
Satu hari sebelum kunjungan Anita dan Hanif ke Kulon Progo.
Terpaan angin yang tidak santai menyapa dedaunan mengusik ranting-ranting rawan yang bisa jatuh kapan saja. Dan sebelum itu terjadi, bapak dan simbah mendahului memotongnya.
Simbah dan bapak sedang bergulat dengan parang di tangannya masing-masing, saling menebas dengan cekatan, membelah ranting, dahan, kayu kering yang bergelayutan di pohon.
Krek
Krek
Krek
Simbah wedok duduk dengan banyak ranting dan dahan kering di depannya yang dikumpulkan bapak Hanif. Menggunakan tenaga masa tuanya simbah memegang parang kecil untuk menebas ranting itu yang akan ia gunakan sebagai kayu bakar.
Bapak berdiri agak jauh dari tempat duduk simbah dengan parang yang lebih besar tentunya.
Hanna dan Hanum berada di kamarnya tengah bersiap. Hanna sudah menyelesaikan semester 7 nya dan tengah menuju tugas akhir. Hanum sedang menempuh semester 4 nya di kampus yang sama. Karena perjalanan jauh dari kampung, mereka memilih kos untuk efisiensi waktu dan pulang ke kampung seminggu sekali untuk menemani simbah.
Dan hari ini hari minggu, mereka akan kembali ke kota, ke kos mereka. Di tengah-tengah persiapan mereka, terdengar dering telefon dari handphone bapak.
Hanum mengambil handphone itu di ruang tamu dan melihat hanya nomor yang tertera di layar, tidak mengetahui siapa si penelfon maka Hanum tidak berani menerima panggilan itu.
Ia berjalan ke belakang menghampiri si bapak, menyerahkan handphone itu.
“pak, wonten telpon mboten wonten asmane, nomor tok.. kulo mboten wantun ngangkat, bapak mawon.” Ucap Hanum sambil menyerahkan handphone yang masih berdering itu. (pak, ada telefon nggak ada namanya, hanya nomor. Aku nggak berani angkat. Bapak saja)
Bapak meletakkan parang besar itu lalu mengusap telapak tangannya yang kotor pada bajunya. Dan mengambil handphonenya. Hanum nampak langsung melenggang kembali menuju kamarnya.
*Percakapan dalam bahasa Jawa*
“halo, assalamu’alaikum..”
“wa’alaikumsalam, mas heru?” suara di ujung telefon itu terdengar tak asing bagi bapak.
“iya, siapa ini?”
“aku Dwi mas, Dwi magelang. Adik mbakyu mini..”
“oh, wi, gimana kabarmu? Ada apa kok tumben telefon?”
“saya sehat mas alhamdulillah, tapi gini mas, saya mewakili mbakyu mau minta tolong..” suara disana terdengar meragu dan sangat berhati-hati.
__ADS_1
Bagaimanapun, Heru sudah tidak ada hubungan apapun dengan Mini, dan itu membuat Dwi selaku keluarganya ikut menanggung beban kecanggungan akibat perpisahan yang diawali oleh kakaknya itu.
“ada apa sebenarnya? Minta tolong apa?” ucap Heru yang kini duduk di bangku bambu di belakang simbah.
“mbakyu sakit mas, kritis dan nggak mau dibawa ke rumah sakit. Mbakyu cuma minta satu, pengen ketemu anak-anaknya, mbak mini mau meminta maaf sama anak-anaknya mas. Gimana mas? bisa ya mas? kami takut nggak keburu mas, mas tolong ngomong sama anak-anak ya mas, segera..”
“mini sakit apa wi?”
Simbah menoleh menatap anaknya Heru yang tengah bertelefon saat mendengar nama mantan menantunya disebut.
“kanker rahim mas, stadium akhir. Mbakyu sudah pasrah mas, sudah nerima makanya nggak mau dibawa ke rumah sakit, katanya balasan untuknya karena meninggalkan anak-anaknya..
“tak usahakan ya wi.. aku bingung mau ngomong sama anak-anak darimana dulu, aku juga takut mereka kembali kecewa. Semoga aja mereka mau mengerti.”
“iya mas, makasih. Sudah dulu ya mas. assalamu’alaikum.”
Telefon itu terputus. Lalu..
“mini loro opo Her?” tanya simbah yang sedari tadi mendengar percakapan itu.
“Dwi ngomong, Mini kanker rahim mbok, wes kritis.. pengen ketemu bocah-bocah arep jaluk ngapuro.” jawab Heru sambil memandang penuh kekhawatiran pada ibunya itu. (Dwi bilang, mini kanker rahim bu, sudah kritis. Pengen ketemu anak-anak, mau meminta maaf.)
Heru dilanda kekhawatiran kepada anak-anaknya tentang bagaimana reaksi mereka nanti, dia yang selama ini menjaga anaknya, memberi pengertian anaknya, memberi perhatian penuh meski jauh, agar Hanif, Hanna dan Hanum tidak begitu merasa rendah diri karena tumbuh tanpa ibu.
Sudah waktunya anaknya tahu bagaimana ibunya dulu, tapi bagaimana memulai percakapan itu Heru bimbang. Haru takut terhadap reaksi yang akan diberikan anak-anaknya. Apakah mereka marah? Apakah mereka akan mengabaikan ibunya yang mungkin sekarang adalah saat terakhirnya? Begitu kekalutannya.
