Mencintaimu Dalam Diam

Mencintaimu Dalam Diam
MDD BAB 70 - Sebuah Pesan


__ADS_3

Like dulu boleh ya.. Komen juga boleh, vote lebih boleh lagi..


Selamat Membaca.


\~\~\~\~\~\~


“mas..”


“iya sayang, ada apa?”


“Anita boleh ikut ke kampus?” Anita bertanya dengan tatapan melas. Hari ini dia merasa harus selalu dekat dengan suaminya. Entah mengapa Anita merasa gelisah.


Hanif mengernyit dengan sikap Anita yang tiba-tiba manja. Biasanya dia lah yang manja dengan istrinya itu.


“mau ngapain? Nanti bosan loh nungguin mas, sampai sore, hari ini jadwal kuliah mas full. Bagaimana?”


“Anita pengen lihat mas ngajarnya kaya mana..” ucap Anita sambil mendekati Hanif lalu bergelayut manja di lengannya.


“ada-ada kamu, kalau penasaran kamu bayangin pak Surya itu, dosen favorit mas, kamu ingat? Mas ngajarnya seperti beliau” Hanif terkekeh. Ia tahu Anita tidak begitu suka dengan gaya mengajar pak Surya itu.


“nggak mungkin..pokoknya Anita mau ikut. Sekalian cari suasana baru buat ngerjain skripsiku. Ya? Boleh ya?”


Hanif menghela nafas. Sepertinya ia tidak bisa berkata tidak. Hanif mengangguk dan Anita segera ikut bersiap.

__ADS_1


“mas tunggu di depan, jangan lama..”


“iya, nggak lama. Janji!” gumam Anita yang tidak terlalu didengar Hanif, kepalanya sudah tersembunyi di balik lemari memilah-milah hijab yang akan ia kenakan.


Hanif menunggu di atas motornya, setelah memanaskan motornya, ia mengeluarkan handphone untuk membaca sederet pesan yang telah menumpuk kembali.


Beberapa pesan dari bapak yang belum terbaca dan intinya pesannya hampir sama, Hanif segera membukanya.


Telfon bapak ya le, ada yang mau bapak bicarakan.


Perasaan Hanif tak enak, tiba-tiba rasa gelisah menjalar. Melihat waktu dikirimnya pesan itu semakin membuat Hanif berpikir macam-macam.


Hampir tengah malam saat pesan yang terakhir bapak tiba. Tentu saja saat itu Hanif sedang lelap terbang ke alam mimpinya bersama dengan pelukan Anita yang hangat.


“yuk, berangkat..”


“kenapa mas? ngelamun ya?”


“ada pesan dari bapak. Cuma bilang suruh telfon karena bapak mau bicara. Tapi kok perasaan mas malah jadi nggak enak..”


“gitu ya, terus gimana? Udah telfon bapak?”


“belum..”

__ADS_1


“kenapa?”


“kita ke rumah bapak yuk? Nengok, perasaan mas bener-bener nggak enak..”


“ya ayuk.. Anita ikut kemana aja mas pergi. Kampus gimana?”


“nanti aja mas ijinnya kalau sudah sampai rumah bapak..”


“sekarang aja, Anita tunggu. Kalau tunggu nanti keburu lupa karena fokusnya sudah ke bapak.”


“ya udah, mas telfon kantor dulu..”


“Anita mau ngulang pamitnya ke mama lagi kalau gitu..” Anita kembali melangkah masuk menemui mama Rani di taman belakang.


Selain sibuk dengan persiapan pernikahan Azzam mama Rani juga tengah gemar mengkoleksi bunga mawar. Beliau berjongkok dengan cangkul kecil, sekop kecil untuk pupuk, dan gunting tanaman di dekatnya.


Anita sudah pamit ke mama Rani tadi dan berkata akan ikut ke kampus Hanif, dan ia rasa harus mengulangi ijinnya kalau-kalau ia tidak pulang malam nanti, jadi mamanya tidak perlu menelfon atau mengirim pesan.


Motor Matic itu sudah melesat menuju ujung kulon Daerah Istimewa Yogyakarta. (kulon = barat)


                       ****


Bersambung..

__ADS_1


Karya ini sebentar lagi akan menuju akhir, mungkin 5 atau 7 bab lagi..


Berikan dukungan untuk karya pertama ku ini ya pembaca..


__ADS_2