
Malam pertama sang pengantin di isi dengan kebisuan. Setelah tadi keduanya hanya bicara seperlunya kembali membisu dikala malam sudah datang menyambut menyingkirkan senja yang di hiasi lembayung. Kini berganti dengan kegelapan dan kesunyian.
" Ainun..." Akhirnya satu suara terdengar di sebuah kamar yang sejak tadi terasa sunyi.
" Iya kak? " Ainun mengangkat wajahnya perlahan memberanikan diri menatap pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Hanya sekilas dan kemudian menunduk lagi.
" Maaf, aku melihatmu sepertinya tidak nyaman, apa kita kembali saja ke rumah?." Arby akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya dia melihat Ainun yang terlihat gelisah tidak menikmati suasana di sini karena hanya terus terdiam dan menunduk. Arby paham bahwa Ainun adalah perempuan yang menjaga diri dan mengetahui batasan interaksi dengan lawan jenis. Namun Arby menangkap sesuatu yang lain dari diri Ainun. Tadi pun ketika resepsi pernikahan Ainun terlihat biasa saja dan tak terlihat bahagia di balik senyumannya, terlihat seperti dibuat-buat dan itu mengganjal di hati dan pikiran Arby. Apakah ada seseorang yang Ainun sukai...jika ya itu menjadi sebuah ketakutan untuk Arby. Namun untuk bertanya pun terlalu sungkan.
__ADS_1
Ainun hanya diam tertunduk, kalau kembali sekarang dia pun akan di cerca banyak pertanyaan, namun disini pun merasa canggung. Namun Ainun kembali meneguhkan hatinya bahwa ini adalah pilihannya dan dia tidak ingin mempermainkan pernikahan ini.
" Pulang sekarang, kenapa? Nanti akan banyak pertanyaan yang akan muncul di keluarga. Akhirnya Ainun menjawab. Arby pun mengangguk membenarkan perkataan Ainun.
" Baiklah, mari kita mulai dari awal. Kita akan belajar mengenal satu sama lain. Anggap saja kita baru bertemu sekarang dan harus saling mengenal. " Akhirnya Arby memutuskan untuk memulai lembaran baru tanpa mengingat lagi kenangan yang lama. Ainun pun mengangguk dan mengangkat wajahnya, bibirnya tersenyum tipis menatap Arby untuk yang pertama kalinya dengan waktu yang lama. Seolah menelisik kesungguhan pria yang ada di depannya.
" Maaf, jika Ainun melupakan kak Arby, tapi memang Ainun berjalan terus ke depan bukan tidak ingin mengingat masa lalu namun bukankah kita tidak diperbolehkan memikirkan lelaki yang bukan mahramnya. Bukan...bukan benar-benar lupa karena setelah bertemu kak Arby kenangan masa kecil kita kembali hadir dalam ingatanku. Sekali lagi maaf. Dalan hati Ainun banyak mengucap istighfar karena kenyataannya dia selama ini mempunyai pengharapan pada seseorang yang bukan mahramnya.
__ADS_1
" Aku sebagai seorang istri mempunyai kewajiban untuk patuh pada suamiku, aku pun akan mencintai siapapun yang akan menjadi suamiku karena itulah aku tidak pernah membaca CV kak Arby sebelumnya. Aku menyerahkan semua keputusan pada Abi dan Umi karena begitu yakin pada mereka akan mengambil keputusan yang terbaik untuk anaknya." ' Aku begitu takut bahkan menjadi pengecut dan merasa berdosa karena berharap pada seseorang yang bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.' Ainun berkata dalam hatinya
" Baiklah, tak apa." Arby kembali merebahkan diri setelah tadi kembali duduk mendengarkan dengan seksama perkataan dari sang istri.
" Jika begitu tidurlah bersamaku, karena aku tidak ingin menjadi seorang istri durhaka yang membiarkan suaminya tidur tidak nyaman." Arby menoleh cepat tak percaya apa yang dikatakan istrinya barusan. Namun pendengarannya masih sangat jelas bahwa barusan Ainun mengajaknya tidur bersama. Walaupun mungkin hanya tidur dalam artian yang sebenarnya tapi sudah kemajuan yang terlalu baik menurut Arby. Semoga ini menjadi awal yang baik gumam Arby.
Akhirnya pasangan pengantin pun tidur bersebelahan, keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar yang putih sampai akhirnya terdengar dengkuran halus sang suami. Ainun pun menoleh dan benar Arby sudah terlelap tanpa selimut..Ainun pun bangun dan mengambil selimut dan memakaikannya pada tubuh Arby, dia pun berusaha terlelap memunggungi sang suami matanya berusaha dia pejamkan hatinya terus berpikir dan melantunkan doa-doa dan harapan kembali meyakinkan diri bahwa inilah yang terbaik untuk semuanya dan juga dirinya. Walau bagaimana pun kini dia seorang istri dari seorang suami yang begitu mencintainya maka tak sepantasnya dia masih mengharapkan seseorang yang bukan siapa-siapa untuknya. Walaupun belum bisa sepenuhnya melupakan namun Ainun akan tetap berusaha. Tak mau membuat kecewa semua orang terutama kedua orangtuanya.
__ADS_1
Happy reading 💜💜
Jangan lupa likenya ya. Terimakasih