
HAII READER KU TERSEYENG JANGAN LUPA LIKE N KOMENNYA KARENA DUKUNGAN KAMU SEMANGAT UNTUKKU
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ****
Davin hanya bisa menahan emosinya untuk tidak memukul Rino ,akan tetapi wajah songong pria itu seolah sedang mengejeknya.
"Sarah kami pulang dulu ya,jangan lupa istirahat soalnya mata kamu itu tidak bisa bohong kalau semalam begadang!" Sindir Silvia kearah Rino akan tetapi yang dasarnya urat malu sudah putus ya begitu saja reaksinya.
"Hehe Iya bebs ,kalian hati hati ya!" Sahut Sarah sambil tertawa kecil.
"Ayo Sayang!" Ajak Silvia kearah suaminya itu.
Davin tersenyum sambil meraih tangan istrinya sedang Rino masih berdiri terpaku ditempatnya.
"Kamu tidak pulang?" tanya Sarah heran.
"Mereka lebih dulu baru aku nyusul!" Jelas Rino serius.
"Tapi nanti Kak Avin marah bisa berabe lho?" Tolak Sarah serius.
"Biarkan saja karena itu kan kelebihan dia,yang suka sekali menindas orang lain!" Gerutu Rino kesal.
"Kamu balik atau kupanggi Truck derek buat tarik kamu!" Ucap Davin datar membuat Rino bergidik ngeri.
"Aku balik dulu ya sebelum macan jantan beraksi." Pamit Rino setengah berbisik bisa bahaya kalau Davin dengar.
Sarah hanya tersenyum melihat tingkah Rino,ia tahu bagaiamana peringai suami cs nya itu.
Akan tetapi ia terlihat sangat menyayangi Silvia ,terbukti dengan memegang tangan Silvia dan menahan pintu mobil takut Silvia bakal terpentok.
"Semoga kelak suami ku bisa seperti punyamu ya,Via!" Gumam Sarah monolog.
"Sayang Ih lebay deh kamu,masa setiap naik mobil kamu selalu seperti itu?" Oceh Silvia sambil geleng geleng kepala.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu ,jadi jangan merasa bosan atau apapun itu!" Sahut Davin sambil mengusap pelan kepala Silvia.
Huwekkk
"Aku muntah!" Sindir Rino yang jengah melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
"Iri bilang Bos!" Ejek Silvia.
Rino yang tak ingin berdebat,memilih berlari kecil kearah mobilnya.Dirinya merasa tak perlu lagi melihat pasangan yang tidak tahu tempat itu,karena jiwa jomblo nya meronta minta tolong.
"Dia kenapa?" tanya Silvia heran dengan tingkah Rino itu.
"Biarkan saja!" Sahut Davin tanpa ekspresi.
"Hemm marah sih boleh ,tapi jangan berlebihan lah kasihan biar bagaiamana pun dia itu saudara kamu!" Bujuk Silvia pelan.
"Iya!" Sahut Davin singkat padat jelas dan tak ingin dibantah.
Kalau sudah begitu mau bagaimana lagi,pasrah dan diam begitulah Silvia kini.
Sedangkan Rino sudah pergi ke rumah untuk menggantikan pakaiannya,sebab hari ini sebenarnya ia tak ada rencana pergi ke kantor.
Setelah selesai memakai pakaian formal,Rino memilih untuk pergi kekantor menggantikan Papa nya.
"Huh nasib punya Papa yang tidak pengertian,sudah tahu anaknya mau cari jodoh buat teman tidur masa dengan teganya biarkan aku kerja!" Gerutu Rino kesal.
Akan tetapi ia juga tak mungkin lepas tanggung jawab ,kate,karena kepercayaan yang diberikan orang tuanya tidak mungkin ia abaikan begitu saja.
Setelah berkutat dengan kemacetan ibu kota,Rino kini telah berada didepan pintu lobby kantornya.
Semua orang menatap penuh takjub kearah Rino,pria bule dengan tampilan formal yang menggoda. Jangan lupa dengan kulit putih bersih serta hidung mancung,tatapan matanya yang serius.
"Ih Direktur tampan sekali ,boleh tidak kalau memimpikan dia buat teman tidur?" Gumam Para pegawai wanita disitu.
"Ho oh jangan bilang lagi aku bakal meleleh juga,karena dia itu gambaran sempurna sama kaya Tuan Davin saudaranya." Temanya menimpali.
Davin dan Rino sangat akrab dan familiar dikalangan pegawai dan juga pebisnis yang lain,karena Dika telah memperkenalkan keduanya sebagai penerus kerajaan bisnis nya.
