
Sekembalinya Azzam setelah bercengkerama lama dengan sang mama, mendengar desakan demi desakan yang isinya sama. Azzam termangu di kamarnya. Tentang nasibnya dalam persoalan cinta.
Sebenarnya bukan kali ini Azzam kalah cepat dengan kawannya. Hanya karena perasaan memendam tak berujung. Azzam bak menikmati kayuhan sepedanya membawa menuju rumah pujaan cinta.
Sedangkan tanpa sepengetahuannya seseorang di belakang membawa mobil sport melaju cepat menuju arah rumah yang sama.
Jelas Azzam kalah cepat. Azzam terlalu santai menikmati rasa di dalam hati nya jika menyangkut perempuan.
Termangu lama di kamarnya, kini Azzam telah sampai didepan kamar adeknya. Rasa ingin tahunya bergejolak, siapa lelaki yang membawa mobil sport itu alias bergerak cepat di belakangnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu dari kamar Anita.
“masuk” ucap Anita dari dalam kamar.
“lagi sibuk ya dek?” tanya nya basa basi tanpa melihat sang adik.
Matanya justru bergerak kesana kemari mengamati seluruh isi kamar. Azzam saat ini tengah gugup, itu sebabnya ia tak berani menatap adiknya. Padahal Anita juga sedang tidak melihat ke arahnya.
Dia masih cuek dengan sang kakak. Matanya terus tertuju pada laptop di depannya sedangkan jari-jari nya pun terus menari di atas keyboard itu.
“nggak. Kenapa memangnya?” Jawabnya cuek.
__ADS_1
“kapan Zahra menikah?” tanya Azzam. Wajahnya seperti sedang menahan malu tapi ia beranikan diri untuk bertanya karena rasa penasarannya melebihi malunya sekarang.
Mendengar pertanyaan itu terlontar dari sang kakak seketika membuat Anita menghentikan aktivitasnya. Keningnya berkerut, bola matanya memutar kanan kiri lalu memicing. Jiwa kepo nya meronta-ronta seketika. Namun saat Anita hendak berbalik menatap sang kakak, dia kembali memasang wajah datar.
“enam bulan yang lalu. Anita bahkan ikut ke Palembang langsung menyaksikan pernikahannya. Kenapa sih? kenapa tiba-tiba penasaran banget sama Zahra?” tanya Anita pura-pura polos. Bukannya menjawab, Azzam justru berbalik bertanya.
“nikah sama siapa? Orang mana?” tanya Azzam lagi. Datar. Matanya melihat ke bawah ke arah tangannya yang sekarang saling bertaut. Dia tidak menghiraukan wajah tajam Anita yang menelisik.
“namanya kak Wildan. Orang Palembang juga, masih satu desa dengan Zahra.”
“wildan?”
Anita mengangguk. Dan Azzam terdiam. Mungkinkah Wildan yang aku kenal? Tapi dia kan sudah menikah. Azzam bermonolog dalam hati.
“kamu ada fotonya?” tanya Azzam. Dia pun sangat penasaran dengan yang namanya wildan. Karena namanya sama seperti seseorang yang sangat dikenalnya.
“punya..” sahut Anita. Lalu ia mengambilkan handphonenya di atas meja. Saat hendak menyerahkan handphone itu kepada sang kakak, tiba-tiba Anita menahannya.
“tunggu..” katanya. Matanya kembali memicing, menelusup ke dalam mata Azzam, mencari jawaban disana. Yang ditatap menjadi salah tingkah.
“kenapa sih lihat mas begitu?”
“jujur deh, mas sebenarnya suka kan sama Zahra?” pancing Anita.
__ADS_1
“apaan sih dek. Zahra kan sudah menikah..” jawab Azzam terbata. Dan seperti yang Anita duga, jawaban Azzam tidak sinkron dengan pertanyaannya.
“mmm..” anita menggeleng-gelengkan kepalanya. Telunjuknya bergerak ke kanan ke kiri.
“maksudku dulu dan sampai tadi siang saat Anita belum bilang kalau Zahra sudah menikah. Iya kan? Anita sudah merasa ada yang aneh sejak mas Azzam bertanya soal Zahra tadi.” Lanjutnya.
Sedangkan Azzam masih diam salah tingkah. Dalam hatinya mengumpati sang adik, kenapa Anita peka sekali.
“sudah lama sukanya?” lanjutnya lagi.
Kali ini Azzam tidak berkutik lagi di depan Anita, seolah terhipnotis dengan sang adek. Azzam memang agak lugu dan polos, berbeda dengan sang adek yang sedikit bar-bar dan ceplas ceplos.
“sejak pertama bertemu..” jawab Azzam singkat.
“wah wah wah.. apa-apaan kalian ini. Saling memendam ceritanya? Ooh so sweet..” kelakar Anita tangannya sambil memegang kedua pipinya seolah dia yang tersipu, kakinya pun ikt berjingkrak tak terkendali.
“apaan sih dek..” ucap Azzam menatapnya tajam.
“ok, maaf..” sahut Anita. Dia kembali memasang wajah datar.
***
Bersambung..
__ADS_1
Udah kepanjangan..sambung lagi up berikutnya..