
Gerimis hadir di pagi hari terasa sangat menyejukkan. Ini memang sudah mau memasuki musim penghujan dimana para pekerja di kebun tidak harus menyiram tanaman-tanaman yang mereka tanam, tapi jika hujan sudah mulai turun lebat terus menerus tidak bagus juga beberapa tamanan buah tentunya jika sedang berbuah maka buahnya akan berkurang rasa manisnya.
Ayu terlihat sibuk di dapur bersama Aluna menyiapkan sarapan seadanya, karena rencana pagi ini mereka ingin joging sekalian sarapan di warung bubur dekat komplek perumahan. Buburnya cukup laris karena setiap pagi ketika membelinya harus antri dahulu. Namun karena hujan turun pagi ini bahkan dari sejak subuh tadi membuat penghuni rumah enggan untuk keluar mereka memilih bercengkrama sambil menikmati pisang goreng hangat dan juga teh. Untuk mengganjal perut kata Reno, karena sarapan yang tertunda.
setengah jam kemudian Ayu dan juga Aluna sudah meyelesaikan masakan mereka. Nasi goreng ala-ala katanya, dengan bahan yang tersedia di kulkas.
Mereka pun makan dengan lahap, karena apapun yang dimasak Mamanya mereka akan selalu menyukainya.
Disuapan terakhir Arby buru-buru mengunyah dan langsung meneguk air minum. Dia terlihat berkeringat padahal cuaca sedang dingin pagi ini.
" Pa, Ma... Kakak Mau ngomong sesuatu.. " Katanya menggantung kalimat yang akan dia bicarakan.
Semua orang yang ada di sana menatapnya kecuali Zaidan karena dia tahu apa yang akan adiknya itu bicarakan pada kedua orang tuanya. Tadi pagi setelah shalat subuh Arby mengatakan akan melamar Ainun dan pagi ini akan mengatakannya pada Mama dan Papa. Adiknya itu sudah mengambil keputusan untuk masa depannya dan Zaidan pun mendukung itu.
" Apa. sih kak, bikin kita penasaran aja. " Aluna sudah tidak sabar karena kakaknya malah terlihat gugup.
" Ini tentang masa depan aku Pa, Ma." Reno dan Ayu mulai fokus pada Arby sepertinya mereka berdua pun menunggu apa yang akan di bicarakan Arby tentang masa depannya. Dan mereka mengira Arby akan melanjutkan S2 nya di luar negri seperti keinginannya waktu itu.
Arby menarik nafas dalam-dalam dan memikirkan apa yang akan dikatakannya pada kedua orang tuanya. Setelah merasa yakin Arby pun memulai untuk berbicara.
" Jadi gini Pa, Ma... Kalian tahu Ainun, yang dulu di pesantren itu saudaranya Bang Zaidan." Arby menunggu reaksi kedua orang tuanya yang tampak berfikir. Jelas mereka harus mengingat-ingat karena pertemuan keluarnya dengan gadis itu sudah berlalu cukup lama dan jika sesekali mereka datang ke pesantren pun tidak bertemu karena Ainun sedang menyelesaikan pendidikannya. Keluarganya pun tidak pernah ada yang membahas Ainun karena memang tidak ada hubungannya.
Cukup lama dan anggukkan kedua orang tuanya mewakili jawabannya untuk Arby bisa melanjutkan pembicaraannya.
" Aku mau melamarnya... " Sontak saja mereka kaget dengan apa yang dikatakan Arby, Aluna hampir saja menyemburkan makanannya dan Zaky yang biasanya diam tanpa kata pun terlihat menoleh pada kakaknya. Namun Ayu menyambut antusias keinginan sang putra walau sebenarnya dia mengharapkan Zaidan lah yang akan menikah terlebih dahulu, mengingat usianya yang sudah matang dan sudah pantas berumah tangga.
__ADS_1
" Ya Allah, ini kabar baik, kenapa gak pernah cerita jika kamu punya hubungan dengan anaknya ustadz Mukti?" Ini adalah kabar gembira bagi Ayu karena dia tahu sosok gadis yang bernama Ainun itu adalah sosok santun dan cerdas dalam pandangannya. Dia tidak mungkin tidak setuju anaknya menyukai gadis sebaik Ainun.
