
Hari ini Arby akan dipertemukan dengan Ainun gadis pilihan hatinya yang tak pernah dia temui bertahun-tahun lamanya. Hanya keluarga inti saja yang akan menemani, Ayah, ibu Luna dan juga Abang Zaidan sedangkan Zaki memilih tinggal di rumah karena sedang asyik mengerjakan tugas sains di kamarnya.
Begitu mobil memasuki pekarangan pesantren yang memang gerbang yang akan membawa mereka menuju rumah ustadz Mukti yang masih satu area dengan pesantren. Degup jantung Arby sudah mulai berubah, hatinya gundah bukan karena keputusannya menikahi Ainun. Namun karena dia akan segera melihat wajah yang mungkin asing untuknya sedangkan hatinya begitu terpaut. Arby mengingat kembali CV Ainun yang diberikan oleh Zaidan sebagai perantara keduanya.Ainun Chandani lulusan terbaik di kampusnya dan hobinya adalah membaca. Ainun pun memiliki beberapa prestasi akademik hingga Tahfiz Qur'an. Rasanya memang Ainun begitu sempurna di mata Arby.
Begitu mereka turun dari mobil, mereka di sambut keluarga ustadz Mukti, bahkan beliau sendiri ada di barisan paling depan. Setelah mengucapkan salam mereka diajak memasuki sebuah rumah yang masih satu area dengan pondok.
" Ya Allah aku gugup sekali." ucap Arby pelan." namun masih tertangkap suaranya oleh Zaidan.
" Tenanglah, dan berzikir..." ucapnya petak kalah pelan sambil menggandeng Arby masuk ke dalam rumah.
Datanglah wanita paruh baya menghampiri.
" MasyaaAllah, calon mantu." ucap Bu Salamah ibu dari Ainun.
__ADS_1
" Ainun, bawakan hidangannya nak!" Bu Salamah kembali bersuara dan membuat Arby semakin gelisah tak sabar melihat sosok gadis kecilnya dahulu entah sekarang seperti apa.
POV Arby
Seorang gadis yang di temani dua orang wanita sambil membawa minuman dan makanan yang akan di hidangkan. Dia berjalan sambil tertunduk dalam, terlihat seperti gugup berjalan dengan pelan. Ketika meletakan hidangan di meja wajahnya sedikit terangkat, parasnya cantik bermata teduh dan terlihat lembut tutur katanya, terdengar ketika mempersilahkan kami menyantap hidangan yang dia suguhkan. Cantik alami bahkan tanpa pewarna bibir yang melekat maupun seulas bedak. Benar-benar cantik alami. Tak ku sadari sudut bibir ini terangkat ketika menendangnya sekilas kemudian dia duduk di dekat ibunya.
" ini Ainun, sekarang sudah dewasa bukan Ainun kecil yang nak Arby kenal dulu." Ucap ustadz Mukti.
Aku melihat Ainun sedikit terperanjat namun segera bisa menguasai dirinya, dia menatapku sekilas dan tatapannya itu yang entah, aku tak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Apa dia terkejut saat mendengar namaku, bukankah aku menuliskan catatan kecil di bawah CV ku bahwa aku adalah teman kecilnya bahkan aku sertakan foto Micky mouse dan Mini mouse yang kami punya. Sepasang boneka yang kala itu kami miliki masing-masing satu... Sungguh aku tak mengerti.
" Sebelumnya memang Ainu. Menyerahkan pada kami kedua orang tuanya bahkan Ainun tidak pernah melihat ataupun membaca CV yang nak Arby berikan." tarikan nafas ustadz Mukti begitu berat. Kali ini aku yang terperanjat karena ternyata Ainun tidak membaca CV yang aku kirimkan bahkan bukan hanya aku tapi Bang Zaidan pun sepertinya kaget dengan ucapan ustadz Mukti barusan. Suasana sedikit tegang namun papa dan mama yang menyadari dan saling menatap dan akhirnya papa membuka suara.
