tidak terlalu lelah karena menepuh jarak yang lumayan jauh ke Gunung Kidul.
Dalam sekejap mobil mereka melesat menuju tempat yang akan menjadi saksi bagi mereka berdua menghabiskan malam pertama sebagai suami dan istri.
1 jam perjalanan menuju gunung Kidul, dan masih harus menempuh setengah jam lagi menyusuri jalan pantai sel. jawa untuk sampai di penginapan mereka. Hanif memilih villa and cottage sebagai tempatnya menginap karena lebih luas dan seperti layaknya rumah, sehingga membuat mereka lebih nyaman.
Saat sampai di villa itu, jam sudah hampir menunjukkan waktu ashar. Setelah melakukan check in Hanif dan Anita diantar oleh pelayan villa menuju penginapan mereka.
Villa itu menghadap langsung ke laut. Menyuguhkan pemandangan hijau pegunungan dan birunya laut di waktu yang bersamaan.
Anita berlama-lama di depan jendela. Mengagumi setiap titik ciptaan Tuhannya. Sangat menakjubkan. Tidak ada yang akan mampu menggoreskan lukisan seindah dan senyata ini.
Hanif tiba-tiba memeluk Anita dari belakang, membuat Anita sedikit terperanjat sebab hanyut dalam lamunannya. Tangan Anita bergerak mengusap lembut tangan suaminya yang mendekapnya. Hanif menelengkan kepalanya, menyandarkan pipinya di kepala Anita.
“bagus ya? Sebagai orang Jogja mas baru sekali ini menginjakkan kaki disini dan menikmati pemandangan seindah ini, apalagi sama wanita yang sangat spesial buat mas..” ucap hanif di belakang, lalu ia memberikan kecupan lembut di kepala istrinya.
Anita dan Hanif sama-sama terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing tentang indahnya ciptaan Tuhan itu, tentang waktu yang selama ini ia habiskan tanpa tahu dunia luar, dan tentang diri mereka masing-masing.
Tiba-tiba kecanggungan meliputi Hanif dan Anita. Dalam diamnya Hanif resah, bagaimana mengatakan kepada Anita tentang hasratnya. Malu, tapi hasratnya telah membuncah. Mereka masih menatap ke arah laut ketika mendengar sayup-sayup adzan ashar berkumandang.
“sudah adzan, siap-siap sholat yuk.. terus jalan-jalan dulu boleh?” pinta Anita, setengah menolehkan badan menatap Hanif.
Tangan kiri Hanif masih erat memeluk Anita, tangan satunya lagi mengusap-usap pipi Anita, lalu memberikan kecupan lembut di bibir istrinya itu, sedikit lebih lama.
“boleh, sekalian kita makan malam.”
Sore itu, Anita dan Hanif menghabiskan waktu berjalan-jalan di tepi pantai, sesekali berlarian mengejar ombak.
Persis seperti pasangan muda lainnya. Tangan mereka pun saling bertaut seakan enggan untuk saling melepas.
Kini mereka duduk di tepian pantai dengan iringan suara deburan ombak, mereka menatap cakrawala yang mulai memerah. Masih dengan tangan terpaut. Sesekali Hanif mengusap lembut tangan yang digenggamnya itu dengan ibu jari nya.
“dek..”
“hmm?”
__ADS_1
Anita berdehem, menoleh melihat manik cokelat suaminya yang mempesona. Sekejap Anita larut. Manik cokelat itu yang pertama kali membuat Anita belingsatan saat pertemuan pertama mereka. Tentunya, Hanif belum menyadarinya kala itu bahwa mereka telah bertemu lebih awal daripada dugaannya.
“terima kasih sudah menerimaku, terima kasih sudah mau mensejajariku dalam perjuangan ke depannya, terima kasih istriku..” ucap Hanif sambil memberikan tatapan lembut pada istrinya.