" Jadi Mama setuju? " tanya Arby.
Sang Mama pun mengangguk cepat.
" Setuju lah dia kan sudah tentu dia gadis yang baik. Mama kenal dia ketika kecil " Ucap Ayu sambil tertawa, karena hanya Ainun kecil yang terbayang dalam ingatannya.
"Papa? " tanya Arby pada Reno.
" Papa akan dukung apapun keputusan kamu asal itu baik dan kamu bisa mempertanggungjawabkan pilihan kamu kedepannya.
Arby pun mengangguk pasti.
" Alhamdulillah, in syaa Allah Pa. " Dengan dukungan keluarga terutama kedua orang tuanya membuat Arby lebih yakin dan percaya diri dengan keputusannya.
" Kapan, kamu akan melamar Ainun? " Ayu
" Secepatnya Ma, tolong bantu aku untuk mempersiapkan semuanya. Abang juga bantu aku ya Bang. " Arby menepuk lengan Zaidan.
" Pasti By, Abang akan membantu semampu abang. Bagaimana tidak Arby sudah seperti adik kandungnya sendiri dan keluarga ini adalah keluarnya juga.
" Mama akan sampaikan di grup keluarga besar. Semua pasti Heboh deh dengan berita ini. " Ucap Ayu antusias. Sedangkan Reno hanya menggelengkan kepalanya melihat antusias sang istri yang ingin segera punya mantu.
" Kamu jangan kalah Bang, coba pilih deh salah satu dokter apa perawat di rumah sakit, siapa tahu ada yang cocok. Apa jangan-jangan kamu sudah punya calon lagi dan tidak memberitahu Pap sama Mama? " Tanya Ayu pada Zaidan.
__ADS_1
" Tenang saja Ma, pasti Abang kenalkan jika sudah ada calonnya. " Ucap Zaidan sambil terkekeh. Yang sebenarnya menyembunyikan sebuah luka pada dirinya. Sedangkan Aluna menatap pria itu dan merasa ikut merasakan kesedihannya.
Dan Aluna memiliki sang Mama tidak suka.. ' Udah deh Ma, stop Abang itu jodohnya aku pake di suruh pilih dokter atau perawat pula. Ini loh Ma, putri Mama yang paling cantik yang akan mendampingi Abang nanti. " Ingin sekali Aluna berbicara seperti itu pada Mamanya namun hanya bisa terucap dalam benaknya saja. Sungguh dia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Abangnya sendiri.
Tiba-tiba saja ponsel Zaidan berdering, dari pun pamit meminta ijin untuk mengangkat telepon dan menjauh dari ruang makan. Namun suaranya masih terdengar jelas.
" Apa? "
"...... "
" Kenapa bisa? "
"..... "
"Baiklah aku akan segera ke sana. " Ucap Zaidan dan mengakhiri panggilannya dengan mengucapkan salam. Dia pun berjalan kembali ke ruang makan dimana semua anggota keluarga masih berada di sana walaupun sarapan sudah selesai sejak tadi. Semua mata menatapnya seakan-akan bertanya, telepon dari siapa, apa yang terjadi? begitulah kira-kira apa yang ada dibenak mereka.
" Pa, Ma... Abang pamit ke rumah sakit ada pasien yang mendadak drop. " Ucapnya tergesa. Namun langkahnya tertahan dengan suara Aluna.
" Bang aku ikut.. " Dan semua orang sontak menatapnya.
" Hari ini libur kan, aku ingin berkunjung ke sana, mau check up. " Katanya sambil berlalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Zaidan pun menunggu Aluna bersiap dengan gelisah.
" Ayo Bang... " Aluna sudah siap dengan pakaian tunik dan celana panjangnya serta tak lupa pasmina dengan warna senada dengan pakaiannya. Aluna sangat cantik dan terlihat seperti lebih dewasa jika memakai pakaian biasa, beda dengan ketika memakai pakaian sekolah membuat dia masih seperti anak- anak. Zaidan pun sempat terpana melihat adik kecilnya yang kini tumbuh sebagai seorang gadis cantik yang anggun dengan pakaian yang menutup auratnya.
happy readingπππππ
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan votenya ya jika berkenan. Terima kasih π