" Kalau begitu putuskan sekarang dan jangan sampai salah mengambil keputusan karena kelak kalian akan berat menjalaninya."
__ADS_1
Kami masih sama- sama terdiam, aku pun semakin gundah merasa ada hal yang aneh mengenai Ainun yang tidak ingin mengenal dahulu calon suaminya. Apa dia terpaksa? Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benakku.
" Silahkan kalian tentukan, bukankah kalian yang akan menjalaninya bukan kami. Karena sebagai orang tua insyaaAllah akan menyayangi siapapun menantu kami karena dialah cinta anak saya. Namun untuk memilihnya kalian lah yang menentukan kami tidak ingin memaksa." kali ini mama mengemukakan pendapatnya. Dan semuanya pun mengangguk setuju. Pada dasarnya aku telah setuju bahkan akulah yang menginginkan pernikahan ini, sekarang hanya jawaban Ainun yang aku tunggu untuk menentukan pernikahan ini. Tapi dia hanya berdiam dan tertunduk entah apa yang gadis itu pikirkan, aku pun tak bisa menerka-nerka apa yang ada didalam isi kepalanya yang terbalut jilbab panjang berwarna maroon serasi dengan pakaian yang dia kenakan.
" Umi berharap, pernikahan ini berlanjut toh sudah jelas nak Arby memang menginginkan Ainun dan Ainun pun sebelumnya sudah menerima, kalian pun terlihat serasi sama-sama baik dan terpelajar dari keluarga baik-baik pula jelas nasab pun agamanya baik. Namun Umi bukan orang tua yang egois, Umi tahu kebutuhan dan perasaan kalian anak- anak umi. Ainun bahagia. In syaa Allah Umi pun akan bahagia. Ucap calon ibu mertuaku begitu lembut. Aku berharap Ainun akan mewarisi kelembutannya yang kelak kelembutannya itu yang akan mendidik anak-anak kami. Huff.. Pikiran ku sudah berkelana terlalu jauh saat ini bahkan sudah memikirkan perihal anak padahal pernikahan pun masih belum di putuskan. Istighfar Arby, sisi lain diriku pun menasihati.
* Baiklah, Ainun punya satu pertanyaan untuk Kak Arby. Ainun ingin menanyakan pandangan kal Arby tentang poligami, karena sekarang itu banyak terjadi asal uang banyak ,seolah menjadi hal wajib dan ringan untuk dijalankan oleh kaum pria. Aku menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan yang Ainun berikan.
Pertama, aku tidak pernah berniat untuk poligami. Karena menurutku harta saja tidak cukup untuk alasan mampu menjalani poligami harus ada kesiapan selain dari segi finansial pun harus paham secara agama dan itu pun belum cukup karena harus ada kesiapan dari istri pertama maupun kedua bukan hanya kesiapan dari pihak suami saja. Dan aku merasa tak siap karena adil adalah sesuatu yang mungkin hanya dimiliki Allah SWT. Adil menurut manusia tentu porsinya berbeda.
Ainun pun mengangguk mendengar jawaban dariku, seulas senyum tipis terlihat dari bibirnya. Sepertinya puas dengan jawaban ku.
Dan ketika aku di ijinkan untuk bertanya aku memilih tidak bertanya karena aku sudah terlanjur jatuh pada pesona Ainun sejak dulu. Aku menyukai apa yang ada pada dirinya. Akhirnya pernikahan yang aku impikan akan terjadi bersama gadis yang aku inginkan pula. Terimakasih ya Allah. Aku pun terus menggumamkan kalimat Hamdallah bersyukur atas apa yang terjadi saat ini. Padahal tadi sempat aku ragu. Rencana pernikahan pun kembali dibahas bahkan akan di gelar lebih cepat dan itu membuat persiapan pun harus segera dilakukan mengingat bahwa akan banyak sekali orang yang akan di undang.
__ADS_1
Happy reading 💜💜