
Siren...
" Ya??.... " Arby terkesiap dan menoleh ke arah kanan dimana Zaidan duduk. Arby tidak mengira karena dari mulut Abangnya tiba-tiba terucap nama seorang perempuan.
" Ya, By namanya siren... " kembali Zaidan menggantung kalimatnya.
" Apa perempuan yang tadi siang bertemu di rumah sakit? " Arby memicingkan matanya menunggu jawaban dari Zaidan yang terlihat ragu untuk bicara.
Selama ini Zaidan memang tidak pernah bercerita tentang seseorang. Tepatnya seorang perempuan selain ibu ataupun saudara perempuannya. Jelas saja kali ini pun dia terlihat sangat ragu untuk berbicara. Namun Arby siap menjadi seorang pendengar yang baik.
" Ya, namanya Siren, dia perempuan yang tadi kita temui di rumah sakit. Dulu dia adalah teman kuliahku, namun berhenti di semester enam... " Kembali Zaidan terdiam dan menarik nafas dengan berat.
__ADS_1
" Hanya teman? Gak mungkin kan jika hanya teman Abang jadi seperti ini melihat dia? " Arby jadi tak sabar karena Zaidan terus saja menghentikan perkataannya. Duh Arby padahal diawal udah sok dewasa banget dia. Padahal niat awalnya menjadi pendengar yang baik untuk sang Abang, ternyata gak sabaran ๐๐ Saking penasarannya dia ๐คญ
" Ya itu dia. jadi.. " Zaidan emang suka kaku kalau menyangkut perempuan Duh... ๐คฆโโ๏ธbikin Arby kesal karena penasaran. Tapi ya sudahlah Arby berusaha sabar balik ke niat awal akan menjadi pendengar yang baik. Takut Abangnya gak jadi cerita ๐๐
" Jadi dulu tuh, Abang dan siren pernah berkomitmen, ya... dibilang pacaran ya nggak juga tapi kita sama-sama berjanji akan langsung serius ketika kami lulus dan Abang sudah punya penghasilan. Namun yaah kenyataannya gak gitu sih By. " Arby Mengangangguk-anggukan kepalanya, sudah ada titik terang tentang permasalahan Abangnya ternyata seperti itu ditinggal lagi sayang sayangnya mungkin๐คญ tebakkan Arby sih itu.
Setelah menarik nafas dalam Zaidan memulai kembali berbicara...
" Siren itu wanita mandiri, dia mempunyai seorang adik dan hanya mempunyai seorang ibu, karena ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan ketika dia masih duduk di bangku SMA. Mungkin keadaannya juga yang membuatnya menjadi seorang perempuan mandiri. Dia perempuan yang cerdas bahkan kuliahnya saja karena beasiswa namun ketika itu dia masih tetap menjadi pekerja paruh waktu untuk biaya sehari-harinya bahkan bisa menabung untuk dikirimkan pada ibunya. Dia itu wanita tangguh by, itu yang membuat Abang menyukainya. Tapi ya gitu deh dulu kita sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Dia sibuk dengan kuliah dan juga pekerjaan paruh waktunya sedangkan Abang juga disibukkan dengan kuliah yang ingin mendapatkan prestasi yang terbaik dan membuat Papa, mama dan ibu bangga. Abnag tidak mau menyia nyiakan kepercayaan yang telah mereka berikan pada Abang juga biaya dari Papa dan mama yang tidak sedikit mereka keluarkan untuk biaya kuliah Abang kala itu. Abang lebih mementingkan berbakti dari pada perasaan Abang sendiri. Dulu karena kita jarang sekali berkomunikasi menjadikan hubungan kami merenggang, tapi dulu Abang sempat memperbaiki itu dan hubungan kami baik-baik saja sampai akhirnya dia menghilang tanpa kabar... " Zaidan mengusap wajahnya dan menengadahkan wajahnya ke atas.
" Entahlah, ini adalah takdir baik atau bukan. Abang berfikir ini adalah mungkin kesempatan kedua yang Allah berikan pada abang sehingga dipertemukan kembali saat ini. Tapi hati ini seakan menolak dan berkata tidak. "
__ADS_1
" Betul Bang, abang harus yakin dengan hati Abang. Dia bukan jodoh Abang, kalain sudah dipisahkan dan kali ini bukan kesempatan kedua dan aku tidak akan membiarkan ada kesempatan kedua untuk Abang dan perempuan itu. " Itu adalah suara gumaman Aluna dibalik pintu tembok yang memisahkan antara dapur dan taman belakang.
Ya Aluna yang tadi berniat mengambil minum. Dia terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Dia pergi kedapur, namun melihat pintu yang menghubungkan dapur dan taman terbuka dia pun berniat menutupnya namun mendengar suara yang sedang berbicara dia pun penasaran karena ternyata suara Abangnya. Apalagi ketika menunggu Zaidan menceritakan kisahnya dia tak sabar dan hampir saja mendekati kedua kakaknya itu.
" Aku yang akan menyembuhkan luka Abang bukan kehadiran wanita itu, tunggu saja aku tidak akan membiarkan ada kesempatan kedua untuk mereka. Aku akan memperjuangkan kamu Bang, tunggu saja yang terbaik itu aku." Aluna pun bergegas kembali ke kamarnya dan karena dia sudah punya rencana untuk esok hari.
Arby terlihat diam setelah mendengar kisah yang di ceritakan Zaidan. Dia tidak tau harus berkata apa, mendukung pemikiran Abangnya bahwa ini adalah kesempatan kedua atau harus menyuruh abangnya mendengarkan kata hatinya bahwa perpisahan mereka adalah yang terbaik. Sementara dia sendiri masih bingung dengan permasalahannya sendiri mengenai Ainun harus seperti apa...
" Sudahlah jangan dipikirkan, itu urusan Abang, biarlah waktu yang akan menunjukan untuk langkah selanjutnya, jalani saja. Yang terpenting sekarang adalah kamu dan Ainun. Cepat lamar dia! " Zaidan pun mengajak sang adik masuk kerumah karena malam semakin larut, walaupun besok adalah hari libur namun tetap saja harus bangun subuh dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Mereka pun akhirnya beristirahat di kamarnya masing-masing untuk menyegarkan kembali pikiran dan tenaga yang terkuras oleh aktifitas hari ini agar besok kembali segar dengan segala aktifitas yang harus mereka jalani.
Happy reading๐๐๐๐
__ADS_1
maaf kemarin tidak update ๐
tetap dukung ya... like dan Vote dan berika komentar yang baik. Terima kasih๐๐