“duh gusti, nasibmu nduk mini.. yowes ge ndono dikandani anake, mugo-mugo podho jembar segarane, ombo pangapurane.” Ujar simbah sendu. (duh Tuhan, nasibmu nak mini. Ya sudah sana, kasih tahu anakmu, semoga saja mereka punya dada yang lapang seluas samudera, luas maafnya)
“iyo mbok”
Heru masuk ke dalam rumah, perlahan. Sambil menimbang dan memilih kata-kata yang akan ia sampaikan kepada Hanna dan Hanum untuk saat ini.
“Hanna.. Hanum..” Seru bapak. Raut mukanya masih kentara sedang menimbang sesuatu.
“nggeh pak..” Sahut Hanna dan Hanum bersamaan. Hanna melongokkan kepalanya dari dalam kamar menanggapi panggilan sang bapak.
“ndeneo sek!! bapak arep ngomong.” Raut mukanya terlihat serius yang membuat Hanna seketika mengernyit. (kemarilah! Bapak mau bicara)
Hanna dan Hanum mendekat lalu duduk menyamping menghadap bapaknya.
“ngendikan nopo to pak kok sajak serius banget?” tanya Hanna santai yang memang seperti kepribadiannya yang tenang seperti tidak pernah menyimpan beban. (mau bicara apa sih pak, kayaknya serius banget)
__ADS_1
“nduk..ibu mu pengen ketemu kowe kabeh, hanif barang.. piye?” (nduk, ibu pengen ketemu kalian semua, hanif juga.. bagaimana?)
Mata Hanna seketika membelalak, tangannya mengepal. Dadanya seketika sesak mendengar kata ‘ibu’ yang asing baginya.
Pun juga Hanum, reaksi tidak terlalu berlebihan seperti halnya Hanna, namun ia juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Meski hampir tak mengenal yang namanya ibu, namun dari selentingan omongan orang yang ia dengar bahwa ibu nya meninggalkan mereka saat mereka masih balita.
Ada rasa benci yang tak terkira seketika pada yang namanya ‘ibu’, alasan apa yang ia gunakan sampai tega meninggalkan anak balitanya?
Begitu batinnya bergejolak.
“Hanum taksih gadah ibu to pak?” tanya Hanum, pertanyaan yang mengandung sarkasme tingkat tinggi untuk sang bapak. (Hanum masih punya ibu kah pak?)
“bapak ngerti opo sek mbok rasakno, bapak yo ora tau mekso kowe kabeh kudu nemoni ibu mu. Ananging, ibu mu saiki lagi kritis, ibu mu keno kanker rahim stadium akhir. Ibu mu njaluk tulung marang bapak, pengen nemoni kowe kabeh. Ibu mu pengen ketemu, mbok o iki dadi sek kapisan lan pungkasan.” Suara bapak tercekat. Dadanya
pun sesak melihat reaksi Hanna dan Hanum. (bapak ngerti apa yang kalian rasakan, bapak juga tidak memaksa kalian harus menemui ibu mu. Tapi, ibu mu sedang kritis sekarang, ibu mu terkena kanker rahim, stadium akhir. Ibu mu minta bertemu kalian. Mungkin ini jadi pertama dan terakhir kalinya)
Tanpa Hanna sadari air matanya sudah meleleh. Hanum yang menyadari kakaknya tengah terisak kini ikut berkaca-kaca. Dalam lubuk hatinya terdalam terselip rasa rindu kepada sosok ‘ibu’ itu.
Dan seperti halnya Hanif, Hanna dan Hanum merasa memiliki alasan untuk menampik perasaan rindu pada sosok itu.
“piye nduk? Nek kowe kabeh abot, ora opo-opo bapak ora mekso. Ora kudu nemoni kok, nanging njaluk pangapuramu kanggo ibu ben ibu mu enteng nek arep ninggalno donya iki saikine..” (gimana nduk? Kalau kalian semua berat hati, nggak apa-apa bapak nggak maksa. Nggak harus menemuinya, tapi maafkanlah ibu mu biar ibu mu ringan kalau harus meninggalkan dunia ini sekarang)
“piye mbak? Aku manut kowe..” ucap Hanum. (bagaimana mbak? Aku ngikut kamu)
“pak.. mena-wi Hanna p-pe-ngen ngertos alesane i-bu lungo biyen niko angsal mboten?”
Hanna tergugu, ia hampir tak bisa menyelesaikan perkataannya karena tercekat. (pak.. misal Hanna ingin tahu alasan ibu dulu pergi boleh nggak?)
“oleh nduk, legakno atimu ning bar kui bapak njaluk lapangno atimu, jembarno pangapuramu kanggo ibu mu.” (boleh nduk, legakan hatimu tapi setelah itu bapak minta lapangkan hatimu, luaskan maafmu untuk ibu mu..)
Setelah percakapan panjang yang penuh haru dan diakhiri dengan kesepakatan akan menjenguk si ibu di Magelang esok hari. Bapak yang masih menyimpan beberapa kekhawatiran tentang anak sulungnya. Bapak segera menghubungi Hanif namun tidak ada jawaban, lalu ia mengirim pesan dan tidak ada balasan.
Sedangkan Hanna dan Hanum masih melanjutkan isak tangisnya di dalam kamar. Perasaan mereka bercampur, rindu, marah, kecewa dan sedih. Hanna sudah merangkai kata di dalam pikirannya untuk menggempur sang ibu
dengan pertanyaannya.
****
Bersambung..
__ADS_1
Mohon Maaf jika ada kesalahan dalam pengejaan bahasa jawa ataupun salah arti..
Jangan lupa dukungannya ya..