Ucapan sederhana itu berhasil membuat Anita meleleh hatinya. Dia tidak memberikan jawaban apapun, bukan tidak mau, Anita tidak mampu berkata-kata. Bahkan untuk menjawab ‘iya’ saja mungkin akan membuat Anita membanjir air matanya.
Hanya senyuman manis, satu bintik bening yang lolos dari pelupuk matanya dan juga usapan lembut di lengan Hanif yang ia berikan sebagai jawaban.
Anita menyandarkan kepalanya di bahu Hanif, membuang pandangannya kembali ke ufuk barat tempat sang surya beranjak tenggelam.
***
Sebelum pekat malam semakin menyelimuti, dua insan yang kini kembali berada dalam kecanggungan telah berada di kamar penginapannya. Membawa berbagai buruan makanan untuk mereka semalaman.
Duduk berhadapan dengan satu piring nasi dan beberapa lauk di sampingnya, Hanif menerima suapan demi suapan dari tangan Anita.
Malam itu, Anita sudah berjanji akan memanjakan sang suami, selain sebagai permintaan maaf karena mengabaikannya selama dua hari, juga karena menuntaskan hasrat yang sama-sama mereka tahan selama semingguan itu, terlebih Hanif.
Setelah melaksanakan sholat, Anita bersiap mengenakan pakaian terbaiknya untuk memanjakan Hanif malam itu. Sedangkan Hanif sudah terlebih dahulu membenamkan kepalanya di bantal empuk di atas ranjang besar.
Anita keluar dari kamar mandi, antara malu dan tapi juga mau. Anita berjalan perlahan sambil menunggu reaksi Hanif.
Tatapan Hanif segera tertuju pada Anita saat wanita yang dicintainya itu muncul dari balik pintu kamar mandi. Matanya membola, terperangah, tertegun, termangu dan segala ungkapan lainnya seakan tak mampu mengekspresikan reaksi Hanif malam itu.
“istriku cantik sekali.. sini..” Hanif tak henti mengulas senyum di wajahnya. Sedang Anita justru malu-malu mendekati suaminya.
Anita telah berdiri tepat di hadapan Hanif, kakinya berdiri diantara kaki Hanif yang terbuka lebar. Tangan kanan Hanif melingkar mantap di pinggang Anita. Tangan satunya lagi meraba tubuh ideal wanita dihadapannya. Perlahan naik lalu merengkuh leher Anita agar wanita itu menunduk menerima ciuman dari Hanif.
Ciuman Hanif lembut namun perlahan menuntut, tangan Anita telah sejak tadi bertengger di bahu Hanif. Satu tangannya lagi membelai tengkuk Hanif.
Hanif menuntun Anita untuk naik ke ranjang besarnya, tanpa melepaskan ciuman itu. Suara decak memenuhi ruangan akibat ulah dua insan yang tengah di mabuk rindu.
Hasrat keduanya telah membumbung tinggi, sudah tak bisa ditahan lagi. Malam itu, malam yang cukup dingin karena angin laut yang berembus menembus dinding-dinding kamar mereka, tak mampu menyejukkan aktifitas panas Anita dan Hanif yang telah sampai pada penyatuan.
Peluh telah memenuhi tubuh keduanya. Erangan panjang dari Anita menandakan bahwa ia telah sampai pada puncaknya, hampir bersamaan dengan Hanif.
Hanif menjatuhkan badannya di samping Anita, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Tangannya menelusup ke leher Anita sebagai bantal untuk kekasih hatinya itu.
Hanif menarik Anita ke dalam pelukannya. Anita masih lemas untuk bergerak, ia hanya menurut saat Hanif menariknya.
“mas mencintaimu. Sangat. Terima kasih sayang..” ucap Hanif lirih. Lalu mencium kening Anita cukup lama.
Anita tidak menjawab apapun. Ia hanya bisa mengetatkan pelukannya, membenamkan wajahnya di dada Hanif, dan meninggalkan jejak lisptik tipis disana.
Malam itu menyisakan peluh sebagai bukti percintan pertama mereka setelah satu minggu melewati status sebagai suami istri.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~