Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 16 - Tawar Menawar Dengan Zahra


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Anita dan Zahra sudah sama-sama rapi. Mereka tidak ada kuliah pagi ini tapi mereka memutuskan untuk ke kampus. Anita mengajak Zahra membantunya menyelesaikan pekerjaannya semalam, lebih tepatnya merapihkan pekerjaan semalam sebelum ia serahkan kepada divisi konsumsi kembali. Mengurus anggaran belanja


milik divisi konsumsi memang agak ribet, karena mengurus konsumsi hampir 30 hari selama ramadhan dan juga benar-banar menyesuaikan dana kegiatan yang sangat terbatas.


Zahra melihat gelagat aneh dari Anita, sahabatnya itu sedari pagi terus menyunggingkan senyum, terlihat bahagia sekali. Zahra tau pasti ada kaitannya dengan Hanif dan ia mengurungkan diri untuk bertanya, dia pikir tidak akan ikut campur urusan pribadi sahabatnya itu kecuali Anita terlebih dulu yang menceritakannya. Tapi sungguh jiwa keingintahuannya meronta.


Di gedung fakultas mereka tersedia fasilitas lounge yang berada dekat dengan lobbi, Anita dan Zahra menuju kesana. Ternyata sudah ada beberapa teman kelas Anita yang terlihat duduk disana bercengkerama. Mereka saling menyapa.


“cieee, yang hujan-hujanan berdua, romantis banget semalem” goda Ari dan Reihan.


“romantis? Siapa?” tanya Zahra.


“tuuh..sahabatmu..” Jawab Ari sambil memonyongkan mulutnya untuk menunjuk Anita lalu berlalu pergi bersama Reihan. Sejurus kemudian Zahra menatap tajam pada Anita. Anita hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban untuk Zahra. Anita merasa sebagai orang yang ditunjuk hanya menunduk, tangannya menggaruk kepala berbalut hijab yang sebenarnya tidak gatal.

__ADS_1


“emangnya kamu ngapain semalem? Hujan-hujanan? Sama mas Hanif maksudnya?” tanya Zahra menyelidik.


“bukan, bukan hujan-hujanan yang seperti itu. Cuma lari ke parkiran bareng aja kok dan ya kehujanan dong, kalau nunggu hujannya reda kapan redanya lagian sudah terlalu malam, di perpus juga sepi.” Ujar Anita menjelaskan agar Zahra tak salah paham.


“kalau sepi kenapa mereka berdua tau kalau kalian berdua bersama?” ucap Zahra lagi.


“nggak tau, kebetulan mereka lewat kali. Udah ah, nggak usah dibahas lagi, nggak ada apa apa juga.” jawab Anita cuek, Zahra masih terus menatap curiga tanpa kata.


Setelah itu mereka kembali fokus pada tujuan mereka sendiri. Merapikan anggaran untuk setiap divisi.


“Hanif?” Zahra terkejut sampai lupa sudah lancang karena langsung menyebut namanya.


“mas!! Kalau orang denger gimana? Dia senior tau!” ucap Anita membenarkan sambil celingukan memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

__ADS_1


“kenapa harus mas Hanif? mentang-mentang udah deket terus ya nggak sama dia juga kan Nita..” Zahra sedikit berbisik karena membahas kedekatan Anita dan Hanif.


“bukan gitu Zahra Khumaira!! terus siapa? Senior yang aku kenal cuma dia. Dia juga mau-mau aja kok. Udah sih terima aja, kamu juga lagian nyuruh aku yang minta tolong. Ya pastilah ke mas Hanif, orang dia doang yang kukenal” Balas Anita mencebik. Sedangkan Zahra menghembuskan nafas kesal. Entah kenapa Zahra sangat kesal kalau Anita semakin dekat dengan Hanif, seperti tidak rela sahabatnya dekat dengan yang lain.


“hari sabtu aja, pagi.” Jawab Zahra seadanya masih dengan nada kesal.


“nggak bisa, mas Hanif bilang katanya selain hari sabtu dan minggu.”


“hiissh..kenapo pulo?” tanya Zahra lagi. Anita menatap Zahra waspada karena kini logat


palembangnya sudah keluar.


\~\~\~

__ADS_1


Selamat mengikuti kisah selanjutnya..


dukung karya ini dengan like, komentar dan juga vote nya ya readers..


__ADS_2