Rino masuk kedalam ruangan direktur ,dan tak berselang lama sekertaris nya pun ikut masuk.
"Permisi Pak,saya mau melaporkan...
"Stop! Kamu tahu tidak kalau saya baru sampai disini,bisa tidak biarkan saya pelajari pertemuan nanti!" Kesal Rino.
Sebagai pegawai yang hanya bisa disuruh suruh,pasrah adalah jalan terbaik.Daripada kehilangan pekerjaan,sedangkan jaman sekarang mana mudah mencari pekerjaan.
'Maafkan saya Tuan saya salah!" Ucap Pria itu sambil tertunduk.
"Nah sekarang baru kamu panggil saya Tuan,tadi itu kenapa panggil saya Pak?" Gerutu Rino entah kenapa hari ini mood nya begitu buruk.
Asisten teraniaya itu boleh kah ia terbang entah kemana,karena menghadapi bos yang dingin itu sungguh membuat nyali menciut.
__ADS_1
"Maafkan tadi saya khilaf ,ini berkas yang harus anda pelajari." Ucap Asisten nya yang selalu sabar tapi tetap tersenyum.
"Kamu sana pergi jangan gangguin aku ,tenang siapa juga yang bakal kabur!" Ujar Rino santai.
Rino mempelajari dokumen yang ada ditangannya,akan tetapi pekerjaan belum selesai otaknya sudah konek hal lain.
"Aku telpon jantung hati dulu deh,daripada otak lain tangan juga lain." Gumam Rino pelan.
Sarah yang sedang membaca novel Online dibuat terkejut dengan panggilan masuk dari Rino,karena menurutnya sekarang bukan nya pria itu berada di kantor.
"Nih orang kok bisa ya jam kerja pake acara telpon segala,Nanti kena omel lagi baru nyaho!" Gerutu Sarah akan tetapi tetap saja dirinya tak bisa abaikan panggilan itu.
"Hemm,kenapa?" Tanya Sarah penasaran.
"Aku kangen!" Sahut Rino yang suaranya kalau didengar Davin bakal dapat bogem mentah.
"Lebay kamu!" Ejek Sarah.
"Jangan bilang rindu itu lebay,jangan bilang rindu itu adalah sesuatu yang berlebihan.Karena Rindu itu ungkapan perasaan,yang berdasar ketulusan dari hati pemiliknya." Jelas Rino sok puitis.
"Iya iya aku tahu,sekarang kamu lagi apa?" Tanya Sarah memastikan.
"Lagi kangen sama kamu sekarang dan nanti!" Ucap Rino membuat Sarah jengah mendengarnya.
"Ishh aku serius kali,kalau tidak ada keperluan lain aku matikan ya telponnya." Ucap Sarah.
"Jangan,ayolah aku kan masih ingin dengar suara kamu masa tidak boleh." Rino merajuk.
"Hadeuh terserah kamu saja,aku malas berkomentar karena sama saja nanti!" Sahut Sarah.
Rino cengesesan mendengar omelan dari kekasih hati ,jika orang lain pasti bakal marah balik nah ini mah Bucin jadi makin di omelin Bucinnya bakal lebih parah.
"Kamu temani aku ya buat periksa dokumen sialan ini,karena kalau tidak bakal ngantuk." Bohong Rino.
"Wah ini namanya pemaksaan dalam berpendapat,aku nya tidak mau tapi kamu nya pemaksa!" Gerutu Sarah.
"Jangan marah dong nanti aku bakal pulang dari sini dan kesitu sekarang juga ,karena aku mana tahan kalau kamu marah seperti itu." Goda Rino pelan.
"Baiklah Aku temani kamu ,ayo tangan kamu mulai bekerja aku ada disini untukmu." perintah Sarah lalu meletakkan ponselnya dan menuju dapur.
Itu dia permasalahannya Rino kenapa tidak pake video call tadi,jadi akhirnya dirinya dibohongi oleh Sarah.
"Siapa suruh pemaksa sekali kali kalau pintar bolehlah." Batin Sarah memilih untuk masak mie instan untuk dirinya.
Ia kelaparan sedang Mamanya tanpa berdosa pergi meninggalkan dirinya,bahkan tanpa ada makanan yang sudah masak.
__ADS_1
"Huh Mama sama Papa ini memang kelebihan tega dengan anaknya,setidaknya masak apa lah sedikit untukku eh ini langsung main pergi saja tanpa menyiapkan apa apa!" Gerutu Sarah.
Rino masih asyik memeriksa berkas yang ada ditangannya ,sekali kali tersenyum kearah ponsel nya yang masih tersambung dengan Sarah.